Selasa, 26 Mei 2009

ayat-ayat bias gender dalam surat An-Nisa

WACANA NASIONALISME RELIGIUS
DALAM NOVEL AL-YAUM AL-MAU’ŪD KARYA NAJĪB AL-KĪLĀNĪ
(Analisis Intertekstual)

MUHANDIS AZZUHRI

hands_azzuhri@yahoo.com
ABSTRAK
Wacana nasionalisme merupakan sebuah pemikiran sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Tak ada satupun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Najīb al-Kīlānī sebagai seorang novelis mesir, menggoreskan wacana nasionalisme dalam salah satu novelnya, yaitu al-Yaum al-Mau'ūd (1961). Studi ini dilakukan dengan memanfaatkan teori intertekstual dengan menggunakan suatu metode perbandingan dengan membandingkan unsur tema saja, yaitu muatan nasionalisme religius dengan beberapa literatur lainnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pemikiran nasionalisme religius menurut Najīb al-Kīlānī merupakan perpaduan pemahaman nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil), nasionalisme etnis, nasionalisme budaya, dan nasionalisme romantik.
Kata Kunci : Nasionalisme religius, Intertekstual, al-Yaum al-Mau'ūd,

الخلاصة
كانت الوطنيّة هي فكرة إجتماعيّة عجيبة فى مسيرة تاريخ الإنسان فى المائة سنة أخيرة, لا مكان إجتماعية فى مساحة الأرض خارجة من أثر هذا الإيديولوجى. بدون الوطنيّة, ستتغيّر حياة التاريخ الإنسان. و كتب أديب المصرى نجيب الكيلانى, إشاعة الوطنيّة فى قصّة "اليوم الموعود" (1961) و "النداء الخالد" (1969). وهذ البحث استخدام نظرية التناصية وطريقة المقارنة, والهدف هذا البحث كشف حقيقة علمية أنّ مفهوم الوطنيّة لا تتعارض مع مغهوم الدين. من البحث السابق, عرفنا أنّ مفهوم الوطنية الدينية من نجيب الكيلانى فى القصّتين غير نتيجة فكرة الغربية علمانية ولكن إنتاج مبدأ ميثاق "مدينة" على رئاسة محمّد صلى الله عليه وسلّم, والدولة الوطنية "مدينة" لا تهدف غلى رابطة الدينية والعرقية والقبيلة والحزب ولكن عن نتيجة وحدة السياسة والوحدة الفكرة أنّ الشخص المتحمّس بالوطنية قادرة تطبيق مفهوم الدين دون إضاعة حماسة الوطنية.
الكلمة الدليلية: الوطنيّة الدينيّة, نظريّة التـناصية, اليوم الموعود, النداء الخالد



PENDAHULUAN
Novel al-Yaum al-Mau’ūd menceritakan tentang sejarah perang salib yang ke-7. Perang yang terjadi karena serbuan pasukan Eropa di bawah pimpinan Raja Louis IX (Santo Louis) dari Perancis ke Mesir, khususnya ke kota Manshūrah dan Dimyāth pada tanggal 4 juni 1249 M (Al-Kīlānī, 1961:41). Mesir ketika itu masih dikuasai dinasti Ayyūbiyah dengan rajanya Mālikush-Shālich Najmuddīn Ayyūb yang memerintah dari tahun 1238-1240 M (Bosworth, 1993:84). Di samping itu, novel al-Yaum al-Mau’ūd ini juga menceritakan akhir dinasti Ayyūbiyah yang memerintah Mesir dari tahun 1193-1260 M. Kemudian diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan resimen budak (Mamlūk) dengan membunuh penguasa terakhir dinasti Ayyūbiyah, yaitu al-Mālik Al-Mu’azhzham Tūrān Syāh yang memerintah hanya satu tahun dari tahun 1249-1250 M (Lapidus, 1999:547, 550).
Tema nasionalisme yang menjadi sentral pokok novel al-Yaum al-Mau’ūd ini dianalisis dengan menggunakan teori intertekstual, karena pada dasarnya prinsip intertekstual memandang bahwa setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain, tidak ada sebuah tekspun yang sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, dan kerangka. Tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladani teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan penting dan pemahaman teks baru memerlukan latar belakang pengetahuan tentang teks-teks yang mendahuluinya (Teuww, 1984:145-146).
Julia Kristeva dalam (Culler, 1977:139) mengemukakan bahwa setiap teks merupakan mosaik kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain. Dengan demikian, sebuah karya sastra hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan teks-teks lain.
Teori intertekstual ini berasal dari Perancis dan bersumber dari aliran strukturalisme Perancis yang dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Perancis Jaques Derrida dan dikembangkan pertama kali oleh peneliti Perancis Julia Kristeva (Ratih, 1994:125).
PEMBAHASAN
A. Biografi dan Karya Najīb al-Kīlānī
Najīb al-Kīlānī nama lengkapnya Najīb bin Ibrahīm bin Abdul Lathīf Al-Kīlānī, lahir di desa Syarsābah, propinsi Gharbiyyah, Mesir pada bulan Muharram 1350 H atau 10 Juni 1931 M. Najīb Al-Kīlānī mempunyai 3 anak lelaki dan 1 anak perempuan hasil pernikahannya dengan Karīmah Syāhīn pada tahun 1960 yang merupakan saudara kandung dari sastrawan Mesir Nafīsah Syāhīn. Mereka adalah Dr Jalāl, Ir. Hisyām, Mahmūd seorang pengacara dan Dr. Izzah.
Ketika berusia delapan tahun, al-Kīlānī memasuki sekolah di Syanbat. Kemudian meneruskan belajar di Sekolah Menengah Atas di kota Thānthā selama 5 tahun karena di Thānthā tidak ada Sekolah Menengah Pertama. Begitu tamat Sekolah Menengah Atas di Thānthā, Al-Kīlānī meneruskan studi di Fakultas kedokteran Universitas Fuād al-Awwal. Walaupun sebenarnya, Al-Kīlānī lebih suka kuliah di fakultas sastra atau hukum, akan tetapi ayahnya menghendakinya untuk masuk fakultas kedokteran. Semasa menjadi mahasiswa, Al-Kīlānī pernah masuk penjara bersama kelompok Ikhwānul Muslimīn selama tiga tahun dan menyelesaikan kuliahnya setelah keluar dari penjara.
Al-Kīlānī semasa muda termasuk kutu buku, khususnya majalah-majalah sastra, seperti majalah Al-Risālah, al-Tsaqāfah, Al-Hilāl, dan sebagainya. Dari beberapa majalah tersebut, Al-Kīlānī banyak mengetahui para sastrawan besar diantaranya Sayyid Quthub, Musthafā Shādiq Ar-Rāfi′ī, Abbās Mahmūd Al-Aqqād, Al-Mazani, Al-Manfalūthi, Thāhā Husain, dan Taufīq Hakīm. Selain itu, Al-Kīlānī juga banyak membaca beberapa novel dunia dan Arab juga beberapa kumpulan puisi dari beberapa penyair, seperti Mutanabbī, Syauqī, dan Hāfizh Ibrāhīm.
Abdul Fattāh, paman dari bapaknya yang mempengaruhi Al-Kīlānī untuk membaca buku-buku novel karya Al-Manfalūthi, diantaranya berjudul Al-Nazharāt (linangan air mata), Magdalena, dan beberapa buku novel karya Al-Rāfi′ī, seperti Wahyu al-Qolam, Al-Masākīn, dan Awrāq al-Warad, buku-buku sastra karya Syauqī dengan karya teaternya serta buku-buku karya Thāhā Husain.
Pada tahun 1967 M/1387 H, Al-Kīlānī hijrah ke Kuwait dan bekerja di sana, kemudian pindah ke Dubai. Setelah berganti jabatan serta pekerjaan, akhirnya menjadi Direktur Kementrian Kesehatan untuk Uni Emirat Arab. Al-Kīlānī juga merupakan salah satu anggota lembaga kesenian untuk negara-negara Teluk. Al-Kīlānī pun aktif dalam berbagai seminar sentang kesehatan dan sastra.
Pada tanggal 08 Juli 1955 bersama kelompok Ikhwān, Al-Kīlānī divonis penjara selama sepuluh tahun oleh rezim Jamāl Abdun Nāshir. Namun pada akhir tahun 1958/1387 H, Al-Kīlānī dibebaskan dari penjara. Pada tahun 1965, ia dijebloskan lagi ke penjara selama hampir dua tahun dan dibebaskan pada tahun 1967. Dengan demikian, Al-Kīlānī di penjara yang pertama kali selama 3 tahun dan kali kedua selama 1 tahun beberapa bulan (Al-'Arīnī, 1989:12-15).
Al-Kīlānī menulis kurang lebih 59 buku-buku sastra dan kedokteran, di samping beberapa makalah yang tersebar di beberapa majalah Islam dan sastra. Tetapi tidak semua hasil-hasil karya sastranya dapat sampai ke tangan pembaca atau hilang karena beberapa faktor. Ini dimungkinkan karena latar belakang Najīb Al-Kīlānī sebagai seorang sastrawan yang ikut golongan Ikhwān sebagai gerakan yang dianggap illegal, diantara karyanya yang hilang adalah novel Al-Zhzillu al-Aswad yang menceritakan tentang kaisar Ethiopia yang bernama Helasilasi. Novel ini telah ditarik dari peredaran selama beberapa tahun. Padahal karya sastra tersebut merupakan karya yang tak ada duanya dari semua karya sastranya, tetapi kemudian dicetak lagi walaupun ada beberapa novelnya yang ditarik dari peredaran dan ditolak untuk diterbikan kembali, yaitu Lail al-Khathāya.
Pengalamannya bergaul bersama kelompok Ikhwānul Muslimīn dan hidupnya di penjara mempengaruhi terhadap beberapa karya sastranya diantaranya novel, cerpen, dan beberapa buku ilmiahnya, diantaranya buku Syauqī fī Rakbi al-Khālidīn (buku ini menerima penghargaan dari Kementrian dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M /1377 H), buku Iqbāl Al-Syā′ir (menerima penghargaan dari Kementrian dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M /1377 H), novel Al-Tharīq al-Thawīl (novel ini mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir pada tahun 1957 M/1376 H), novel ′Adzrā Jakarta (Perawan Jakarta), novel Fi al-Zhalām (Novel ini mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M/1377 H) novel Mamlakah al-Bal’ūthi, novel Qātil Hamzah, novel Ahlu al-Humaidiyah, novel Amīrah al-Jabal, novel Al-Rajul alladzī āmana, novel Qishshah Abul-Futūh Al-Syarqāwī, novel Lail wa Qadhbān, novel Lail al-Khathāya, novel Nūrullāh, novel Umar Yazhharu fi al-Qudsi, cerpen Dumū'u al-Amīr, cerpen Hikāyah Thabīb, cerpen 'Inda al-Rahīl, cerpen Fāris Hawāzin, cerpen Mau'idunā Ghadan (Cerpen ini menerima medali emas dari festifal Thāhā Husain pada tahun 1959 M/1379 H), dan karya terakhirnya adalah Malikah al-′Inab, I′tirafāt Abdu al-Mutajallī, Imra‘ah Abdu al-Mutajallī, dan Hikāyah Jādullāh.
Di hari-hari terakhirnya, al-Kīlānī telah menyelesaikan pertunjukan teater berjudul “Habībī Sarajevo”. Teater ini tidak pernah mendapatkan tanggapan dan perhatian dari para pembaca dan kritikus sampai sekarang. Pementasan teater ini menceritakan tentang kejadian tragis di Bosnia-Herzevonia, yaitu pembersihan etnis.
Novelnya “Lail wa Qadhbān” termasuk dari rangkaian novel “Lail al-′Abīd” yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “selingkuh” kemudian dijadikan film dan memenangkan medali pertama dalam festifal film Tasqend pada tahun 1964 M. Demikian juga novel ‘Lail al-Ma’ūd” yang difilmkan hasil kerja sama Televisi Mesir dan Lybia pada bulan Ramadhān tahun 1973 M dengan judul filmnya “Yāqūtah Malhamah al-Hub wa al-Salām” (Yaqutah simbol cinta dan perdamaian).
Beberapa karyanya yang dipastikan hilang dan tidak sampai kepada pembaca, diantaranya adalah novel Ibtisāmah fi Qalbi al-Syaitān, novel Ardhu al-Asywāq, novel Amīrah al-Jabal, novel Al- Rāyah al-Suwad, novel ′Adzrā al-Qaryah, novel Al-Ka'su al-Fārighah, novel Liqāu 'inda Zamzam, novel Lail al- 'Abīd, novel Yaumiyāh al-Kalbi Syamlūl, dan cerpen Al-'Ālam al- Dhayyiq (http://ar.wikipedia.org/wiki/12 Mei 2007).
Pada tanggal 5 Syawal 1415 H atau bertepatan dengan tanggal 6 Maret 1995 M, Al-Kīlānī dipanggil Allah Swt. Namanya akan selalu dikenang oleh komunitas sastra Mesir, Arab, dan komunitas dunia.

B. Nasionalisme Religius dalam Novel al-Yaum al-Mau’ūd
Ungkapan nasionalis religius yang terdapat dalam novel al-Yaum al-Mau’ūd ini diungkapkan melalui beberapa tokoh utama yang mendasari jalannya cerita, seperti halnya perkataan Baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb seorang penguasa Mesir di tahun 1249 M kepada permaisurinya Syajaratuddur berikut ini:
ليس مجرّد الرغبة فى المجد والبطولة هو الذى يدفعنى ويحركنى, إنّ أول شيء أفكّر فيه هو أن أجمع هذه الممالك الصغيرة المتنافرة....إنّ مصر والشام وماجاورهما أمّة واحدة, وبقاؤهم على هذه الصورة من التمزق والتشتت أمر يدعو إلى الأسف والحزن..لهذا تريننى أحلم باليوم الذى تجتمع فيه كلمة هذه الأمّة (الكيلانى, 1961: 10-11).
’Bukan hanya keinginan akan kemuliaan dan kepahlawanan yang mendorongku serta menggerakanku. Pertama-tama yang aku pikirkan adalah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang bercerai-berai ini Mesir, Syria, dan daerah sekitar adalah satu bangsa. Membiarkan mereka dalam keadaan terpecah-belah dan bercerai-berai adalah hal menyedihkan. Oleh karena itu, engkau melihatku bermimpi bahwa suatu hari nanti umat ini akan bersatu.’

Kutipan di atas menceritakan baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb sedang istirahat liburan panas dalam istananya yang berada di Damaskus, Syria. Ungkapan seorang raja yang mendambakan adanya satu kesatuan dan persatuan bangsa yang terdiri dari beberapa suku dan kerajaan-kerajaan kecil dalam lingkup kekuasaannya. Baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb tidak menginginkan kerajaan-kerajaan kecil yang telah dikuasainya tersebut tercerai berai dengan melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan melepaskan diri dari kekuasaannya. Keinginan baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb untuk mempersatukan negara-negara sekitar Mesir menjadi satu wilayah nation-state merupakan suatu bentuk nasionalisme karena pengertian nasionalisme menurut International Encyclopedia of Social Science adalah suatu ikatan politik yang mengikat kesatuan masyarakat modern dan memberi pengabsahan terhadap klaim (tuntutan) kekuasaan (Yatim, 1985:62-63). Agar dapat merealisasikan rasa kebangsaan atau nasionalismenya, baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb Najmuddīn Ayyūb menunjukkan dengan kata-kata الرغبة فى المجد والبطولة (keinginan akan kemuliaan dan kepahlawanan). Pernyataan ini selaras dengan ungkapan sebuah pepatah Arab yang berbunyi عش كريما أو مت شهيدا‘Hiduplah yang Mulia atau Matilah Shahid’
Penyebutan kata الأمّة (umat) oleh baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb Najmuddīn Ayyūb dalam kutipan teks di atas mempunyai arti perseorangan, komunitas muslim, manusia secara umum, dan menunjuk kepada makna semua makhluk hidup (Siradj, 2001:61-62). Lebih tepatnya, umat dalam teks di atas mempunyai arti manusia secara umum. Dalam pengertian negara-kebangsaan ”umat” yang dimaksud adalah rakyat. Umat yang dimaksudkan bukan hanya pada rakyat Mesir, melainkan semua rakyat di sekitar Mesir. Sebab nasionalisme pada waktu tersebut belum dalam pengertian sebenarnya sebagai satu kesatuan dalam nation-state, melainkan masih terdiri dari berbagai suku dan kerajaan-kerajaan kecil sehingga yang digunakan adalah kata umat. Ini selaras dengan teks Alquran berikut:
كان الناس أمّة واحدة فبعث الله النبيّين مبشّرين ومنذرين (البقرة: 213)
’Manusia itu merupakan satu ummat, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan (Qs Al-Baqarah:213).

Kata umat disebutkan juga dalam Piagam Madinah (Watsīqah Al-Madīnah) yang artinya sebagai berikut:
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Nabi Muhammad Saw antara orang-orang mukmin dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib: Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah) yang berbeda dengan orang-orang lain.(http://www.gaulislam.com/islam-dan-nasionalisme/14 August 2006).
))كلاّ يا مولايا....إنّ العدو القادم من الغرب يريد أن يحتلّ بيت القدس والشام فى حقيقة الأمر, ومن ثم أراد أن يضرب مصر لأنها قلعة الشرق, وحصن الملة الحصين, ومعنى ذلك يامولاي أن الغزاة الصليـبـيـّين لن يتركوا أميرا من أمراء المسلمين فوق عرشه. إنّه عدوان على الجميع.... (الكيلانى, 1961: 23)
”Tidak Baginda. Pada dasarnya musuh lama dari Barat ingin menguasai Baitul Maqdis dan Syria. Oleh karena itu, mereka ingin menyerang Mesir karena Mesir adalah benteng Timur dan benteng agama yang kuat. Artinya Tuanku, orang-orang Salibis tidak akan membiarkan penguasa-penguasa Muslim berada di atas tahtanya. Barat adalah musuh semua orang.”

Kutipan di atas merupakan jawaban permaisuri Syajaratuddur terhadap baginda Mālik al- Shālih agar meyakinkannya untuk kembali ke Mesir disebabkan keraguan Baginda adanya rasa kekhawatiran terjadinya pemberontakan dalam negeri pasca datangnya surat dari Frederik II, Raja Jerman tentang gerakan pasukan Eropa di bawah pimpinan Raja Louis IX dari Perancis ke Mesir yang sudah mencapai perairan Cyprus dan akan mendarat di pantai-pantai utara Mesir.
Kata الغرب (barat) pada teks di atas secara geografis menunjukkan pada arah suatu tempat. Secara semiotik, dipahami sebagai penanda atau petanda suatu bangsa atau benua tertentu, yaitu Eropa karena sebenarnya kata ”Eropa” itu sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab berasal dari kata ”Ghuraba” bermakna ”orang-orang asing” atau ”Gharb” bermakna ”Barat”. Jadi, kata ”Eropa” sudah merujuk pada kata ”Barat” karena kata tersebut merupakan ucapan orang Arab terhadap orang-orang asing yang berambut pirang dan berasal dari sebelah barat jazirah Arab itu sendiri.
Jawaban permaisuri Syajaratuddur tersebut merupakan bentuk sentimen nasionalisme tertutup karena sudah mendikotomi dunia dalam dua kutub berlawanan, yaitu Barat-Eropa-Kristen dan Timur-Mesir-Islam. Menurut Kohn dalam (Dardiri, tt:16) ia menyatakan bahwa nasionalisme tertutup menekankan pada karakter bangsa yang asli, asal-usul ras maupun darah atau keturunan dan akar dari negeri leluhur. Dengan kata lain, nasionalisme tertutup menekankan ’biological or historical determination’ dan salah satu cirinya adalah kemurnian rasial (racial purity). Jawaban permaisuri Syajaratuddur bisa juga dikatagorikan sebagai bentuk ekspresi nasionalisme religius, yaitu bentuk nasionalisme terhadap tanah airnya didasarkan pada persamaan agama. Walaupun dalam praktiknya, nasionalisme ini dicampuradukkan dengan nasionalisme etnis yang menekankan pada ras dan etnis tertentu, yaitu Arab vs Eropa.
Tokoh utama novel lainnya adalah Adnān bin Mundzir karena ia lebih mementingkan perjuangan untuk kepentingan negara dan agamanya daripada kepentingan pribadinya dengan menuntut balas pada sosok penguasa yang telah menzaliminya, yaitu Turān Syāh sebab Turān Syāh telah memenjarakannya dan menangkap kekasihnya, yaitu Zumrudah untuk dijadikan sebagai tawanan. Bentuk nasionalisme Adnān ditunjukan pada kutipan berikut
الغبار المثار ينتشر فى الأفق, والناس يتدافعون كالسيل الجارف الذى لا يوقفه سد, ولا يمنعه من التدفق مانع, إنها إرادة شعب, يأنف من العبودية, ولايسلّم للفرنجة الغاصبين بما يريدون, شعب يعتز بفضيلة الكرم والصبر إلى حد الإغراق والتطرف, لكنه عند ما يعلن كلمته, ويملى إرادته, تذوب أمامه كل العواثق, وتحطم كل العقبات..وأخذ عدنان يتلفت يمنة ويسرة, باحثا عن القيادة التى تقود هذه الجماهير التى وفدت من أقاصى البلاد العربية ومن مدن الشام والحجاز والمغرب وغيرها, فلم يجد غير كتل بشريةلا ينحسر مدّها, ولم يجد ملكا على رأسه تاج, أو قائدا فى يده صولجان, وغمغم عدنان وقد أخذته روعة المنظر, وأهاجت فى روحه حمية عربية صميمة صحيحة. (الكيلانى, 1961 : 57)
‘Debu-debu beterbangan di angkasa. Rakyat bergerak bagaikan banjir bandang yang tidak terbendung dan terhenti oleh bendungan maupun tanggul. Itulah kehendak rakyat, yang membenci perbudakan dan tidak akan menyerahkan apa yang pasukan Perancis inginkan. Rakyat sangat mengagungkan harga diri dan kesabaran, tapi ketika perjuangan mempertahankan negara dikumandangkan dan memenuhi kehendak rakyat, semua tantangan yang menghadang menjadi luluh dan hancur. Adnān bin Mundzir mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari panglima yang memimpin rakyat yang datang dari wilayah-wilayah Mesir, Syria, Arab Saudi, Maroko, dan lain sebagainya. Namun Adnān bin Mundzir tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya gerombolan manusia yang tidak terhitung jumlahnya. Ia tidak melihat raja dan mahkotanya di kepalanya atau panglima dan tongkat kebesarannya. Adnān berkata sementara ia telah terpesona oleh pemandangan yang ada di sekelilingnya. Jiwanya terbakar oleh semangat patriotisme Arab yang murni’.

Kutipan di atas merupakan bentuk patriotisme yang tumbuh dalam diri seorang Adnān bin Mundzir khususnya dan rakyat Arab pada umumnya sebagai bentuk patriotisme religius sebagaimana dikatakan oleh Sa′ad Zaghlūl, tokoh kemerdekaan Mesir pada tahun 1919 M. Sa′ad Zaghlūl mengatakan bahwa motto dari gerakan nasionalisme religius ialah patriotisme yang diartikan cinta kepada tanah air. Slogannya yang terkenal "Agama untuk Tuhan dan Negara untuk Rakyat" (Noer, 1993:95).
Senada dengan itu, Kohn (dalam Dardiri, tt :16) mengatakan bahwa patriotisme merupakan bentuk nasionalisme terbuka, yaitu cenderung ke arah kebersamaan dalam relasi-relasi dan basisnya adalah suatu masyarakat politis yang merupakan bangsa yang para warganya negaranya terlepas dari keturunan etnis maupun ras. Bukan pemahaman nasionalisme tertutup atau sempit yang menekankan karakter bangsa yang asli, asal usul ras maupun darah atau keturunan dan akar dari negeri leluhur.
Pemikir Inggris Richard Aldington (dalam Wardaya, 2002:42) mengatakan bahwa nasionalisme sering dipahami secara sempit sebagai sesuatu yang mutlak dan harus dibela mati-matian walaupun keliru sebagai gantinya digunakan istilah patriotisme bukan nasionalisme. Patriotisme menurutnya, adalah suatu rasa tanggung jawab kolektif yang hidup (a lively sense of collective responsibility) yang tentunya dibutuhkan dalam setiap bentuk kehidupan bersama pada tingkat lokal maupun internasional.
Bentuk nasionalisme religius Adnān ini tumbuh dalam dirinya untuk membela negaranya karena melihat banyak rakyat dari beberapa negara Arab ikut berjuang ke Mesir yang justru bukan merupakan batas wilayah geografis negaranya, sebagaimana dipahami dalam pengertian nasionalisme kenegaraan. Mereka ikut berjuang bukan karena seruan dari para panglima ataupun raja. Inilah bentuk rasa tanggung jawab kolektif yang hidup pada diri rakyat berdasarkan nasionalisme etnis sesama bangsa Arab dan nasionalisme agama sesama agama Islam. Bahkan, menurut Nuseibeh (1969:25) nasionalisme Arab beranggapan bahwa seluruh warisan Islam asal dalam bahasa Arab dan timbul dalam lingkungan Arab adalah warisan Arab pula.
قال: أعنى ما رأيك فى عتقها؟
أتريد أن تعتقها؟
ولم لا؟؟ إنّـهـا إنسانة نبيلة وحرام أن نسلها حريتها ((الكيلانى, 1961: 31)

“Maksudku, bagaimana pendapat Ibu untuk membebaskannya?”.
Apakah kamu ingin memerdekakannya?”
“Kenapa Tidak? Zumrudah adalah seorang manusia yang mulia dan kita tidak boleh merampas kebebasannya.”

Kutipan di atas merupakan dialog antara Adnān bin Mundzir dengan ibunya berkaitan dengan budaknya yang bernama Zumrudah. Walaupun perbudakan telah dihapuskan dalam sistem hukum Islam sejak era nabi Muhammad Saw tetapi prakteknya masih dilakukan masyarakat Arab sampai akhir abad XX sekarang ini. Perbudakan merupakan bentuk dehumanisasi, diskriminasi rasial, dan pelanggaran hak asasi manusia terbesar dalam sejarah manusia.
Permohonan Adnān kepada ibunya untuk membebaskan Zumrudah dari perbudakan dan harapan Adnān agar Zumrudah menjadi manusia merdeka merupakan bentuk paham nasionalisme yang anti kolonialisme. Adnān menganggap bahwa perbudakan tersebut merupakan kolonialisme terhadap diri orang lain, maka Zumrudah harus merdeka agar terbebas dari imperialisme manusia terhadap manusia yang lain. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip nasionalisme, yaitu kesatuan (unity), kebebasan (liberty), persamaan (equality), kepribadian (personalism), dan hasil usaha (performance) (Kartodirdjo, 1994:43).
إنّه إنسان, والإنسان الحقّ هو الذى يصهر آمله الكبرى- التى تتعلق بوطنه- مع آمله الفردية فى بوتقة ذاته, لكن إذا ما خيّر بين الإثنين, دفعته قيمه السامية ومبادئه الوطنيّة لأن يكون ابن قومه, وحارس مجتمعه, والمضحّى فى سبـيله بنفسه وآمله (الكيلانى, 1961: 200).
‘Ia (Adnān) adalah manusia dan manusia yang baik adalah yang meleburkan cita-cita besarnya yang berhubungan dengan tanah tumpah darahnya bersama harapan pribadinya dalam satu bejana. Akan tetapi, kalau ia harus memilih di antara dua hal ini, maka nilai-nilai agung kepatriotan pasti akan mendorongnya. Karena, ia adalah putra bangsa dan pengayom rakyatnya sehingga ia harus mengorbankan dirinya sendiri dan harapan dirinya’

Kutipan di atas merupakan bentuk aksi spontanitas Adnān ketika banyak melihat orang-orang berduyun-duyun maju ke medan perang menghadapi pasukan Perancis. Rasa kecintaan Adnān terhadap tanah air dan agamanya mengalahkan rasa cintanya kepada Zumrudah dan perasaan dendamnya kepada Tūrān Syāh dengan memilih pergi ke medan tempur di Mansyūrah. Sentimen nasionalisme yang terdapat dalam diri Adnān dan rakyat Mesir pada umumnya merupakan bentuk sentimen nasionalisme religius karena memperjuangkan agamanya, dirinya atau hak asasinya, kehormatannya serta hartanya dari kolonialisme universal yang dilakukan oleh pasukan Eropa di bawah pimpinan Perancis.
Menurut Badri Yatim (1985:71) apapun bentuk kolonialisme tidak pernah mau menerima pernyataan bahwa semua orang diciptakan Tuhan sama bahwa semua manusia dianugerahi oleh Penciptanya dengan beberapa hak tertentu yang tak bisa dicabut, di antaranya: hak hidup, hak akan kemerdekaan, dan hak untuk mewujudkan kebahagiaan. Kebebasan, persamaan, dan kebahagiaan merupakan kebenaran-kebenaran yang harus ada pada setiap indifidu tanpa mengharuskan asas-asasnya sendiri, artinya terwujudnya kemuliaan dan kehormatan seseorang jika hak asasinya terpenuhi. Lebih lanjut Badri Yatim (1985:82-83) menyatakan dengan mengutip pernyataan Bung Karno bahwa nasionalisme adalah sama dengan rasa kemanusiaan, nasionalisme dalam kelebaran dan keluasannya memberi tempat cinta pada lain-lain bangsa. Nasionalisme merupakan perkakas Tuhan dan membuat manusia hidup dengan ruh. Dengan nasionalisme ini, maka semua manusia merupakan bagian daripada manusia yang punya hak hidup, hak merdeka, dan hak untuk mewujudkan kebahagiaan.
وعمغم عدنان فى حزن: إذا لم يقض على توران شاه, فوداعا أيتها الحرية, ووداعا أيتها السعادة وأيها الشمم...أليس فى الناس من تأخذه نخوته, ويدفعه حبه لوطنه..؟ (الكيلانى, 1961: 170)

’Adnān bergumam, ”kalau dia tidak menghabisi Tūrān Syāh, ia akan mengucapkan selamat tinggal kebebasan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Tidakkah ada di antara manusia yang nekat menghabisi orang sombong ini karena cintanya terhadap negerinya?’

Kata-kata Adnān akan kebebasan, kebahagiaan, dan kemuliaan dari kutipan di atas adalah wacana nasionalisme modern yang diambil dari pokok-pokok isi Declaration of Independence USA dari Thomas Jefferson, Amerika Serikat yang mengandung prinsip-prinsip nasionalisme yaitu persamaan, kemerdekaan, dan persaudaraan (Yatim, 1985:76).
فقال الجندى فى دهشة:
((ويحك يا مارسيل!. لقد عدت إلى هرطقـتك وإلحادك))
كلاّ, بل أنتم المخدوعون, أتعتقد أننا نحارب من أجل الربّ حقّا؟
فلماذا نحارب حقّا؟؟
من أجل مطامع وأمجاد زائفة, تسعة أعشار الجنود لا يتحدثون إلا عن حياة النعيم فى الأرض الخضراء التى سوف نفتحها, أنسيت أننا استطعنا فى القرن الماضى أن نقيم مملكات منفصلة فى الشام؟ماذا كانت النتيجة يا عزيزى؟؟تقاتل وتناحر بين الملوك المسيحيين فى الشام كما نتقاتل الآن من أجل الغنائم التى حصلنا عليها بعد استسلام دمياظ, وتسابق من أجل المطامع, حتى طردنا المسلمون وانحسر ظلّ ممالكنا هناك))
(الكيلانى, 1961: 65-66)
’Prajurit itu berkata tanpa menyembunyikan keterkejutannya,
”Celakalah kamu Marsiel....! kamu telah kembali menyimpang.”
”Tidak sama sekali, bahkan kalian telah tertipu. Apakah kamu yakin bahwa kita ini berperang di jalan Tuhan?”
”Mengapa kita sekarang berperang?”
”Demi cita-cita dan kemuliaan palsu. Sembilan dari sepuluh prajurit hanya berbicara tentang kehidupan yang nikmat di bumi hijau yang akan kita buka. Apakah kamu lupa abad yang lalu kita telah mampu membangun kerajaan-kerajaan terpisah di negeri Syria? Apa hasilnya kawan? Raja-raja Kristen saling berperang dan membunuh di negeri Syria, seperti yang kita lakukan sekarang ini demi harta rampasan yang kita dapatkan setelah Dimyat jatuh ke tangan kita. Berlomba-lomba mencapai cita-cita palsu sehingga kaum muslimin mampu mengusir kita dan kekuasaan kita yang berada di sana terurai..’

Kutipan di atas merupakan dialog antara Marsiel seorang prajurit Perancis dengan temannya sesama prajurit tentang duka nestapa sebagai prajurit dan fantasi Marsiel tentang raja-raja Kristen yang telah menguasai negeri-negeri Arab, tetapi mereka berperang sesama mereka sendiri hanya karena harta rampasan perang sehingga kaum muslimin mengusirnya dan memulangkan mereka kembali ke negerinya sehingga Marsiel mempertanyakan tentang tujuan dari perang itu sendiri. Bahkan, Marsiel mempertanyakan apakah agresi ke Mesir ini merupakan bentuk perang di Jalan Tuhan atau dalam pengertian ajaran Islam dengan istilah Jihad dan ajaran Kristen dengan istilah perang Salib?.
Agresi pasukan Eropa ke Mesir ini bukan sebagai bentuk nasionalisme religius karena bukan dalam upaya mempertahankan diri dari serbuan musuh terhadap tanah air dan agama, melainkan melakukan pembukaan daerah baru untuk dijadikan daerah kekuasaan baru. Istilah yang tepat bagi Marsiel dan teman-temannya sesama prajurit adalah melakukan aksi patriotisme bukan nasionalisme karena nasionalisme menurut (Dardiri, tt:16) lebih tepat ditujukan kepada rakyat negara terjajah dan dijadikan modal untuk mengusir penjajah, adapun patriotisme dianggap sebagai aksi heroik atau kepahlawanan dan maknanya lebih universal bisa dipakai bagi negara penjajah maupun negara terjajah.
Penaklukan pasukan Eropa ke Mesir, Syria, dan negeri lainnya sebagaimana dinyatakan Marsiel dalam kutipan di atas merupakan bentuk nasionalisme tertutup karena menekankan pada kemurnian ras dan agama, seakan-akan agama sebagai alat pembenaran untuk melakukan ekspansi. Marsiel beserta prajurit lainnya hanya menjadi korban atau alat dari Raja-raja yang ambius kekuasaan dengan imbalan hanya mendapatkan sedikit harta rampasan perang setelah kejatuhan kota Dimyāth.
المدينة هائجة مائجة, والمتطوعون والعربان يفدون إلى المدينة, والمعركة آخذة فى الإشتداد والعنف, والمنصورة يوشك أن يكتسحها طوفان الدم (الكيلانى, 1961: 141)
Mansyūrah lautan api. Kaum sukarelawan dan bangsa Arab lainnya mendatangi Mansyūrah. Peperangan mulai seru lagi. Mansyūrah hampir menjadi lautan api.

Kutipan di atas menggambarkan kota Manshūrah menjadi pusat pertempuran antara pasukan Eropa dibawah pimpinan Perancis dengan bangsa Mesir beserta sukarelawan Arab lainnya. Ekspresi nasionalisme bangsa Arab untuk mendukung saudaranya di Mesir dari agresi pasukan Eropa merupakan luapan emosional spontanitas. Walaupun gerakan dan pemikiran nasionalisme Arab modern baru muncul pada abad XIX di Lebanon, tetapi dalam prakteknya sentimen nasionalisme Arab ini sudah terjadi pada abad XII. Nasionalisme Arab ini memuat dua pengertian: Pertama; qaumiyyah, yaitu nasionalisme dalam arti luas. Tujuannya antara lain; (1) mengintegrasikan seluruh kekuasaan yang ada di dunia Arab dari ekonomi, militer, dan sebagainya untuk menjadi suatu kekuatan politik; (2) menginginkan agar kepentingan nasional masing-masing negara Arab dilebur untuk mencapai kepentingan Arab secara luas. Kedua; wathaniyyah, yaitu nasionalisme dalam arti sempit, tujuannya mengutamakan kepentingan nasional masing-masing negara Arab.
Kombinasi kedua unsur nasionalisme Arab ini yang mampu menggerakan bangsa Arab dari agresi pasukan Eropa karena tidak semua bangsa Arab beragama Islam, mereka digerakan atas nama nasionalisme Arab yang berpegangan pada sebuah pepatah Arab ”Chubbul Wathan minal Īmān” yang berarti cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.
وكان دارتو متعجلا, يريد أن يحتل القصر السلطان ويرفع من فوقه الأعلام الصليبية, فيكون يذلك فاتح المنصورة وهازم المصريين, والسابق إلى المجد والنصر
(الكيلانى, 1961: 142)
’Dareto begitu tergesa-gesa ingin menguasai istana Raja dan mengibarkan bendera salib di atasnya sehingga dengan demikian ia adalah pembuka Mansyūrah dan penakluk bangsa Mesir. Orang pertama yang membukukan kemenangan dan kemuliaan’

Kutipan di atas menyatakan tentang ambisi pangeran Dareto adik raja Louis IX untuk langsung menguasai istana Raja dan menguasai secara keseluruhan kota Mansyūrah. Ambisi untuk mendapatkan kemuliaan bagi Dareto merupakan salah satu tujuan dari tiga tujuan nasionalisme, yaitu kehormatan, keagungan, dan kemuliaan.
Ketiga tujuan ini merupakan isi dari semboyan revolusi kaum nasionalis Perancis abad XVIII akan kebebasan, persamaan, dan kebahagiaan. Ambisi Dareto seperti layaknya pahlawan-pahlawan Perancis lainnya seperti halnya sosok Charles De Gaulle pasca perang dunia II. Charles De Gaulle memanfaatkan nasionalisme untuk membangun kejayaan, kebesaran, dan keharuman Perancis. Menurut Charles De Gaulle (dalam Adisusilo, 1993:22), nasionalisme tidak lapuk ditelan masa sebab setiap bangsa membutuhkan nasionalisme itu. Hanya saja, wujud, dimensi, dan nuansanya harus disesuaikan dengan tuntutan zamannya. Ada masa ketika nasionalisme sangat nampak dalam bidang politik, ekonomi, ideologi, budaya, dan hak asasi manusia. Nasionalisme itu wujud dan bidangnya memang multidimensional.
فأدرك جيل مافى كلام دارتوا من سطحية وسذاجة, ولهذا قال: ((ليس ذجرة الدر وحدها هي التى تؤجج المعركة...انظر يامولاي الأمير ألا ترى هذا الخليط من لابسى الجلابيب والقفاطين وزي الحرب. هو هذا الشعب الذى يحاربنا بالسواطير والعصى الغليظة والمناجل والفؤوس.هو الذى أوقف تقدمنا..لا شجرة الدر, لأنه يحميها هي الأخرى كما يحمى أرضه ونفسه ومثله العليا.... (الكيلانى, 1961: 150)
’Geil memahami ucapan lugu Daretto, lalu berkata, ”Bukan hanya Syajaratuddur saja yang mengobarkan perang ini. Lihatlah Tuan Pangeran! Tidakkah tuanku mengamati kerumunan orang-orang yang memakai jilbab dan jubah besar. Lihatlah rakyat yang memerangi kita dengan cambuk, tongkat, sabit, dan kapak. Mereka inilah yang menghentikan laju kita ...bukan Syajaratuddur. Karena rakyatlah yang melindunginya dan melindungi tanah tumpah darah mereka’

Geil merupakan panglima pasukan Perancis yang ikut dengan pangeran Dareto (adik kaisar Louis IX) dalam penyebuan ke Mansyūrah. Pernyatan Geil bahwa rakyat sebenarnyalah yang berjuang melindungi tanah tumpah darah bukan Syajaratuddur dalam kutipan dialog di atas merupakan ungkapan nasionalisme. Dalam nasionalisme terkandung prinsip demokrasi dan demokrasi melahirkan bentuk pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Kekuatan rakyatlah yang dapat mempertahankan Mesir dari penyerbuan bangsa Eropa dan bukan karena figur pemimpin karena pemimpin dipilih oleh rakyat.
وقد كان دارتوا صادقا تمام الصدق فيما قال, لأن عنصر التمزق كان جليا بين قوات العدو, وكان افتقادهم لمعنى الوحدة نذير شر لهم فى ذلك اليوم المشهود (الكيلانى, 1961: 156)
’Daretto baru sadar dengan apa yang ia katakan. Karena benih cerai berai jelas terlihat di pihak musuh. Hilangnya arti sebuah persatuan merupakan sebuah tanda buruk bagi mereka di hari bersejarah’

Kutipan di atas menceritakan tentang kondisi Dareto beserta pasukan Eropa lainnya yang terdesak oleh pasukan Mesir dan banyak pasukan Eropa yang melarikan diri karena kepungan pasukan Mesir dan kekalahan sepertinya sudah di depan mata. Dareto menganggap bahwa ini diakibatkan telah tercerai berainya pasukan dan hilangnya persatuan dan kesatuan dalam pasukan Eropa.
Persatuan dan mempertahankan kesatuannya merupakan salah satu fungsi utama dari tiga fungsi utama nasionalisme, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo, Arnold Toynbee, dan Louis Snyder (dalam Adisusilo, 1993:21) bahwa nasionalisme masih mempunyai fungsi utama; (1) memberi landasan kognitif bagi setiap warga negara untuk mengenal jati dirinya dan bangsanya sehingga ada kebutuhan terus mau bersatu dan mempertahankan kesatuannya; (2) memotivasi seluruh bangsa untuk mengejar dan mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan, keadilan, dan kebahagiaan secara invidual maupun secara kolektif; (3) memberi arahan ke tujuan bersama sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada sehingga tidak ada yang menjadi korban dan dikorbankan dalam mengejar tujuan bersama.
Tema dasar novel Al-Yaumul Mau'ūd terletak pada nasionalisme, tapi bukan pengertian nasionalisme sempit yang hanya mempertahankan, membela, dan mengikuti panggilan negara untuk berjuang, tetapi nasionalisme yang dibungkus dalam sentimen agama. Untuk membangkitkan perasaan nasionalisme, maka dibangkitkan juga semangat religius bahwa setiap peperangan pada dasarnya membela agama, baik pada pihak Mesir maupun pihak Perancis, tetapi sebenarnya kepentingan agama hanya sebagai kedok untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.
وسمعت ياقوتة هاتفا:
((يا أهالـى المنصورة يا جنود الله...الجهاد..الجهاد...لقد دخلت خيول الفرنجة شوارع المدينة)) (الكيلانـى, 1961: 137)
Tiba-tiba Yāqūtah mendengar seruan, "Wahai penduduk Manshūrah, wahai pejuang Islam…berjihadlah..berjihadlah…pasukan Perancis telah memasuki kota.".
وفـى هذه الأثناء تلقت القاهرة رسالة من المنصورة تقول:
هاجم العدو المنصورة....الحرب قائمة.....القتال بين الفرنج والمسلمين شديد. (الكيلانـى, 1961: 138)
"Dalam keadaan panik itu, Kairo telah memperoleh surat dari Manshūrah yang berbunyi,"Musuh telah menyerbu Manshūrah..Perang telah dimulai, dan peperangan antara kaum muslimin dan pasukan Perancis berlangsung seru."

Kedua kutipan teks di atas menyatakan tentang sentimen agama yang kembali didengungkan untuk membangkitkan perasaan nasionalisme rakyat Mesir yang mayoritas muslim melawan pasukan Perancis dan Eropa yang mayoritas Kristen. Bentuk nasionalisme ini dinamakan sebagai nasionalisme religius. Kenyataannya dalam sejarah dinyatakan bahwa gerakan Islam khususnya telah berhasil untuk pertama kali mempersatukan bangsa Arab. Sebenarnya gerakan nasionalisme Arab berhutang budi kepada Islam. Dengan mengabaikan penafsiran secara fatalistis dan mekanis mengenai peristiwa-peristiwa sosial, baik berdasarkan agama, ekonomi, dan faktor-faktor lainnya. Islam dinilai sebagai kekuatan kreatif dalam membentuk bangsa Arab. Dengan demikian asas yang menyatukannya adalah agama dan bukannya kebangsaan, istilah persatuan Arab dan persatuan Islam sama artinya, istilah nasionalisme Islam dan nasionalisme Arab juga sama artinya (Nuseibeh, 1969:18-19)..
KESIMPULAN
Konsep nasionalisme religius yang ditawarkan oleh Najīb al-Kīlānī dalam novel Al-Yaumul Mau'ūd merupakan bentuk perpaduan atau kombinasi dari beberapa pemahaman nasionalisme, yaitu pertama, nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil), yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, kehendak rakyat, dan perwakilan politik; kedua, nasionalisme etnis, yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat; ketiga, nasionalisme budaya, yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya sifat keturunan seperti warna kulit, ras dan sebagainya; dan keempat, nasionalisme romantik, yaitu negara memperoleh kebenaran politik secara organik hasil dari bangsa atau ras menurut semangat romantisme.
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo, 1993, ”Nasionalisme tetap relevan studi kasus nasionalisme Charles De Gaulle” dalam majalah Widya Dharma, Th. IV, no 1, Universitas Sanata Darma, Yogyakarta.

Al-'Arīnī, 'Abdullāh Shālih, 1989, Al-Ittijāhul Islamī fi A’māli Najīb Al-Kīlānī al-Qashashiyah, Jāmiah Imām Muhammad bin Su’ūd Al-Islāmiyah, Riyādh.

Al-Kīlānī, Najib, 1961, Al-Yaumul Mau'ūd. Wazārah At-Tarbiyyah wa At-Ta'līm, Mesir.

Bosworth, C.E, 1980, “Dinasti-dinasti Islam” (diterjemahkan dari buku The Dinasty of Islam oleh Ilyas Hasan). Mizan, Bandung.

Culler, Jonathan. 1975, Structuralist Poetics: Structuralism Linguistics and The Study of Literature, Routledge & Kegan Paul, London and Henly.

Dardiri, A, Tt, “Nasionalisme dalam Konteks Sejarah” dalam Jurnal Filsafat, seri 17, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.

Junus, Umar, 1985, Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar, Gramedia, Jakarta.

Kartodirdjo, Sartono, 1994, Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta.

Lapidus, Ira M, 1999, "Sejarah Sosial Ummat Islam bagian I dan II" (diterjemahkan.oleh Ghufron A. Mas'adi), Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Noer, Muhammad, 1993, “Islam dan Nasionalisme Arab”. Journal Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka kerja sama dengan Asosiasi Politik Indonesia dan LIPI, Jakarta.

Nuseibeh, Hazem Zaki, 1969, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab, (diterjemahkan oleh Sumantri Mertodipuro). Yayasan Dana Buku Indonesia, Jakarta.
Ratih, Rina, 1994, Metodologi Penelitian Sastra, Cet. III, Hanindita Graha Widya, Yogyakarta.

Siradj, Said Aqiel, 2001, Revitalisasi Ummatan Wahidah: Menuju Pemberdayaan Masyarakat dan Warga Negara. UGM dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Teuww. A, 1984, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta.

Wardaya, Baskara T. 2002. “Nasionalis Humanis-Universal: Menjawab ajakan Pasca Nasionalismenya Romo Mangun” dalam Majalah BASIS, no 11-12, Yayasan BP Basis, Yogyakarta.

Yatim, Badri, 1985, Soekarno, Islam dan Nasionalisme: Rekonstruksi Pemikiran Islam-Nasionalisme, Inti Sarana Aksara, Jakarta.

http://www.gaulislam.com/islam-dan-nasionalisme/14 August 2006, diakses pada tanggal 20 agustus 2007

http://ar.wikipedia.org/wiki/12 Mei 2007, diakses pada tanggal 20 agustus 2007

1 komentar:

  1. assalamu'alaikum
    maaf pak apakah ada file novel arabnya yang al yaum al mau'uud karya najib kaelaninya ? jikalau ada apakah boleh saya mendapatkannya dari bapak, krn saya belum menemukannya. karena saya sangat membutuhkannya untuk tugas akhir saya. terimakasih

    BalasHapus