WACANA NASIONALISME RELIGIUS
DALAM NOVEL AL-YAUM AL-MAU’ŪD KARYA NAJĪB AL-KĪLĀNĪ
(Analisis Intertekstual)
MUHANDIS AZZUHRI
hands_azzuhri@yahoo.com
ABSTRAK
Wacana nasionalisme merupakan sebuah pemikiran sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Tak ada satupun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Najīb al-Kīlānī sebagai seorang novelis mesir, menggoreskan wacana nasionalisme dalam salah satu novelnya, yaitu al-Yaum al-Mau'ūd (1961). Studi ini dilakukan dengan memanfaatkan teori intertekstual dengan menggunakan suatu metode perbandingan dengan membandingkan unsur tema saja, yaitu muatan nasionalisme religius dengan beberapa literatur lainnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pemikiran nasionalisme religius menurut Najīb al-Kīlānī merupakan perpaduan pemahaman nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil), nasionalisme etnis, nasionalisme budaya, dan nasionalisme romantik.
Kata Kunci : Nasionalisme religius, Intertekstual, al-Yaum al-Mau'ūd,
الخلاصة
كانت الوطنيّة هي فكرة إجتماعيّة عجيبة فى مسيرة تاريخ الإنسان فى المائة سنة أخيرة, لا مكان إجتماعية فى مساحة الأرض خارجة من أثر هذا الإيديولوجى. بدون الوطنيّة, ستتغيّر حياة التاريخ الإنسان. و كتب أديب المصرى نجيب الكيلانى, إشاعة الوطنيّة فى قصّة "اليوم الموعود" (1961) و "النداء الخالد" (1969). وهذ البحث استخدام نظرية التناصية وطريقة المقارنة, والهدف هذا البحث كشف حقيقة علمية أنّ مفهوم الوطنيّة لا تتعارض مع مغهوم الدين. من البحث السابق, عرفنا أنّ مفهوم الوطنية الدينية من نجيب الكيلانى فى القصّتين غير نتيجة فكرة الغربية علمانية ولكن إنتاج مبدأ ميثاق "مدينة" على رئاسة محمّد صلى الله عليه وسلّم, والدولة الوطنية "مدينة" لا تهدف غلى رابطة الدينية والعرقية والقبيلة والحزب ولكن عن نتيجة وحدة السياسة والوحدة الفكرة أنّ الشخص المتحمّس بالوطنية قادرة تطبيق مفهوم الدين دون إضاعة حماسة الوطنية.
الكلمة الدليلية: الوطنيّة الدينيّة, نظريّة التـناصية, اليوم الموعود, النداء الخالد
PENDAHULUAN
Novel al-Yaum al-Mau’ūd menceritakan tentang sejarah perang salib yang ke-7. Perang yang terjadi karena serbuan pasukan Eropa di bawah pimpinan Raja Louis IX (Santo Louis) dari Perancis ke Mesir, khususnya ke kota Manshūrah dan Dimyāth pada tanggal 4 juni 1249 M (Al-Kīlānī, 1961:41). Mesir ketika itu masih dikuasai dinasti Ayyūbiyah dengan rajanya Mālikush-Shālich Najmuddīn Ayyūb yang memerintah dari tahun 1238-1240 M (Bosworth, 1993:84). Di samping itu, novel al-Yaum al-Mau’ūd ini juga menceritakan akhir dinasti Ayyūbiyah yang memerintah Mesir dari tahun 1193-1260 M. Kemudian diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan resimen budak (Mamlūk) dengan membunuh penguasa terakhir dinasti Ayyūbiyah, yaitu al-Mālik Al-Mu’azhzham Tūrān Syāh yang memerintah hanya satu tahun dari tahun 1249-1250 M (Lapidus, 1999:547, 550).
Tema nasionalisme yang menjadi sentral pokok novel al-Yaum al-Mau’ūd ini dianalisis dengan menggunakan teori intertekstual, karena pada dasarnya prinsip intertekstual memandang bahwa setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain, tidak ada sebuah tekspun yang sungguh mandiri, dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks-teks lain sebagai contoh, teladan, dan kerangka. Tidak dalam arti bahwa teks baru hanya meneladani teks lain atau mematuhi kerangka yang telah diberikan lebih dahulu, tetapi dalam arti bahwa dalam penyimpangan dan transformasi pun model teks yang sudah ada memainkan peranan penting dan pemahaman teks baru memerlukan latar belakang pengetahuan tentang teks-teks yang mendahuluinya (Teuww, 1984:145-146).
Julia Kristeva dalam (Culler, 1977:139) mengemukakan bahwa setiap teks merupakan mosaik kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain. Dengan demikian, sebuah karya sastra hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan teks-teks lain.
Teori intertekstual ini berasal dari Perancis dan bersumber dari aliran strukturalisme Perancis yang dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Perancis Jaques Derrida dan dikembangkan pertama kali oleh peneliti Perancis Julia Kristeva (Ratih, 1994:125).
PEMBAHASAN
A. Biografi dan Karya Najīb al-Kīlānī
Najīb al-Kīlānī nama lengkapnya Najīb bin Ibrahīm bin Abdul Lathīf Al-Kīlānī, lahir di desa Syarsābah, propinsi Gharbiyyah, Mesir pada bulan Muharram 1350 H atau 10 Juni 1931 M. Najīb Al-Kīlānī mempunyai 3 anak lelaki dan 1 anak perempuan hasil pernikahannya dengan Karīmah Syāhīn pada tahun 1960 yang merupakan saudara kandung dari sastrawan Mesir Nafīsah Syāhīn. Mereka adalah Dr Jalāl, Ir. Hisyām, Mahmūd seorang pengacara dan Dr. Izzah.
Ketika berusia delapan tahun, al-Kīlānī memasuki sekolah di Syanbat. Kemudian meneruskan belajar di Sekolah Menengah Atas di kota Thānthā selama 5 tahun karena di Thānthā tidak ada Sekolah Menengah Pertama. Begitu tamat Sekolah Menengah Atas di Thānthā, Al-Kīlānī meneruskan studi di Fakultas kedokteran Universitas Fuād al-Awwal. Walaupun sebenarnya, Al-Kīlānī lebih suka kuliah di fakultas sastra atau hukum, akan tetapi ayahnya menghendakinya untuk masuk fakultas kedokteran. Semasa menjadi mahasiswa, Al-Kīlānī pernah masuk penjara bersama kelompok Ikhwānul Muslimīn selama tiga tahun dan menyelesaikan kuliahnya setelah keluar dari penjara.
Al-Kīlānī semasa muda termasuk kutu buku, khususnya majalah-majalah sastra, seperti majalah Al-Risālah, al-Tsaqāfah, Al-Hilāl, dan sebagainya. Dari beberapa majalah tersebut, Al-Kīlānī banyak mengetahui para sastrawan besar diantaranya Sayyid Quthub, Musthafā Shādiq Ar-Rāfi′ī, Abbās Mahmūd Al-Aqqād, Al-Mazani, Al-Manfalūthi, Thāhā Husain, dan Taufīq Hakīm. Selain itu, Al-Kīlānī juga banyak membaca beberapa novel dunia dan Arab juga beberapa kumpulan puisi dari beberapa penyair, seperti Mutanabbī, Syauqī, dan Hāfizh Ibrāhīm.
Abdul Fattāh, paman dari bapaknya yang mempengaruhi Al-Kīlānī untuk membaca buku-buku novel karya Al-Manfalūthi, diantaranya berjudul Al-Nazharāt (linangan air mata), Magdalena, dan beberapa buku novel karya Al-Rāfi′ī, seperti Wahyu al-Qolam, Al-Masākīn, dan Awrāq al-Warad, buku-buku sastra karya Syauqī dengan karya teaternya serta buku-buku karya Thāhā Husain.
Pada tahun 1967 M/1387 H, Al-Kīlānī hijrah ke Kuwait dan bekerja di sana, kemudian pindah ke Dubai. Setelah berganti jabatan serta pekerjaan, akhirnya menjadi Direktur Kementrian Kesehatan untuk Uni Emirat Arab. Al-Kīlānī juga merupakan salah satu anggota lembaga kesenian untuk negara-negara Teluk. Al-Kīlānī pun aktif dalam berbagai seminar sentang kesehatan dan sastra.
Pada tanggal 08 Juli 1955 bersama kelompok Ikhwān, Al-Kīlānī divonis penjara selama sepuluh tahun oleh rezim Jamāl Abdun Nāshir. Namun pada akhir tahun 1958/1387 H, Al-Kīlānī dibebaskan dari penjara. Pada tahun 1965, ia dijebloskan lagi ke penjara selama hampir dua tahun dan dibebaskan pada tahun 1967. Dengan demikian, Al-Kīlānī di penjara yang pertama kali selama 3 tahun dan kali kedua selama 1 tahun beberapa bulan (Al-'Arīnī, 1989:12-15).
Al-Kīlānī menulis kurang lebih 59 buku-buku sastra dan kedokteran, di samping beberapa makalah yang tersebar di beberapa majalah Islam dan sastra. Tetapi tidak semua hasil-hasil karya sastranya dapat sampai ke tangan pembaca atau hilang karena beberapa faktor. Ini dimungkinkan karena latar belakang Najīb Al-Kīlānī sebagai seorang sastrawan yang ikut golongan Ikhwān sebagai gerakan yang dianggap illegal, diantara karyanya yang hilang adalah novel Al-Zhzillu al-Aswad yang menceritakan tentang kaisar Ethiopia yang bernama Helasilasi. Novel ini telah ditarik dari peredaran selama beberapa tahun. Padahal karya sastra tersebut merupakan karya yang tak ada duanya dari semua karya sastranya, tetapi kemudian dicetak lagi walaupun ada beberapa novelnya yang ditarik dari peredaran dan ditolak untuk diterbikan kembali, yaitu Lail al-Khathāya.
Pengalamannya bergaul bersama kelompok Ikhwānul Muslimīn dan hidupnya di penjara mempengaruhi terhadap beberapa karya sastranya diantaranya novel, cerpen, dan beberapa buku ilmiahnya, diantaranya buku Syauqī fī Rakbi al-Khālidīn (buku ini menerima penghargaan dari Kementrian dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M /1377 H), buku Iqbāl Al-Syā′ir (menerima penghargaan dari Kementrian dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M /1377 H), novel Al-Tharīq al-Thawīl (novel ini mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir pada tahun 1957 M/1376 H), novel ′Adzrā Jakarta (Perawan Jakarta), novel Fi al-Zhalām (Novel ini mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir pada tahun 1958 M/1377 H) novel Mamlakah al-Bal’ūthi, novel Qātil Hamzah, novel Ahlu al-Humaidiyah, novel Amīrah al-Jabal, novel Al-Rajul alladzī āmana, novel Qishshah Abul-Futūh Al-Syarqāwī, novel Lail wa Qadhbān, novel Lail al-Khathāya, novel Nūrullāh, novel Umar Yazhharu fi al-Qudsi, cerpen Dumū'u al-Amīr, cerpen Hikāyah Thabīb, cerpen 'Inda al-Rahīl, cerpen Fāris Hawāzin, cerpen Mau'idunā Ghadan (Cerpen ini menerima medali emas dari festifal Thāhā Husain pada tahun 1959 M/1379 H), dan karya terakhirnya adalah Malikah al-′Inab, I′tirafāt Abdu al-Mutajallī, Imra‘ah Abdu al-Mutajallī, dan Hikāyah Jādullāh.
Di hari-hari terakhirnya, al-Kīlānī telah menyelesaikan pertunjukan teater berjudul “Habībī Sarajevo”. Teater ini tidak pernah mendapatkan tanggapan dan perhatian dari para pembaca dan kritikus sampai sekarang. Pementasan teater ini menceritakan tentang kejadian tragis di Bosnia-Herzevonia, yaitu pembersihan etnis.
Novelnya “Lail wa Qadhbān” termasuk dari rangkaian novel “Lail al-′Abīd” yang diterjemahkan dalam edisi Indonesia dengan judul “selingkuh” kemudian dijadikan film dan memenangkan medali pertama dalam festifal film Tasqend pada tahun 1964 M. Demikian juga novel ‘Lail al-Ma’ūd” yang difilmkan hasil kerja sama Televisi Mesir dan Lybia pada bulan Ramadhān tahun 1973 M dengan judul filmnya “Yāqūtah Malhamah al-Hub wa al-Salām” (Yaqutah simbol cinta dan perdamaian).
Beberapa karyanya yang dipastikan hilang dan tidak sampai kepada pembaca, diantaranya adalah novel Ibtisāmah fi Qalbi al-Syaitān, novel Ardhu al-Asywāq, novel Amīrah al-Jabal, novel Al- Rāyah al-Suwad, novel ′Adzrā al-Qaryah, novel Al-Ka'su al-Fārighah, novel Liqāu 'inda Zamzam, novel Lail al- 'Abīd, novel Yaumiyāh al-Kalbi Syamlūl, dan cerpen Al-'Ālam al- Dhayyiq (http://ar.wikipedia.org/wiki/12 Mei 2007).
Pada tanggal 5 Syawal 1415 H atau bertepatan dengan tanggal 6 Maret 1995 M, Al-Kīlānī dipanggil Allah Swt. Namanya akan selalu dikenang oleh komunitas sastra Mesir, Arab, dan komunitas dunia.
B. Nasionalisme Religius dalam Novel al-Yaum al-Mau’ūd
Ungkapan nasionalis religius yang terdapat dalam novel al-Yaum al-Mau’ūd ini diungkapkan melalui beberapa tokoh utama yang mendasari jalannya cerita, seperti halnya perkataan Baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb seorang penguasa Mesir di tahun 1249 M kepada permaisurinya Syajaratuddur berikut ini:
ليس مجرّد الرغبة فى المجد والبطولة هو الذى يدفعنى ويحركنى, إنّ أول شيء أفكّر فيه هو أن أجمع هذه الممالك الصغيرة المتنافرة....إنّ مصر والشام وماجاورهما أمّة واحدة, وبقاؤهم على هذه الصورة من التمزق والتشتت أمر يدعو إلى الأسف والحزن..لهذا تريننى أحلم باليوم الذى تجتمع فيه كلمة هذه الأمّة (الكيلانى, 1961: 10-11).
’Bukan hanya keinginan akan kemuliaan dan kepahlawanan yang mendorongku serta menggerakanku. Pertama-tama yang aku pikirkan adalah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang bercerai-berai ini Mesir, Syria, dan daerah sekitar adalah satu bangsa. Membiarkan mereka dalam keadaan terpecah-belah dan bercerai-berai adalah hal menyedihkan. Oleh karena itu, engkau melihatku bermimpi bahwa suatu hari nanti umat ini akan bersatu.’
Kutipan di atas menceritakan baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb sedang istirahat liburan panas dalam istananya yang berada di Damaskus, Syria. Ungkapan seorang raja yang mendambakan adanya satu kesatuan dan persatuan bangsa yang terdiri dari beberapa suku dan kerajaan-kerajaan kecil dalam lingkup kekuasaannya. Baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb tidak menginginkan kerajaan-kerajaan kecil yang telah dikuasainya tersebut tercerai berai dengan melakukan pemberontakan dan menuntut kemerdekaan melepaskan diri dari kekuasaannya. Keinginan baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb untuk mempersatukan negara-negara sekitar Mesir menjadi satu wilayah nation-state merupakan suatu bentuk nasionalisme karena pengertian nasionalisme menurut International Encyclopedia of Social Science adalah suatu ikatan politik yang mengikat kesatuan masyarakat modern dan memberi pengabsahan terhadap klaim (tuntutan) kekuasaan (Yatim, 1985:62-63). Agar dapat merealisasikan rasa kebangsaan atau nasionalismenya, baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb Najmuddīn Ayyūb menunjukkan dengan kata-kata الرغبة فى المجد والبطولة (keinginan akan kemuliaan dan kepahlawanan). Pernyataan ini selaras dengan ungkapan sebuah pepatah Arab yang berbunyi عش كريما أو مت شهيدا‘Hiduplah yang Mulia atau Matilah Shahid’
Penyebutan kata الأمّة (umat) oleh baginda Mālik al-Shālih Najmuddīn Ayyūb Najmuddīn Ayyūb dalam kutipan teks di atas mempunyai arti perseorangan, komunitas muslim, manusia secara umum, dan menunjuk kepada makna semua makhluk hidup (Siradj, 2001:61-62). Lebih tepatnya, umat dalam teks di atas mempunyai arti manusia secara umum. Dalam pengertian negara-kebangsaan ”umat” yang dimaksud adalah rakyat. Umat yang dimaksudkan bukan hanya pada rakyat Mesir, melainkan semua rakyat di sekitar Mesir. Sebab nasionalisme pada waktu tersebut belum dalam pengertian sebenarnya sebagai satu kesatuan dalam nation-state, melainkan masih terdiri dari berbagai suku dan kerajaan-kerajaan kecil sehingga yang digunakan adalah kata umat. Ini selaras dengan teks Alquran berikut:
كان الناس أمّة واحدة فبعث الله النبيّين مبشّرين ومنذرين (البقرة: 213)
’Manusia itu merupakan satu ummat, maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan (Qs Al-Baqarah:213).
Kata umat disebutkan juga dalam Piagam Madinah (Watsīqah Al-Madīnah) yang artinya sebagai berikut:
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Nabi Muhammad Saw antara orang-orang mukmin dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib: Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah) yang berbeda dengan orang-orang lain.(http://www.gaulislam.com/islam-dan-nasionalisme/14 August 2006).
))كلاّ يا مولايا....إنّ العدو القادم من الغرب يريد أن يحتلّ بيت القدس والشام فى حقيقة الأمر, ومن ثم أراد أن يضرب مصر لأنها قلعة الشرق, وحصن الملة الحصين, ومعنى ذلك يامولاي أن الغزاة الصليـبـيـّين لن يتركوا أميرا من أمراء المسلمين فوق عرشه. إنّه عدوان على الجميع.... (الكيلانى, 1961: 23)
”Tidak Baginda. Pada dasarnya musuh lama dari Barat ingin menguasai Baitul Maqdis dan Syria. Oleh karena itu, mereka ingin menyerang Mesir karena Mesir adalah benteng Timur dan benteng agama yang kuat. Artinya Tuanku, orang-orang Salibis tidak akan membiarkan penguasa-penguasa Muslim berada di atas tahtanya. Barat adalah musuh semua orang.”
Kutipan di atas merupakan jawaban permaisuri Syajaratuddur terhadap baginda Mālik al- Shālih agar meyakinkannya untuk kembali ke Mesir disebabkan keraguan Baginda adanya rasa kekhawatiran terjadinya pemberontakan dalam negeri pasca datangnya surat dari Frederik II, Raja Jerman tentang gerakan pasukan Eropa di bawah pimpinan Raja Louis IX dari Perancis ke Mesir yang sudah mencapai perairan Cyprus dan akan mendarat di pantai-pantai utara Mesir.
Kata الغرب (barat) pada teks di atas secara geografis menunjukkan pada arah suatu tempat. Secara semiotik, dipahami sebagai penanda atau petanda suatu bangsa atau benua tertentu, yaitu Eropa karena sebenarnya kata ”Eropa” itu sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab berasal dari kata ”Ghuraba” bermakna ”orang-orang asing” atau ”Gharb” bermakna ”Barat”. Jadi, kata ”Eropa” sudah merujuk pada kata ”Barat” karena kata tersebut merupakan ucapan orang Arab terhadap orang-orang asing yang berambut pirang dan berasal dari sebelah barat jazirah Arab itu sendiri.
Jawaban permaisuri Syajaratuddur tersebut merupakan bentuk sentimen nasionalisme tertutup karena sudah mendikotomi dunia dalam dua kutub berlawanan, yaitu Barat-Eropa-Kristen dan Timur-Mesir-Islam. Menurut Kohn dalam (Dardiri, tt:16) ia menyatakan bahwa nasionalisme tertutup menekankan pada karakter bangsa yang asli, asal-usul ras maupun darah atau keturunan dan akar dari negeri leluhur. Dengan kata lain, nasionalisme tertutup menekankan ’biological or historical determination’ dan salah satu cirinya adalah kemurnian rasial (racial purity). Jawaban permaisuri Syajaratuddur bisa juga dikatagorikan sebagai bentuk ekspresi nasionalisme religius, yaitu bentuk nasionalisme terhadap tanah airnya didasarkan pada persamaan agama. Walaupun dalam praktiknya, nasionalisme ini dicampuradukkan dengan nasionalisme etnis yang menekankan pada ras dan etnis tertentu, yaitu Arab vs Eropa.
Tokoh utama novel lainnya adalah Adnān bin Mundzir karena ia lebih mementingkan perjuangan untuk kepentingan negara dan agamanya daripada kepentingan pribadinya dengan menuntut balas pada sosok penguasa yang telah menzaliminya, yaitu Turān Syāh sebab Turān Syāh telah memenjarakannya dan menangkap kekasihnya, yaitu Zumrudah untuk dijadikan sebagai tawanan. Bentuk nasionalisme Adnān ditunjukan pada kutipan berikut
الغبار المثار ينتشر فى الأفق, والناس يتدافعون كالسيل الجارف الذى لا يوقفه سد, ولا يمنعه من التدفق مانع, إنها إرادة شعب, يأنف من العبودية, ولايسلّم للفرنجة الغاصبين بما يريدون, شعب يعتز بفضيلة الكرم والصبر إلى حد الإغراق والتطرف, لكنه عند ما يعلن كلمته, ويملى إرادته, تذوب أمامه كل العواثق, وتحطم كل العقبات..وأخذ عدنان يتلفت يمنة ويسرة, باحثا عن القيادة التى تقود هذه الجماهير التى وفدت من أقاصى البلاد العربية ومن مدن الشام والحجاز والمغرب وغيرها, فلم يجد غير كتل بشريةلا ينحسر مدّها, ولم يجد ملكا على رأسه تاج, أو قائدا فى يده صولجان, وغمغم عدنان وقد أخذته روعة المنظر, وأهاجت فى روحه حمية عربية صميمة صحيحة. (الكيلانى, 1961 : 57)
‘Debu-debu beterbangan di angkasa. Rakyat bergerak bagaikan banjir bandang yang tidak terbendung dan terhenti oleh bendungan maupun tanggul. Itulah kehendak rakyat, yang membenci perbudakan dan tidak akan menyerahkan apa yang pasukan Perancis inginkan. Rakyat sangat mengagungkan harga diri dan kesabaran, tapi ketika perjuangan mempertahankan negara dikumandangkan dan memenuhi kehendak rakyat, semua tantangan yang menghadang menjadi luluh dan hancur. Adnān bin Mundzir mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari panglima yang memimpin rakyat yang datang dari wilayah-wilayah Mesir, Syria, Arab Saudi, Maroko, dan lain sebagainya. Namun Adnān bin Mundzir tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya gerombolan manusia yang tidak terhitung jumlahnya. Ia tidak melihat raja dan mahkotanya di kepalanya atau panglima dan tongkat kebesarannya. Adnān berkata sementara ia telah terpesona oleh pemandangan yang ada di sekelilingnya. Jiwanya terbakar oleh semangat patriotisme Arab yang murni’.
Kutipan di atas merupakan bentuk patriotisme yang tumbuh dalam diri seorang Adnān bin Mundzir khususnya dan rakyat Arab pada umumnya sebagai bentuk patriotisme religius sebagaimana dikatakan oleh Sa′ad Zaghlūl, tokoh kemerdekaan Mesir pada tahun 1919 M. Sa′ad Zaghlūl mengatakan bahwa motto dari gerakan nasionalisme religius ialah patriotisme yang diartikan cinta kepada tanah air. Slogannya yang terkenal "Agama untuk Tuhan dan Negara untuk Rakyat" (Noer, 1993:95).
Senada dengan itu, Kohn (dalam Dardiri, tt :16) mengatakan bahwa patriotisme merupakan bentuk nasionalisme terbuka, yaitu cenderung ke arah kebersamaan dalam relasi-relasi dan basisnya adalah suatu masyarakat politis yang merupakan bangsa yang para warganya negaranya terlepas dari keturunan etnis maupun ras. Bukan pemahaman nasionalisme tertutup atau sempit yang menekankan karakter bangsa yang asli, asal usul ras maupun darah atau keturunan dan akar dari negeri leluhur.
Pemikir Inggris Richard Aldington (dalam Wardaya, 2002:42) mengatakan bahwa nasionalisme sering dipahami secara sempit sebagai sesuatu yang mutlak dan harus dibela mati-matian walaupun keliru sebagai gantinya digunakan istilah patriotisme bukan nasionalisme. Patriotisme menurutnya, adalah suatu rasa tanggung jawab kolektif yang hidup (a lively sense of collective responsibility) yang tentunya dibutuhkan dalam setiap bentuk kehidupan bersama pada tingkat lokal maupun internasional.
Bentuk nasionalisme religius Adnān ini tumbuh dalam dirinya untuk membela negaranya karena melihat banyak rakyat dari beberapa negara Arab ikut berjuang ke Mesir yang justru bukan merupakan batas wilayah geografis negaranya, sebagaimana dipahami dalam pengertian nasionalisme kenegaraan. Mereka ikut berjuang bukan karena seruan dari para panglima ataupun raja. Inilah bentuk rasa tanggung jawab kolektif yang hidup pada diri rakyat berdasarkan nasionalisme etnis sesama bangsa Arab dan nasionalisme agama sesama agama Islam. Bahkan, menurut Nuseibeh (1969:25) nasionalisme Arab beranggapan bahwa seluruh warisan Islam asal dalam bahasa Arab dan timbul dalam lingkungan Arab adalah warisan Arab pula.
قال: أعنى ما رأيك فى عتقها؟
أتريد أن تعتقها؟
ولم لا؟؟ إنّـهـا إنسانة نبيلة وحرام أن نسلها حريتها ((الكيلانى, 1961: 31)
“Maksudku, bagaimana pendapat Ibu untuk membebaskannya?”.
Apakah kamu ingin memerdekakannya?”
“Kenapa Tidak? Zumrudah adalah seorang manusia yang mulia dan kita tidak boleh merampas kebebasannya.”
Kutipan di atas merupakan dialog antara Adnān bin Mundzir dengan ibunya berkaitan dengan budaknya yang bernama Zumrudah. Walaupun perbudakan telah dihapuskan dalam sistem hukum Islam sejak era nabi Muhammad Saw tetapi prakteknya masih dilakukan masyarakat Arab sampai akhir abad XX sekarang ini. Perbudakan merupakan bentuk dehumanisasi, diskriminasi rasial, dan pelanggaran hak asasi manusia terbesar dalam sejarah manusia.
Permohonan Adnān kepada ibunya untuk membebaskan Zumrudah dari perbudakan dan harapan Adnān agar Zumrudah menjadi manusia merdeka merupakan bentuk paham nasionalisme yang anti kolonialisme. Adnān menganggap bahwa perbudakan tersebut merupakan kolonialisme terhadap diri orang lain, maka Zumrudah harus merdeka agar terbebas dari imperialisme manusia terhadap manusia yang lain. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip nasionalisme, yaitu kesatuan (unity), kebebasan (liberty), persamaan (equality), kepribadian (personalism), dan hasil usaha (performance) (Kartodirdjo, 1994:43).
إنّه إنسان, والإنسان الحقّ هو الذى يصهر آمله الكبرى- التى تتعلق بوطنه- مع آمله الفردية فى بوتقة ذاته, لكن إذا ما خيّر بين الإثنين, دفعته قيمه السامية ومبادئه الوطنيّة لأن يكون ابن قومه, وحارس مجتمعه, والمضحّى فى سبـيله بنفسه وآمله (الكيلانى, 1961: 200).
‘Ia (Adnān) adalah manusia dan manusia yang baik adalah yang meleburkan cita-cita besarnya yang berhubungan dengan tanah tumpah darahnya bersama harapan pribadinya dalam satu bejana. Akan tetapi, kalau ia harus memilih di antara dua hal ini, maka nilai-nilai agung kepatriotan pasti akan mendorongnya. Karena, ia adalah putra bangsa dan pengayom rakyatnya sehingga ia harus mengorbankan dirinya sendiri dan harapan dirinya’
Kutipan di atas merupakan bentuk aksi spontanitas Adnān ketika banyak melihat orang-orang berduyun-duyun maju ke medan perang menghadapi pasukan Perancis. Rasa kecintaan Adnān terhadap tanah air dan agamanya mengalahkan rasa cintanya kepada Zumrudah dan perasaan dendamnya kepada Tūrān Syāh dengan memilih pergi ke medan tempur di Mansyūrah. Sentimen nasionalisme yang terdapat dalam diri Adnān dan rakyat Mesir pada umumnya merupakan bentuk sentimen nasionalisme religius karena memperjuangkan agamanya, dirinya atau hak asasinya, kehormatannya serta hartanya dari kolonialisme universal yang dilakukan oleh pasukan Eropa di bawah pimpinan Perancis.
Menurut Badri Yatim (1985:71) apapun bentuk kolonialisme tidak pernah mau menerima pernyataan bahwa semua orang diciptakan Tuhan sama bahwa semua manusia dianugerahi oleh Penciptanya dengan beberapa hak tertentu yang tak bisa dicabut, di antaranya: hak hidup, hak akan kemerdekaan, dan hak untuk mewujudkan kebahagiaan. Kebebasan, persamaan, dan kebahagiaan merupakan kebenaran-kebenaran yang harus ada pada setiap indifidu tanpa mengharuskan asas-asasnya sendiri, artinya terwujudnya kemuliaan dan kehormatan seseorang jika hak asasinya terpenuhi. Lebih lanjut Badri Yatim (1985:82-83) menyatakan dengan mengutip pernyataan Bung Karno bahwa nasionalisme adalah sama dengan rasa kemanusiaan, nasionalisme dalam kelebaran dan keluasannya memberi tempat cinta pada lain-lain bangsa. Nasionalisme merupakan perkakas Tuhan dan membuat manusia hidup dengan ruh. Dengan nasionalisme ini, maka semua manusia merupakan bagian daripada manusia yang punya hak hidup, hak merdeka, dan hak untuk mewujudkan kebahagiaan.
وعمغم عدنان فى حزن: إذا لم يقض على توران شاه, فوداعا أيتها الحرية, ووداعا أيتها السعادة وأيها الشمم...أليس فى الناس من تأخذه نخوته, ويدفعه حبه لوطنه..؟ (الكيلانى, 1961: 170)
’Adnān bergumam, ”kalau dia tidak menghabisi Tūrān Syāh, ia akan mengucapkan selamat tinggal kebebasan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Tidakkah ada di antara manusia yang nekat menghabisi orang sombong ini karena cintanya terhadap negerinya?’
Kata-kata Adnān akan kebebasan, kebahagiaan, dan kemuliaan dari kutipan di atas adalah wacana nasionalisme modern yang diambil dari pokok-pokok isi Declaration of Independence USA dari Thomas Jefferson, Amerika Serikat yang mengandung prinsip-prinsip nasionalisme yaitu persamaan, kemerdekaan, dan persaudaraan (Yatim, 1985:76).
فقال الجندى فى دهشة:
((ويحك يا مارسيل!. لقد عدت إلى هرطقـتك وإلحادك))
كلاّ, بل أنتم المخدوعون, أتعتقد أننا نحارب من أجل الربّ حقّا؟
فلماذا نحارب حقّا؟؟
من أجل مطامع وأمجاد زائفة, تسعة أعشار الجنود لا يتحدثون إلا عن حياة النعيم فى الأرض الخضراء التى سوف نفتحها, أنسيت أننا استطعنا فى القرن الماضى أن نقيم مملكات منفصلة فى الشام؟ماذا كانت النتيجة يا عزيزى؟؟تقاتل وتناحر بين الملوك المسيحيين فى الشام كما نتقاتل الآن من أجل الغنائم التى حصلنا عليها بعد استسلام دمياظ, وتسابق من أجل المطامع, حتى طردنا المسلمون وانحسر ظلّ ممالكنا هناك))
(الكيلانى, 1961: 65-66)
’Prajurit itu berkata tanpa menyembunyikan keterkejutannya,
”Celakalah kamu Marsiel....! kamu telah kembali menyimpang.”
”Tidak sama sekali, bahkan kalian telah tertipu. Apakah kamu yakin bahwa kita ini berperang di jalan Tuhan?”
”Mengapa kita sekarang berperang?”
”Demi cita-cita dan kemuliaan palsu. Sembilan dari sepuluh prajurit hanya berbicara tentang kehidupan yang nikmat di bumi hijau yang akan kita buka. Apakah kamu lupa abad yang lalu kita telah mampu membangun kerajaan-kerajaan terpisah di negeri Syria? Apa hasilnya kawan? Raja-raja Kristen saling berperang dan membunuh di negeri Syria, seperti yang kita lakukan sekarang ini demi harta rampasan yang kita dapatkan setelah Dimyat jatuh ke tangan kita. Berlomba-lomba mencapai cita-cita palsu sehingga kaum muslimin mampu mengusir kita dan kekuasaan kita yang berada di sana terurai..’
Kutipan di atas merupakan dialog antara Marsiel seorang prajurit Perancis dengan temannya sesama prajurit tentang duka nestapa sebagai prajurit dan fantasi Marsiel tentang raja-raja Kristen yang telah menguasai negeri-negeri Arab, tetapi mereka berperang sesama mereka sendiri hanya karena harta rampasan perang sehingga kaum muslimin mengusirnya dan memulangkan mereka kembali ke negerinya sehingga Marsiel mempertanyakan tentang tujuan dari perang itu sendiri. Bahkan, Marsiel mempertanyakan apakah agresi ke Mesir ini merupakan bentuk perang di Jalan Tuhan atau dalam pengertian ajaran Islam dengan istilah Jihad dan ajaran Kristen dengan istilah perang Salib?.
Agresi pasukan Eropa ke Mesir ini bukan sebagai bentuk nasionalisme religius karena bukan dalam upaya mempertahankan diri dari serbuan musuh terhadap tanah air dan agama, melainkan melakukan pembukaan daerah baru untuk dijadikan daerah kekuasaan baru. Istilah yang tepat bagi Marsiel dan teman-temannya sesama prajurit adalah melakukan aksi patriotisme bukan nasionalisme karena nasionalisme menurut (Dardiri, tt:16) lebih tepat ditujukan kepada rakyat negara terjajah dan dijadikan modal untuk mengusir penjajah, adapun patriotisme dianggap sebagai aksi heroik atau kepahlawanan dan maknanya lebih universal bisa dipakai bagi negara penjajah maupun negara terjajah.
Penaklukan pasukan Eropa ke Mesir, Syria, dan negeri lainnya sebagaimana dinyatakan Marsiel dalam kutipan di atas merupakan bentuk nasionalisme tertutup karena menekankan pada kemurnian ras dan agama, seakan-akan agama sebagai alat pembenaran untuk melakukan ekspansi. Marsiel beserta prajurit lainnya hanya menjadi korban atau alat dari Raja-raja yang ambius kekuasaan dengan imbalan hanya mendapatkan sedikit harta rampasan perang setelah kejatuhan kota Dimyāth.
المدينة هائجة مائجة, والمتطوعون والعربان يفدون إلى المدينة, والمعركة آخذة فى الإشتداد والعنف, والمنصورة يوشك أن يكتسحها طوفان الدم (الكيلانى, 1961: 141)
Mansyūrah lautan api. Kaum sukarelawan dan bangsa Arab lainnya mendatangi Mansyūrah. Peperangan mulai seru lagi. Mansyūrah hampir menjadi lautan api.
Kutipan di atas menggambarkan kota Manshūrah menjadi pusat pertempuran antara pasukan Eropa dibawah pimpinan Perancis dengan bangsa Mesir beserta sukarelawan Arab lainnya. Ekspresi nasionalisme bangsa Arab untuk mendukung saudaranya di Mesir dari agresi pasukan Eropa merupakan luapan emosional spontanitas. Walaupun gerakan dan pemikiran nasionalisme Arab modern baru muncul pada abad XIX di Lebanon, tetapi dalam prakteknya sentimen nasionalisme Arab ini sudah terjadi pada abad XII. Nasionalisme Arab ini memuat dua pengertian: Pertama; qaumiyyah, yaitu nasionalisme dalam arti luas. Tujuannya antara lain; (1) mengintegrasikan seluruh kekuasaan yang ada di dunia Arab dari ekonomi, militer, dan sebagainya untuk menjadi suatu kekuatan politik; (2) menginginkan agar kepentingan nasional masing-masing negara Arab dilebur untuk mencapai kepentingan Arab secara luas. Kedua; wathaniyyah, yaitu nasionalisme dalam arti sempit, tujuannya mengutamakan kepentingan nasional masing-masing negara Arab.
Kombinasi kedua unsur nasionalisme Arab ini yang mampu menggerakan bangsa Arab dari agresi pasukan Eropa karena tidak semua bangsa Arab beragama Islam, mereka digerakan atas nama nasionalisme Arab yang berpegangan pada sebuah pepatah Arab ”Chubbul Wathan minal Īmān” yang berarti cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.
وكان دارتو متعجلا, يريد أن يحتل القصر السلطان ويرفع من فوقه الأعلام الصليبية, فيكون يذلك فاتح المنصورة وهازم المصريين, والسابق إلى المجد والنصر
(الكيلانى, 1961: 142)
’Dareto begitu tergesa-gesa ingin menguasai istana Raja dan mengibarkan bendera salib di atasnya sehingga dengan demikian ia adalah pembuka Mansyūrah dan penakluk bangsa Mesir. Orang pertama yang membukukan kemenangan dan kemuliaan’
Kutipan di atas menyatakan tentang ambisi pangeran Dareto adik raja Louis IX untuk langsung menguasai istana Raja dan menguasai secara keseluruhan kota Mansyūrah. Ambisi untuk mendapatkan kemuliaan bagi Dareto merupakan salah satu tujuan dari tiga tujuan nasionalisme, yaitu kehormatan, keagungan, dan kemuliaan.
Ketiga tujuan ini merupakan isi dari semboyan revolusi kaum nasionalis Perancis abad XVIII akan kebebasan, persamaan, dan kebahagiaan. Ambisi Dareto seperti layaknya pahlawan-pahlawan Perancis lainnya seperti halnya sosok Charles De Gaulle pasca perang dunia II. Charles De Gaulle memanfaatkan nasionalisme untuk membangun kejayaan, kebesaran, dan keharuman Perancis. Menurut Charles De Gaulle (dalam Adisusilo, 1993:22), nasionalisme tidak lapuk ditelan masa sebab setiap bangsa membutuhkan nasionalisme itu. Hanya saja, wujud, dimensi, dan nuansanya harus disesuaikan dengan tuntutan zamannya. Ada masa ketika nasionalisme sangat nampak dalam bidang politik, ekonomi, ideologi, budaya, dan hak asasi manusia. Nasionalisme itu wujud dan bidangnya memang multidimensional.
فأدرك جيل مافى كلام دارتوا من سطحية وسذاجة, ولهذا قال: ((ليس ذجرة الدر وحدها هي التى تؤجج المعركة...انظر يامولاي الأمير ألا ترى هذا الخليط من لابسى الجلابيب والقفاطين وزي الحرب. هو هذا الشعب الذى يحاربنا بالسواطير والعصى الغليظة والمناجل والفؤوس.هو الذى أوقف تقدمنا..لا شجرة الدر, لأنه يحميها هي الأخرى كما يحمى أرضه ونفسه ومثله العليا.... (الكيلانى, 1961: 150)
’Geil memahami ucapan lugu Daretto, lalu berkata, ”Bukan hanya Syajaratuddur saja yang mengobarkan perang ini. Lihatlah Tuan Pangeran! Tidakkah tuanku mengamati kerumunan orang-orang yang memakai jilbab dan jubah besar. Lihatlah rakyat yang memerangi kita dengan cambuk, tongkat, sabit, dan kapak. Mereka inilah yang menghentikan laju kita ...bukan Syajaratuddur. Karena rakyatlah yang melindunginya dan melindungi tanah tumpah darah mereka’
Geil merupakan panglima pasukan Perancis yang ikut dengan pangeran Dareto (adik kaisar Louis IX) dalam penyebuan ke Mansyūrah. Pernyatan Geil bahwa rakyat sebenarnyalah yang berjuang melindungi tanah tumpah darah bukan Syajaratuddur dalam kutipan dialog di atas merupakan ungkapan nasionalisme. Dalam nasionalisme terkandung prinsip demokrasi dan demokrasi melahirkan bentuk pemerintahan yang dipilih oleh rakyat. Kekuatan rakyatlah yang dapat mempertahankan Mesir dari penyerbuan bangsa Eropa dan bukan karena figur pemimpin karena pemimpin dipilih oleh rakyat.
وقد كان دارتوا صادقا تمام الصدق فيما قال, لأن عنصر التمزق كان جليا بين قوات العدو, وكان افتقادهم لمعنى الوحدة نذير شر لهم فى ذلك اليوم المشهود (الكيلانى, 1961: 156)
’Daretto baru sadar dengan apa yang ia katakan. Karena benih cerai berai jelas terlihat di pihak musuh. Hilangnya arti sebuah persatuan merupakan sebuah tanda buruk bagi mereka di hari bersejarah’
Kutipan di atas menceritakan tentang kondisi Dareto beserta pasukan Eropa lainnya yang terdesak oleh pasukan Mesir dan banyak pasukan Eropa yang melarikan diri karena kepungan pasukan Mesir dan kekalahan sepertinya sudah di depan mata. Dareto menganggap bahwa ini diakibatkan telah tercerai berainya pasukan dan hilangnya persatuan dan kesatuan dalam pasukan Eropa.
Persatuan dan mempertahankan kesatuannya merupakan salah satu fungsi utama dari tiga fungsi utama nasionalisme, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo, Arnold Toynbee, dan Louis Snyder (dalam Adisusilo, 1993:21) bahwa nasionalisme masih mempunyai fungsi utama; (1) memberi landasan kognitif bagi setiap warga negara untuk mengenal jati dirinya dan bangsanya sehingga ada kebutuhan terus mau bersatu dan mempertahankan kesatuannya; (2) memotivasi seluruh bangsa untuk mengejar dan mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan, keadilan, dan kebahagiaan secara invidual maupun secara kolektif; (3) memberi arahan ke tujuan bersama sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada sehingga tidak ada yang menjadi korban dan dikorbankan dalam mengejar tujuan bersama.
Tema dasar novel Al-Yaumul Mau'ūd terletak pada nasionalisme, tapi bukan pengertian nasionalisme sempit yang hanya mempertahankan, membela, dan mengikuti panggilan negara untuk berjuang, tetapi nasionalisme yang dibungkus dalam sentimen agama. Untuk membangkitkan perasaan nasionalisme, maka dibangkitkan juga semangat religius bahwa setiap peperangan pada dasarnya membela agama, baik pada pihak Mesir maupun pihak Perancis, tetapi sebenarnya kepentingan agama hanya sebagai kedok untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.
وسمعت ياقوتة هاتفا:
((يا أهالـى المنصورة يا جنود الله...الجهاد..الجهاد...لقد دخلت خيول الفرنجة شوارع المدينة)) (الكيلانـى, 1961: 137)
Tiba-tiba Yāqūtah mendengar seruan, "Wahai penduduk Manshūrah, wahai pejuang Islam…berjihadlah..berjihadlah…pasukan Perancis telah memasuki kota.".
وفـى هذه الأثناء تلقت القاهرة رسالة من المنصورة تقول:
هاجم العدو المنصورة....الحرب قائمة.....القتال بين الفرنج والمسلمين شديد. (الكيلانـى, 1961: 138)
"Dalam keadaan panik itu, Kairo telah memperoleh surat dari Manshūrah yang berbunyi,"Musuh telah menyerbu Manshūrah..Perang telah dimulai, dan peperangan antara kaum muslimin dan pasukan Perancis berlangsung seru."
Kedua kutipan teks di atas menyatakan tentang sentimen agama yang kembali didengungkan untuk membangkitkan perasaan nasionalisme rakyat Mesir yang mayoritas muslim melawan pasukan Perancis dan Eropa yang mayoritas Kristen. Bentuk nasionalisme ini dinamakan sebagai nasionalisme religius. Kenyataannya dalam sejarah dinyatakan bahwa gerakan Islam khususnya telah berhasil untuk pertama kali mempersatukan bangsa Arab. Sebenarnya gerakan nasionalisme Arab berhutang budi kepada Islam. Dengan mengabaikan penafsiran secara fatalistis dan mekanis mengenai peristiwa-peristiwa sosial, baik berdasarkan agama, ekonomi, dan faktor-faktor lainnya. Islam dinilai sebagai kekuatan kreatif dalam membentuk bangsa Arab. Dengan demikian asas yang menyatukannya adalah agama dan bukannya kebangsaan, istilah persatuan Arab dan persatuan Islam sama artinya, istilah nasionalisme Islam dan nasionalisme Arab juga sama artinya (Nuseibeh, 1969:18-19)..
KESIMPULAN
Konsep nasionalisme religius yang ditawarkan oleh Najīb al-Kīlānī dalam novel Al-Yaumul Mau'ūd merupakan bentuk perpaduan atau kombinasi dari beberapa pemahaman nasionalisme, yaitu pertama, nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil), yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, kehendak rakyat, dan perwakilan politik; kedua, nasionalisme etnis, yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat; ketiga, nasionalisme budaya, yaitu negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya sifat keturunan seperti warna kulit, ras dan sebagainya; dan keempat, nasionalisme romantik, yaitu negara memperoleh kebenaran politik secara organik hasil dari bangsa atau ras menurut semangat romantisme.
DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo, 1993, ”Nasionalisme tetap relevan studi kasus nasionalisme Charles De Gaulle” dalam majalah Widya Dharma, Th. IV, no 1, Universitas Sanata Darma, Yogyakarta.
Al-'Arīnī, 'Abdullāh Shālih, 1989, Al-Ittijāhul Islamī fi A’māli Najīb Al-Kīlānī al-Qashashiyah, Jāmiah Imām Muhammad bin Su’ūd Al-Islāmiyah, Riyādh.
Al-Kīlānī, Najib, 1961, Al-Yaumul Mau'ūd. Wazārah At-Tarbiyyah wa At-Ta'līm, Mesir.
Bosworth, C.E, 1980, “Dinasti-dinasti Islam” (diterjemahkan dari buku The Dinasty of Islam oleh Ilyas Hasan). Mizan, Bandung.
Culler, Jonathan. 1975, Structuralist Poetics: Structuralism Linguistics and The Study of Literature, Routledge & Kegan Paul, London and Henly.
Dardiri, A, Tt, “Nasionalisme dalam Konteks Sejarah” dalam Jurnal Filsafat, seri 17, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
Junus, Umar, 1985, Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar, Gramedia, Jakarta.
Kartodirdjo, Sartono, 1994, Pembangunan Bangsa, Aditya Media, Yogyakarta.
Lapidus, Ira M, 1999, "Sejarah Sosial Ummat Islam bagian I dan II" (diterjemahkan.oleh Ghufron A. Mas'adi), Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Noer, Muhammad, 1993, “Islam dan Nasionalisme Arab”. Journal Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka kerja sama dengan Asosiasi Politik Indonesia dan LIPI, Jakarta.
Nuseibeh, Hazem Zaki, 1969, Gagasan-gagasan Nasionalisme Arab, (diterjemahkan oleh Sumantri Mertodipuro). Yayasan Dana Buku Indonesia, Jakarta.
Ratih, Rina, 1994, Metodologi Penelitian Sastra, Cet. III, Hanindita Graha Widya, Yogyakarta.
Siradj, Said Aqiel, 2001, Revitalisasi Ummatan Wahidah: Menuju Pemberdayaan Masyarakat dan Warga Negara. UGM dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Teuww. A, 1984, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta.
Wardaya, Baskara T. 2002. “Nasionalis Humanis-Universal: Menjawab ajakan Pasca Nasionalismenya Romo Mangun” dalam Majalah BASIS, no 11-12, Yayasan BP Basis, Yogyakarta.
Yatim, Badri, 1985, Soekarno, Islam dan Nasionalisme: Rekonstruksi Pemikiran Islam-Nasionalisme, Inti Sarana Aksara, Jakarta.
http://www.gaulislam.com/islam-dan-nasionalisme/14 August 2006, diakses pada tanggal 20 agustus 2007
http://ar.wikipedia.org/wiki/12 Mei 2007, diakses pada tanggal 20 agustus 2007
Selasa, 26 Mei 2009
bahasa arab
قضيّة تعريب المصطلحات العلمية الحديثة وكيف عالجها
إعداد : مُهَنْدِسْ اَلزُّهْرِى الليسن الماجستر
ملخص
تمثل اللغة أهم مقومات شخصية أي أمة من الأمم، حيث تميزها عن غيرها من الأمم، كما تعبر عن واقع الأمة من حيث التطور أو التخلف ومن حيث القوة أو الضعف. فعندما تكون الأمة قوية وعزيزة فإن لغتها تعتز بعزتها وتزداد انتشاراً، وعندما تضعف الأمة فإن لغتها تزداد ضعفاً وخمولاً ويدل على ذلك واقع اللغة العربية في الوقت الراهن والحاضر مقارنة بواقعها عندما كانت اللغة العربية أصبحت أكثر من خمسة قرون لغة العلوم والتكنولوجيا العاصرة في جميع الميادين؛ خاصة فى عصر الذهبى الوسطى الإسلامى وخير مثال على ذلك كتاب القانون فى الطبّ لابن سينا, والعالم خوارزمى فى الرياضيات, والعالم الكندى فى الفلسلة, والعالم ابن بوتانى فى علم النبت وغيرها.
ومن المسلَّم به أنّ اللغة العربية مستعملة كثيرة من أهالى الدول العربية والإسلامية منـتشرون من بلاد المغرب (Marokko) - أفريقيا غربيّة - إلى مدينة مريقى (Merauke) فى جزيرة فافيا – إندونيسيا حوالى 500 مليون نسمة. لا شكّ أنّ اللغة العربية قادرة على مواكبة النهضة العلمية والتكنولوجيا المعاصرة على أهالى تلك الدول في هذا العصرى في جميع مجالاتها العلمية. واللغة العربية لغة حية غنية بالمفردات والاشتقاقات مما يمكنها من استيعاب جميع الألفاظ المعربة من لغات أخرى ويمكنها تعريب المصطلحات العلمية الحديثة كما أن ترجمة الكتب والأبحاث العلمية سيؤدي إلى التواصل مع المستجدات العلمية فضلا على أنّ الثقافة والحضارة العالمية وتطوير العلوم الحديثة والتكنولوجيا المعاصرة الحالى بداية من الكتب والنسخات والمخطوطات العربية.
الكلمة الدليلية: اللغة العربية, الألفاظ المعربة, المصطلحات العلمية الحديثة.
المقدمة
الحمد لله الذي لم يزل عليا ولم يزل فى علاه ثنيا إذا عاملته وجدته مليا وإذا عاهدته وفيا, فطرة من بحر جوده تملأ الأرض ربّا ونظرة معين تصير الكافر وليا, الجنّة لمن أطاعه ولو عبدا حبشيا والنار لمن عصاه ولو شريفا قريشيا, اللهم صلّ وسلّم على محمد صلى الله عليه وسلم لو رأيته وجها قمريا وحبيبا أزهريا, وقال تعالى فى قوله قولا بهيا (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ) .
اللغة العريبة هي من أقدم اللغات فى العالم التى تقال من السامية مع اللغات العبرية, والأرامية والسريانية والكنعانية والحبشة , واللغات السامية لها علامة متساوية خاصة بثلاثة جذور الكلمات ومتساوية فى تكوين جذور الأسماء والأفعال والضمائر , ومثال على ذلك جذور كلمة " ك- ت – ب" .
والعرب لهم أقوال بقدم لغتهم, فقد أخرج ابن عساكر فى تاريخه عن ابن عباس أن آدم كانت لغته فى الجنة العربية, وأورد أبو حام الرازى فى كتابه – الزين- أن أنبياء العرب القدماء – هود وصالح وشعيب كانوا يتكلمون العربية ونقل إلينا بعض الرواة أبيات شعر تعود إلى أيام النبي هود والنبي صالح والنبي برخيا وجاءنا كلام وأشعار من يعرب بن قحطان وغيره من رؤساء القبائل العربية البائدة عربية لا سامية .
و عرفنا أنّ اللغة كما مبنية من علماء الألسنيات هي من أهم الوسائل التى يملكها الإنسان للتفاهم والترابط مع الآخرين وأيضا لتبادل ونقل الأفكار, وللتعبير والتعريف, وهي جزء أساسى منه. كذلك الحقيقة العلمية التى تقول إن اللغة تتطور وتنمو مع الإنسان والعكس صحيح, كما أن اللغة تعرف بأنها كائن حي ديناميكى متحرك متغير مثل كل الكائنات الحية .
أولا- مفهوم العلم و التعريب
منذ بداية القرن السابع عشر ميلادي, اصطلاح "العلم" (sains) وصفاته "العلمية"(saintifik) له معان متعدّدة. العلم هو فلسفة تأمّلية الذى يشتمل على علوم الطبيعية, والرياضيات, والأدب بعكس على علوم الليبرالية أم تقنية الفنّية كالموسيقى, والشعر, والنحو, والخطابة, وفنّ الحوار والجدل .
وفى الإسلام, العلم (العلوم) هو الفنّ (الفنون) ومنبع العلوم الذى لا يقتصر بالوحي الإلهى والعلوم الدينية ققط بل يشتمل على العلوم الطبيعية والحقائق التاريخية. وقد اصطلح القرآن علوما بالآيات والكلمات لترشيد آياتها الكونية وتصوّراتها العالمية, ومناهج العلوم لايقتصر أيضا على تنوير الحواس الخمس بل على تنوير الحقائق والوقائع العلميّة الطبيعية, ولتصحيح الحقائق العلمية والإتصالات العلوم المبذولة محتاجة بلغة مناسبة وبليغة. واللغة العربية هي من إحدى اللغات التى تمكنها توضيح معان المفردات المتغيّرة غير ثابتة عن مجالات العلمية الحديثة والتكنولوجيا المعاصرة, لأن اللغة العربية هي لغة حية غنية بالمفردات والاشتقاقات مما يمكنها من استيعاب جميع الألفاظ المعربة من لغات أخرى، كما أن ترجمة الكتب والأبحاث العلمية سيؤدي إلى التواصل مع المستجدات العلمية.
يحدد د. بلاسى مفهوم التعريب الذى يعنى أن تتفوّه العرب باللفظ الأجنبى على منهاجها وطريقتها, ومن ثم يقصر التعريب على الكلمات الأجنبية التى دخلت العربية ويقسمها إلى أطوار ثلاثة, هي :
1- المُعرّب : وهو ما استعمله العرب الفصحاء من الألفاظ الموضوعة لمعان فى غير لغتها, وقد اصطلح المحدثون من الباحثين على أن العرب الفصحاء هم عرب البدو من جزيرة العرب إلى أواسط القرن الرابع الهجرى, وعرب الأمصار إلى نهاية القرن الثانى الهجرى, ويسمّون هذه العصور بعصور الاحتجاج.
2- المولّد: وهو ما استعمله المولدون (وهم الذين ولدوا بعد عصور الاحتجاج) من ألفاظ أعجمية لم يعربها فصحاء العرب.
3- المحدث أو العامى: وهو ما عربه المحدثون فى العصر الحديث وشاع فى لغة الحياة العامة.
ويضيف الدكتور البلاسى: ((إن الطريقة المثلى فى نقل مدلولات المكاشفات الأجنبية والاختراعات العلمية والاصطلاحات فى شتى المجالات, هي: ألا نلجأ إلى التعريب وهو أشدها خطرا على لغتنا الخالدة إلا بعد أن نكون قد بذلنا الجهد فى كل وسيلة قبلها, فالترجمة أولا, فإذا لم يوجد للفظ الأجنبى مقابل عربى فاشتقاق ثانيا, فإذا عجزنا نعرب اللفظ الأجنبى تعريبا مطابقا لقواعد اللغة وصقله وفق أوزان لغتنا ومنطق لساننا, حتى يشبه اللفظ العربى الفصيح, وبذلك نترك اللغة العربية للخلف من بعدنا كما تركها لنا آباؤنا الأولون)), فلذلك أصبح كلمة "البنكرياس" (pankreas) "معثكلة" و "البروستاتا" prostata)) "موثة". بينما يذهب الناس إلى استخدام الأيسر والأقرب .
يقول د. المناوى: (( إن التعريب عكس التغريب, والفارق الظاهر للعيان بينهما (نقطة). إلا أنه فى جوهره إما أن يكون اختراقا أو احتراقا. إننا إن استطعنا أن نصل إلى درجة التعريب الكامل, فسوف نخترق الثقاقات الأجنبية السريعة التطور يوما بعد يوم. وأما إذا لم نستطع أن نبلغ هذه الدرجة فإننا – لامناص-سوف نحترق الثقافات الأجنبية بتفوّق الأحانب علينا علميا وهو ما يؤدى بالضرورة إلى تفوّقهم الاقتصادى والاجانب علينا علميا, وهو ما يؤدى بالضرووة إلى تفوّقهم الاقتصادى والعسكرى والتكنولوجيا بدرجة تجعلنا فلا عداد الدول لن نستطيع اللحاق بهم بعد ذلك)). فكأنه يرى ان نـهوض العرب علميا هو مسألة لغوية! وهو يرى أن تمزّق العرب الفكرى, إلى جانب الاضطراب الروحى فى بعض أقطارهم, ومكانة الغرب فى عقول المثقفين العرب, أضاع الثقة باللغة العربية .
ثانيا- أهمية التعريب اللغوى والعلمى والقومى
إن للتعريب أهميات لغوية كثيرة فهو يساهم في إثراء اللغة العربية لدى الأستاذ حيث يتعمق بلغته أكثر مما يقتضي الابتكار والإبداع.
إن تدريس المواد العلمية باللغة العربية يحفز بصورة تلقائية المدرس والمترجم إلى ترجمة هذه المواد باللغة العربية مما يدفعه إلى الأمام ولدعم تجربته وممارسة الترجمة.
وهناك أهمية لغوية أخرى للتعريب وهي الخوض في ألفاظ لغوية ترد إلى لغات أجنبية وردها إلى جذورها العربية، وهذا يفتح ويسهم في إثراء الدراسات اللغوية المقارنة فقد تعرف الدارسون والباحثون العرب على الكثير من الألفاظ المشكوك فيها وفي معرفة ألفاظ ومصطلحات غريبة هي في الأصل عربية مثل مصطلحات المعادن وألفاظ أثبتها علماء العرب بعد أن شكك علماء الغرب بأصلها وردوها إلى أصولها العربية؛ فمكنت الدارسين من الوقوف في وجه الدخيل الذي لا يتناسب والذوق اللفظي العربي .
فإن أهمية التعريب العلمية هي ربط التراث العلمي القديم بمستجدات العلوم الحديثة للنهوض بالأمة؛ فنعيد صقل تراثنا العلمي من جديد بلغتنا القومية بقالب علمي حديث يوصلنا إلى التقدم العمي، ويخرجنا من ردهات الثبوت ويجد لنا مكاناً بارزاً وهاماً إلى جانب الحضارات المتقدمة الأخرى، "لم تقم نهضة علمية حقيقية في عالمنا العربي والإسلامي حتى الآن، ولم نتقدم صناعياً وتكنولوجياً لأننا نجتر أساليب الغرب ومعرفته اجتراراً ونقلدها تقليداً دون أن يكون ذلك جزءاً من تكويننا الفكري والاجتماعي" .
للتعريب أهمية علمية على المستوى القومي إذ يرفد الأمة بعلوم العصر ويساهم في تنمية المجتمع عامة فيكون العلم في تناول الجميع مما يساعد على ازدياد الوعي وتنامي الجماهير عامة.
ولعل التعريب يساهم في فتح آفاق علمية واسعة ويساهم في إيجاد التكنولوجيا وإبداع المشتغلين بالعلوم مما يؤهلهم إلى الابتكار العلمي حين يتعمقون في فهم التعريب بلغتهم، لأن اللغة القومية تكون هي لغة الأفكار والأحاسيس للإنسان، ومن خلال التجارب التي قيست في الجامعات، وجد أن أهمية التعريب في المستوى العلمي، تساهم في انخفاض نسبة الرسوب، إضافة إلى ازدياد نسبة الوعي والفهم، ففي أواسط الستينات في الجامعة الأمريكية في بيروت، أجريت تجربة على مجموعتين من الطلاب: الأولى تلقت المادة العلمية بالعربية والأخرى بالإنجليزية بتوزيع متكافئ للطلاب؛ فوجد أن نسبة الوعي والفهم والاستيعاب بالعربية 76% في حين ان الفهم في اللغة الإنجليزية 60% .
إن أهمية التعريب قومياً تأتي في أنه يوحد العرب في لغة الحوار الموحدة والمعروفة لديهم، أضف إلى أن اللغة قادرة على إيجاد كيان عربي موحد، يتمتع بمركزية عربية قوية " اللغة مكون أساسي من مكونات هويات الأمم" .
لذلك فإن من شأن التعريب أن يصبغ الحياة بصبغة عربية، وهو مظهر من مظاهر التوحيد الفكري لشعوب مقسمة إلى كيانات سياسية مختلفة؛ لذلك فإن عامل التوحيد قومياً مهم لأبناء الأمة العربية الواحدة ولا بد من أن تركز الأمة على حضارتها ودينها من جديد "والآن وقد تخلصنا من الاستعمار المباشر في صوره العسكرية والسياسية، والذي شل قدراتنا على الحركة ، فإن واجبنا الديني والقومي أن نتابع حركة التحرر الوطني، ونقبل بها إلى غايتها المنطقية بأن نرفد ثورتنا السياسية التي خرّجنا بها الاستعمار المباشر بثورة ضارية نعيد بها النظر في كل مجالات حياتنا، فننفي عن وجودنا كل مظاهر التخلف والجمود وموروثات الاستعمار ونظمه" .
ثالثا- التعريب والترجمة العلمية
نحن نعيش عصرا تتحدد فيه أهمية الأمم بقدر ما تنجزه فى مجال العلوم وتطبيقاتها التقنية, أهمية الترجمة العلمية نتيجة من الإنفجار المعرفى, والتقدم التكنولوجى الهائل فى جميع مجالاته الحياة, وتزداد هذه الأهمية بالنسبة لعالمنا العربى.
أن الترجمة العلمية فى عالمنا العربى يعد من الأسباب الرئيسية وراء تعثر جهود تعريب التعليم الجامعى, وهناك الإطار العام لمنظومة الترجمة العلمية :
أ- المصادر الأجنبية للترجمة العلمية يلخصها فى النقاط التالية:
1- العلوم الأساسية وتشمل الرياضيات والمنطق والإحصاء والطبيعة والكيمياء والبيولوجى.
2- علوم الكون والفضاء
3- علوم البيئة
4- العلوم الإنسانية وتشمل علوم اللغة وعلم النفس وعلم الإجتماع والأنثروبولوجى.
5- تكنولوجيا المعلومات والاتصالات.
6- تكنولوجيا الطب والدواء
7- تكنولوجيا الصناعة والتعدين
8- تكنولوجيا الزراعة
9- تكنولوجيا التعليم
ب- المترجم العلمى العربى
ج- الناشر العلمى العربى
وقد أدرجت منظمة الترجمة العربية بيروت مجموعة من الكتب العلمية الأساسية ضمن برنامجها الحالى. من وجهة نظر أخرى, يجب ألا يقتصر النشر فى مجالات الثقافة العلمية على النشر المطبوع بل يجب أن يشمل النشر الإلكترونى أيضا بعد أن انتشر استخدام تكنولوجيا الوسائط المتعددة (multi media) فى الثقافة العلمية وشبكة الإنترنت فى تقديم خدمات الثقافة العلمية للمستويات المختلفة.
د- المتلقى العربى والذى يحتل موقع القلب داخل المنظومة.
تصنيف المتلقى العربى لمنتجات العلمية إلى أربعة مسويات:
1- مستوى الأطفال: تستهوى الصغار كتب الخيال العلمى والاكتشافات والانجازات العلمية, وكثيرا ما تلجأ هذه المؤلفات إلى استخدام أسلوب التناظر (analogy) بهدف تقريب المفاهيم لذهن الطفل, كإستخدام صناديق البريد لشرح كيف تعمل ذاكرة الكمبوتر, ولا يتطلب هذا المستوى مترجما متخصصا.
2- مستوى العامة ومتوسطي التعليم: وهذا يتطلب من المترجم إلماما كافيا بالموضوع.
3- مستوى المتعلمين: والترجمة العلمية, هنا تستهدف قارئا متخصصا ذا مستوى تعليمي عال.
4- مستوى الباحثين المتخصصين: ويهدف إلى ترجمة المقالات العلمية فى مجالات المعرفة المختلفة وتوجه إلى الباحثين المتخصصين.
وترتكز هذه المنظومة على مجموعة من البنى الأساسية (التحتية) وتشمل:
- المعاجم والقواميس والمكانز
- بنوك المصطلحات
- فواعد النصوص المترجمة إلى العربية
- مؤسسات تأهيل المترجمين من كليات ومعاهد ومراكز تدريب متخصصة.
تتفاعل منظومة الترجمة العلمية خلال شبكة من العلاقات مع منظومة الخارجية
10- منظومة التربية
11- منظومة الإعلام
12- تكنولوجيا المعلومات
13- دور النشر الأجنبية
تعد علاقة منظومة الترجمة بمنظومة التربية أهم العلاقات التى تربطها بخارجها, وتتمحور هذه العلاقة حول مسألة تعريب التعليم الجامعى. ومن المعروف أن كثيرا من الأكاديميين العرب يناهضون حركة التعريب مما أدى إلى إجهاض معظم الجهود الساعية لتحقيق هذه الغاية.
أما علاقة منظومة الترجمة العلمية بمنظومة الإعلام, فتتركز حول دور الإعلام فى إشاعة الثقافة العلمية لدى فئات جماهيره المختلفة, والإعلام العربى دور أساسى فى إثراء المصطلحات العلمية وترسيخها, فأجهزة الإعلام هي أول من يستقبل الجديد فى مجالات العلم وتطبيقاته, وهذا يفرض الإعلام أن يكون سبّاقا إلى تناول المفاهيم العلمية الجديدة وعليه مسئولية استعراب واستحداث مصطلحاتها وإشاعتها بصورة سليمة.
اما علاقة منظومة الترجمة العلمية بتكنولوجيا المعلومات فأهم جوانبها, هي تلك المتعلقة بالترجمة الآلية, والتى يتوقع الكثيرون أن تلعب دورا أساسيا فى الترجمة العلمية, وقد حققت ذلك بالفعل فى الترجمة ما بين الإنجليزية ةالفرنسية. تشمل علاقة الترجمة بتكنولوجيا المعلومات أمورا أخرى مثل: نظم الفهرسة الآلية, والتلخيص التلقائى, وبناء القواميس الإلكترونية.
وأما علاقة منظومة الترجمة بدور النشر الأجنبية, فتتركز أساسا على الجوانب الخاصة بحقوق النشر والملكية الفكرية لمؤلفى النصوص الأصلية.
وفى عصر الذهبى الوسطى الإسلامى خاصة فى عصر الخلافة هارون الرشيد ببغداد, هناك كثير من المترجمين الإسلامى من الدول العربية والفارسية والهند, ومنهم أبو زكريا يوحانا ابن موسى هو طبيب من جندى شابور ومدير دار الحكمة ببغداد, و ابو سهل الخرشزمة مترجم مخطوطات علوم الرياضيات إلى اللغة العربية, وأبو حافظ عمر فاروحان الطبرى مدير المدرسة الترجمة, وإبراهيم ابن حبيب الفزرى مترجم مخطوطات علوم الرياضيات الهندى بالقرن الخامس ميلادى إلى اللغة العربية وكما قال البيرونى انتهى الترجمة فى السنة 770-771 م, واستيفان القديم مترجم مخطوطات علوم الكيمياء بأمر خليفة خالد بن يزيد بن معاوية, وأبو يحيى البتريك مترجم مخطوطات علوم الطب والفلسفة أغريق خاصة مخطوطات أرستوتيلس (Aristoteles) وهيبقراتس (Hippocrates) وكتابه المترجم هو "سرّ الأسرار" بتأليف Aristoteles بموضوع "تنظيم الحكومة", وحنين بن إسحاق (المـتوفى 264 هـ) أكبر مترجم من المترجمين المخطوطات القديمة باللغة العربية, ومن كتابه المترجم هو كتاب Timaeus بتأليف plato, ثابت بن قرّاء الهرانى (829-900 م) من هران مترجم مخطوطات اليونانية فى العلوم الطب والرياضيات لأرجيميدس (archimedes), وأبلونيوس (Apollonius) وغيرها.
رابعا – أزمة اللغة العربية
امام التفجر المعرفى الهائل فى المواقع المتقدمة من عالمنا, والتى أفرزتها ثورتا المعلومات والاتصالات, بات واضحا أن هناك أزمة تعريب, ينادى بعض المخلصين بضرورة الإسراع فى حلها, لكن هناك ضرورة لتأكيد أن هذه الأزمة, ما هي إلا فرع من الأزمة الأم للغة العربية ذاتها.
إن موت اللغة العريبة أمر مستبعد فى المستقبل المنظور, لأسباب يشير إليها الدكتور عبد السلام المسدّى بمنطق تاريخى, إذ يقول: لأول مرة فى تاريخ البشرية_ على ما نعلمه من التاريخ الموثوق به- يكتب للسان طبيعى أن يعمّر 17 قرنا محتفظا بمنظومته الصوتية والصرفية والنحوية, فيطوعها جميعا ليواكب التطور الحتمى فى الدلالات دون أن يتزعزع النظام الثلاثى من داخله, بينما يشهد العلم فى اللسانيات التاريخية و المقارنة أن القرون الأربعة كانت فيما مضى هي الحد الأقصى الذى يبدأ بعده التغيّر التدريجى لمكونات المنظومة اللغوية)) .
ويعضد رؤية الدكتور المسدى فى استبعاد موت اللغة العربية, حتى على مستوى الدولى, شهادة من الوزن الثقيل لمفكر غير عربى, فقد أعلن الكاتب الإسبانى ((كاميلو جوزى سيلا)) – الحائز على جائزة نوبل فى الآدب عام 1989- عن تنبؤاته المستقبلية وتقديراته الاستشرافية حول مصير اللغات الإنسانية بقوله (( إنه نتيجة لثورة الاتصالات سوف تنسحب أغلب اللغات من التعامل الدولى وتتقلص محليا ولن يبقى من اللغات البشرية إلا أربع قادرة على الوجود العالمى والتداول الإنسانى, وهي الإنجليزية والإسبانية والعربية والصينية)) .
واضح أن رأي (سيلا) مستندا إلى ركائز لعل أهمها ضخامة الكتلة البشرية التى تستخدم هذه اللغة أو تلك بدرجة ما من التجانس. وأيّا كان الأمر فإننا سلم بعدم موت اللغة العربية , لكننا لا نستطيع التسليم بنفي مواتها المحتمل إن استمر منحنى الهبوط على ما هو عليه من تسارع وتفاقم – والذى يخـتلف عليه مراقب موضوعى, هنا أو هناك, إلا فى تقدير حجم هذا الاعتلال وتقييم خطورة أعراضه.
لا مراء فى أن (( أزمة التعريب)) هي حقيقة واقعة وخانقة, ولكنها – بداهة – نتيجة ل ((أزمة أم)) هي أزمة اللغة العربية ذاتها, وهما معا – أزمة اللغة العربية وأزمة التعريب- نتاج أزمة عربية أشمل تتعلق بالتراجعات الاجتماعية والاقتصادية والسياسية على المستوى الكيان العربى الجامع- دون أي ادعاءات قومية- فلأسباب عديدة وجغرافيا, وثقافية, وتاريخية, واقتصادية وبيئية, وثمة تأثير وتأثر شديدا الوضوح بين الأقطار العربية,وكأنها الأوانى المستطرقة يلحق بعضها بعضا فى الهبوط أو الصعود, مهما كانت درجات الاختلاف.
خامسا- المشاكل التعريب:
واجهت قضية التعريب منذ إن بدأت في العصر الحديث مشاكل عدة، ولعل احتدام تلك المشاكل بدأ مع بداية الاستعمار الأوروبي للوطن العربي،إذ ألغي التعريب في مصر ولبنان واستمر في سوريا.
ورغم استقلال الدول العربية من الاستعمار مع أواسط القرن الحالي، ورغم إنشاء المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم ومؤسساتها ، ورغم نداءات المؤتمرات والندوات إلا أن هذا لم يحد كثيراً من مشاكل التعريب، بل بقيت مشاكله قائمة في كل الدول العربية تتفاوت من قطر إلى قطر. لكنها متقاربة في المشاكل الكبرى. وهذه المشاكل هي :
1- مشكلة الكتاب الجامعي:
هذه المشكلة تعيق التعريب، فالمراجع العلمية باللغة العربية نادرة وقليلة ، ولعل سبب ذلك يعود إلى مشكلتي التأليف والترجمة. فعلى صعيد التأليف: نجد أن الكتب العلمية المؤلفة باللغة العربية قليلة جداً إذا ما قيست بالكتب المترجمة والكتب المؤلفة باللغة الأجنبية،ولعل سبب ذلك يعود إلى عدم وجود مؤلفين أكفاء باللغة العربية، وإن وجدوا فهم قلة. وعملية التوزيع، إذ الكتاب العلمي المؤلف باللغة العربية يواجه مشكلة في التوزيع ومشكلة الطباعة والإخراج الفني غير الدقيق.
أما على صعيد الترجمة، فإن الكتب المترجمة أيضاً قليلة على الرغم من وجود مكتب للتعريب والترجمة والنشر تابع للمنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم بدمشق إلا أنه حديث العهد تأسس (1991م)، وعلى الرغم من ذلك تبقى المشكلة قائمة والسبب يعود في ذلك إلى عدم وجود الترجمة الفورية لما يستجد من أبحاث في مجالات المعارف والعلوم عدم ترجمة الكتاب بطبعاته الجديدة إذ الكتاب يصبح قديماً في معلوماته إذا لم يلاحق ويترجم كل جديد في الكتاب الأصل. و الكتب المترجمة لا تفي بالغرض لقلتها، ففي السودان مثلاً ما بين عامي 1970-1980 لم يترجم أي كتاب في حين أن كل ما ترجم في الأردن إلى حدود 1985 لم يتجاوز 50 كتاباً وفي تونس 92 كتاباً . وكذلك قلة المترجمين الأكفاء ذوي القدرة والخبرة. لذلك تبقى المكتبة العربية بشكل عام تفتقر إلى الكتب العلمية باللغة العربية مما يعيق الطالب الجامعي ويدفعه إلى الرجوع للمراجع الأجنبية لتوافرها. و لذلك لا بد من مواجهة هذا كله من خلال التأليف العلمي باللغة العربية بإعطاء الحوافز واعتماد ذلك في الترقيات العلمية. والترجمة الفورية لكل ما يستجد من معارف وعلوم الطباعة الجيدة، والتوزيع الجيد. وتدريب متخصصين أكفاء في التحرير والإخراج الفني مع التزام الدقة في المعلومات العلمية.
2- مشكلة المصطلح:
إن مشكلة توحيد المصطلح في الوطن العربي ما تزال قائمة بحد ذاتها، رغم جهود مكتب تنسيق التعريب. ورغم قرار الجامعة العربية ورغم جهود اتحاد المجامع العربية في توحيده؛ فاختلاف مصدر المصطلح يؤدي إلى اختلاف في ترجمته إضافة إلى قلة المعاجم الاصطلاحية المتخصصة.
كل هذا يشكل مشكلة في طريق البحث العلمي، ولكن مشكلة التوحيد ليست مشكلة صعبة في حالة استعمال المصطلح المترجم في حقل التأليف العلمي لأن حياة المصطلح بالكتب والاستعمال، لا في طيات المعاجم على الرفوف، وفي حال إيجاد لجنة عربية موحدة متخصصة تتولى أمر تعريب المصطلح، وفي حال التعاون بين المؤسسات العلمية العربية فإن هذا كله سيساهم في الحد من مشكلة المصطلح وتوحيده وترجمته.
3- مشكلة المدرس الجامعي:
تعتمد هيئة التدريس في مصادرها العلمية على لغات عدة وليست الإنجليزية (لغة التدريس في الجامعات) فقط؛ لذلك فالإنجليزية هي لغة أجنبية لبعض المدرسين الذين تلقوا علومهم بلغة أخرى غير الإنجليزية، ومع قلة إتقان بعضهم اللغة العربية الفصيحة، فإنهم يلجأون إلى التدريس بالعامية العربية مع التطعيم بالإنجليزية، مما يؤد ي إلى التشتت في المعلومات العلمية بتشتت مصادرها فيؤدي بدوره إلى تشتت الطالب فكرياً، ويحدث فجوة علمية بين العلم واللغة.
ومن مشاكل هيئة التدريس قلة إيمانهم بقضية التعريب والسبب في ذلك يعود إلى عدم اعتماد الأبحاث المترجمة والمؤلفة باللغة العربية في السلم الوظيفي، كما أن نشر الأبحاث في دوريات عربية مشهورة معدوم لديهم لقلة توفر هذه الدوريات التي تتمتع بالمكانة العالية؛ لذلك فإن عميلة تحسين وضعهم المادي والعلمي كإدخال الترقية على الأبحاث المترجمة والمعدة باللغة العربية يساعد المدرس على الاهتمام باللغة العربية وبالتعريب، كما أنه لا بد من مواجهة العامية في التدريس المطعمة بالإنجليزية ولا بد من الإلمام بالفصحى لكي يتمكن المدرس من التدريس بها.
4-مشكلة المعاجم:
لا شك أن المخطوطات العربية التي رهن الرفوف هي بالملايين ولعل العلمي منها يتجاوز الآلاف ، وهذا كله أدى إلى ضعف المعاجم العربية المؤلفة في الميادين المختلفة وقلتها، إذا ما قيست بالمعاجم المؤلفة باللغات الأجنبية، ولعل أهم ما تفتقر إليه المكتبة العربية هو المعجم التاريخي الذي أصبح لا بد منه ، وهذا لا يتم إلا إذا تحقق عدد كبير من المخطوطات العلمية والأدبية.
إضافة إلى أن المعاجم المتخصصة بالميادين العلمية المنشورة باللغة العربية أو المترجمة لم تتضمن كل المصطلحات، في اللغات الأجنبية، ولن تكفي الثلاث السنوات القادمة في ظل الظروف الراهنة من ترجمة كل المصطلحات العلمية وإصدارها على شكل معاجم اصطلاحية كما يخطط لذلك مكتب تنسيق التعريب بالرباط والسبب في ذلك يعود إلى تطور العلوم إضافة إلى تشتت الجهد العربي ومؤسساته وقلة إيمان معظمها كالجامعات -مثلاً- بالتعريب.
لهذا كله لا بد من البحث عن هذه المصطلحات في التراث العلمي العربي واستخدامها في حقل التأليف العلمي، وهذا يتم من خلال تحقيق المخطوطات العليمة في التراث العربي مما يساهم في إيجاد معجم تاريخي قادر على استيعاب كثير من المصطلحات والكلمات وردها إلى أصولها، على غرار معجم أُكسفورد التاريخي ومعجم وجريم الألماني كما أن الترجمة الفورية للمصطلحات تساعد على وضع اشتقاقات للمصطلح بصبغة عربية وهو المطلوب من المصطلح في الوقت الراهن.
5- مشكلة اللغة العربية:
عاشت اللغة العربية عصوراً زاهرة، وكانت لها مكانة مرموقة بين لغات العالم، فقد كانت لغة العلوم في كافة الميادين المعرفية، وهذا يعود إلى العناية والاهتمام الكبير بها من قبل أُولي الأمر في العصور الإسلامية المزدهرة كالأمويين والعباسيين.
على أن اللغة اليوم تشهد قلة العناية والاهتمام منذ المراحل الأساسية من التعليم إلى المراحل التعليمية العليا، كما أن إدخال لغة أجنبية تدرس بنفس الزمن منذ المراحل الأساسية إلى جانب اللغة العربية يؤثر على مدركات الطالب ، مما يدفعه إلى التشتت في التفكير ما بين لغتين فيؤثر على إبداعه ونمط تفكيره، فينتج عن ذلك ضعف في لغته الأولى (الأم) فيبدأ بالتفكير بنمطين مختلفين ليعبر بلغتين مختلفتين.
وفي المراحل التعليمية العليا،أصبح التدريس باللغة الأجنبية في معظم الجامعات العربية إذا ما استثنينا سوريا والسودان وبعض المواد للسنوات الأولى في بعض الجامعات المصرية، لأن لغة الحوار أصبحت بالمحافل العلمية العربية باللغة الأجنبية، فمؤتمر طب الأسنان العربي التاسع عشر الذي عقد بالخرطوم 12/1994 كان فيه الحوار بالإنجليزية، بل الذي أثار الاستغراب أن إحدى الندوات كانت عن "المسواك وفوائده" ولكنه قدم باللغة الإنجليزية وتلاه النقاش بالإنجليزية.
إن كل هذا يؤدي إلى قلة الاهتمام باللغة العربية ويدعم رأي القائلين بأن اللغة العربية لغة دين وليست لغة علم وحضارة، لأجل ذلك فإن الاهتمام باللغة العربية من الأساس بعدم إدخال لغة أجنبية في المراحل الأولى تدفع بالطالب إلى التفكير بلغة واحدة يتكلمها ويفكر بها دون أن يتشتت فكره مع لغة أخرى ملازمة له في التفكير والنطق، كما أن الطالب الجامعي بحاجة إلى التشجيع على البحث في اللغة العربية والترجمة كاعتماد ذلك في المقرر الجامعي. هذا كله يدفعه إلى الاهتمام باللغة العربية والتركيز على الفصيحة منها.
ومن مشاكل اللغة إدخال العامية في الحوار وفي قاعة الدرس بحجة ان إيصال المعلومة هو الهدف. ولكن كيف يفكر ويبدع بلغة بعيدة عن العلم؟ فالعامية ليست لغة مصطلحات ولا لغة علمية، فمن أسباب قلة الاهتمام بالعربية إدخال العامية بدل الفصيحة في محافل عدة حتى في قاعة الدرس منذ المراحل الأساسية إلى المراحل العليا من التعليم لذلك لا بد من احترام الفصيحة وجعلها لغة تدريس والتركيز عليها خصوصاً في المراحل الأساسية.
6-مشكلة الطالب الجامعي:
إن قلة المراجع العربية وقلة المصطلحات والمعاجم وضعف هيئة التدريس وقلة إيمانهم بالتدريس باللغة العربية الفصيحة يؤثر سلبياً على الطالب فتصبح قضية التعريب بالنسبة إليه مشكلة بحاجة إلى حل؛ فالطالب الجامعي في المجالات العلمية يتلقى تعليمه بالأجنبية فتصبح هي لغة الحوار والتفكير والبحث بالنسبة إليه، وهذا يؤثر على المجتمع بصفة عامة إذ يجد صعوبة في الموازنة بين لغة الحياة اليومية (المجتمع) ولغة العلم (الأجنبية).
لذلك فإن إدخال التعريب خطوة بعد خطوة مع جعل لغة الحوار بالعربية الفصيحة ودفعه إلى الترجمة وكتابة الأبحاث بالعربية كل هذا يؤدي إلى حل هذه المشكلة ومن شأنه أن يرفع مكانة اللغة العربية التي أصبحت اليوم إحدى لغات العمل في الأمم المتحدة.
7-مشكلة المؤسسات العلمية العربية الحكومية وغير الحكومية:
إن المؤسسات العلمية المحلية والعربية الحكومية وغير الحكومية، ضعيفة الإيمان باعتبار اللغة العربية لغة علمية وهذا معوق أساسي للتعريب، إذ انقسمت الدول العربية في هذا الشأن ما بين مؤيد ومعارض خلال مؤتمر التعريب السابع في الخرطوم وأدى ذلك إلى تشتت الجهد العربي في هذا المجال. وحتى الدول المؤيدة للتعريب والتي حضرت المؤتمرات فإن جامعاتها العلمية ما زالت تدرس باللغة الأجنبية –لغة المستعمر- على الرغم من وجود قرار عربي صادر عن جامعة الدول العربية ينص على ضرورة التعريب،وجعل اللغة العربية لغة التدريس في الجامعات .
لذلك لا بد من إيمان هذه المؤسسات العلمية بضرورة التعريب، وتوحيد الصفوف العربية في هذه القضية والتي تتجاوز إمكانيات البلد الواحد، مع وجود قانون يلزم هذه المؤسسات بضرورة تنفيذ القرار، مع التنسيق بين المؤسسات العلمية في هذا المجال. كل ذلك يدفع بعملية التعريب إلى الأمام ويحد من المشكلة.
8-المشكلة الاجتماعية:
وهي من المشاكل التي تواجه المتعلم عند تخرجه، وولوجه الحياة العملية وخصوصاً المتخرج من الكليات العلمية المهنية، فالطبيب يجد هوة ما بين اللغة التي تعلم بها ولغة الحوار العلمي مع المجتمع، وكذلك المهندس الزراعي عند الحديث عن الآفات الزراعية التي تواجه المزارعين.
لهذا فإن حل هذه المشكلة مرتبط بحل كل المشكلات السابقة الذكر، إن هذه المشكلة مرتبطة بالمخرجات العلمية، أي بعد تخرّج الجيل الجديد القادر على حمل زمام المبادرة، فإعداده لفترة وجيزة بلغة أجنبية ووضعه في مقدمة الركب لمواجهة المشاكل بلغة الأم يؤثر على عطائه ويؤدي إلى عزلته عن العلم الذي تلقاه باللغة الأجنبية في فترة وجيزة، فالطبيب لا يتعامل مع مريضه بلغة العلم الأجنبية وكذلك المهندس مع الفلاح مثلاً . فهذا يؤدي كله إلى عزلته عن المجتمع لغوياً ويتعامل معه بلغته العامية، لذلك لا بد من رابط بينه وبين العلم وبين المجتمع، وهذا لا يكون إلا بلغة مشتركة وهي اللغة الأم.
9-المشكلة المادية:
إن قلة الدعم المادي وعدم وفرته يؤثر على كل ما ذكر، فالمادة هي أكبر المشاكل التي تواجه التعريب، إذ التعريب الشامل من تأليف وترجمة وإعداد الكادر المؤهل، كل ذلك بحاجة إلى دعم مادي كبير يتجاوز إمكانيات البلد الواحد، لذلك لا بد من تكاثف الجهود بين المؤسسات العلمية الوطنية في البلد الواحد وبين المؤسسات العربية في الوطن العربي.
كذلك لا بد أن تتبنى مشروع التعريب عربياً جهة مركزية قوية على صعيد الوطن العربي لها إمكانيات ضخمة متوفرة.
ولعل الحل الأمثل لمواجهة هذه التحديات كلها هو البدء بالتدريس باللغة العربية خطوة بعد خطوة ، لأنه الطريق الأمثل للتعرف على الصعوبات وحلها في نفس الوقت.
الخاتمة:
إن قضية التعريب ليست تأليفاً وترجمة. أو بحثاً عن أصل كلمة ، إنما هي قضية تفكير، كيف نفكر؟ وبأي لغة؟ ولماذا؟ إذ الفكر غالباً لا بد أن يعبر عنه بلغة تتماشى مع تقدم الأمة الحضاري والفكري، وهذا يتم فعلاً إذا استطعنا أن نحدد لأنفسنا منهجاً فكرياً بعيداً عن التدخلات الخارجية، فالثقافة والفكر العربي والإسلامي منذ أكثر من أربعة عشر قرناً من الزمن، حافظ بأن يخلق منهجاً فكرياً يخلص الأمة من بقايا الاستعمار، فها نحن خرجنا من دائرة الاستعمار ، فعلينا إذا أن نجد لغة علمية قادرة أن تربط الماضي بالحاضر، وتدفع الأمة إلى الأمام والازدهار وهذا يعني أن ترتبط اللغة بالتفكير الذي يفكر به المجتمع لكي يحصل التقدم.
فالأمة العربية إذا فكرت بعقلها العربي وعبرت عن هذا الفكر باللغة الأجنبية فإنها ستبقى ثابتة، لأن اللغة وعاء للأفكار والأحاسيس فلا التفكير وحده يكفي ولا اللغة وحدها تكفي. فلابد من تفكير تعبر عنه لغة تنتمي إلى الإطار الفكري للأمة.
والوطن العربي اليوم والماضى كان صراعه في أن يجد لغة تعبر عن تفكيره وحارب الاستعمار هذه الفكرة ليبقى المجتمع العربي بعيداً من روحه الفكرية المعبر عنها بلغته، بل هناك أدوات استعمارية حاولت محاربة اللغة بتغيير حروفها وأشكال رسمها بالأحرف اللاتينية وتغير لغة الفصحى بلغة العامية، وكانت محاولاتها ناجحا، و استطاع المستعمرون أن يحولوا لغة العلم والتفكير والتكونولوجيا من العربية إلى لغتهم في مجال تدريس العلوم ونجحوا في إثبات دعوتهم القائلة بأن اللغة العربية لغة دين لا لغة علم والتفكير والتكنولوجيا.
إن قضية التعريب قضية ترتبط بعقولنا وانتمائنا. فإذا أحست المؤسسات العلمية العربية وأحس المجتمع بأنه من الضروري أن يحصل التعريب لتكون لغتنا تعبيراً عن فكرنا ووعاءً له فإن القضية ستنجح وستكون كل المعوقات يسهل التغلب عليها وأمر غير مستحيل فى حلها ، ولذلك أرى إلى :
- إنشاء مؤسسات العلمية للتعريب والترجمة فى الجامعات والمدارس الدول العربية والإسلامية والغربية.
- التعاون والتنسيق بين المؤسسات العلمية في الوطن العربي والعالم الإسلامى والدول الغربى.
- الاهتمام باللغة العربية من مراحلها الدراسى الأولى .
- توفير الدعم المادي المطلوب للتعريب.
- الاهتمام بالتراث العلمي كتحقيق المخطوطات.
- تطوير الدراسات والبحوث العلمية باللغة العربية .
المراجع
أ- العربية:
إبراهيم, محمود. 1994. تعريب التعليم العالي. دار آفاق للنشر. عمان.
بن عبد الله، عبد العزيز. 1975. التعريب ومستقبل اللغة العربية. المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم، معهد البحوث والدراسات العربية. القاهرة.
تعلم العلوم الصحية والفنية باللغة العربية. منظمة الصحة العالمية. القاهرة.1991.
حموتو, آزاد. 1425 هـ/2004م. النهوض باللغة أم بمتكلمها. فى مجلّة العربى العدد 546 ربيع الأول/مايو. الشروق. القاهرة.
خـريوش, عبد الرؤوف.د.ت. تعريب التعليم الجامعي وأهم المشاكل التي تواجهه. جامعة القـدس المفتوحـة, فلسطيـــن.
دراسات من واقع الترجمة في الوطن العربي. المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم. تونس. 1985.
الشهاوى, صلاح عبد الستار. 1425هـ / 2004م. بل (العربية) هي من أقدم اللغات. فى مجلّة العربى العدد 544 المحرم/ مارس. الشروق . القاهرة.
العسكرى, سليمان إبراهيم. 1425هـ/ 2004م. أزمة العربية أم أزمة التعريب. فى مجلّة العربى العدد 545 صفر/ أبريل. الشروق. القاهرة.
--------------. 1425هـ / 2004م. أيّ تعريب نريد؟. فى مجلّة العربى العدد 546 ربيع الأول/ مايو, الشروق. القاهرة.
على, نبيل. 1424هـ/ 2003م. الترجمة العلمية وعالمنا العربى. فى مجلّة العربى العدد 535 ربيع الأول/ يونيو. الشروق. القاهرة.
قاسم، عوني الشريف.1980. الإسلام والثورة الحضارية. دار القلم. بيروت.
------------.د.ت. الإسلام والبعث القومي. دار القلم. بيروت.
ب- الإندونيسة:
Daud, Wan Mohd Nor Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al Attas. Mizan. Bandung.
Nakosteen, Mehdi. 1996. "Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam" (diterjemahkan dari buku History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350; with an Introduction to Medieval Muslim Education oleh Joko S. Kahhar dkk), Risalah Gusti. Surabaya.
الحاشية
إعداد : مُهَنْدِسْ اَلزُّهْرِى الليسن الماجستر
ملخص
تمثل اللغة أهم مقومات شخصية أي أمة من الأمم، حيث تميزها عن غيرها من الأمم، كما تعبر عن واقع الأمة من حيث التطور أو التخلف ومن حيث القوة أو الضعف. فعندما تكون الأمة قوية وعزيزة فإن لغتها تعتز بعزتها وتزداد انتشاراً، وعندما تضعف الأمة فإن لغتها تزداد ضعفاً وخمولاً ويدل على ذلك واقع اللغة العربية في الوقت الراهن والحاضر مقارنة بواقعها عندما كانت اللغة العربية أصبحت أكثر من خمسة قرون لغة العلوم والتكنولوجيا العاصرة في جميع الميادين؛ خاصة فى عصر الذهبى الوسطى الإسلامى وخير مثال على ذلك كتاب القانون فى الطبّ لابن سينا, والعالم خوارزمى فى الرياضيات, والعالم الكندى فى الفلسلة, والعالم ابن بوتانى فى علم النبت وغيرها.
ومن المسلَّم به أنّ اللغة العربية مستعملة كثيرة من أهالى الدول العربية والإسلامية منـتشرون من بلاد المغرب (Marokko) - أفريقيا غربيّة - إلى مدينة مريقى (Merauke) فى جزيرة فافيا – إندونيسيا حوالى 500 مليون نسمة. لا شكّ أنّ اللغة العربية قادرة على مواكبة النهضة العلمية والتكنولوجيا المعاصرة على أهالى تلك الدول في هذا العصرى في جميع مجالاتها العلمية. واللغة العربية لغة حية غنية بالمفردات والاشتقاقات مما يمكنها من استيعاب جميع الألفاظ المعربة من لغات أخرى ويمكنها تعريب المصطلحات العلمية الحديثة كما أن ترجمة الكتب والأبحاث العلمية سيؤدي إلى التواصل مع المستجدات العلمية فضلا على أنّ الثقافة والحضارة العالمية وتطوير العلوم الحديثة والتكنولوجيا المعاصرة الحالى بداية من الكتب والنسخات والمخطوطات العربية.
الكلمة الدليلية: اللغة العربية, الألفاظ المعربة, المصطلحات العلمية الحديثة.
المقدمة
الحمد لله الذي لم يزل عليا ولم يزل فى علاه ثنيا إذا عاملته وجدته مليا وإذا عاهدته وفيا, فطرة من بحر جوده تملأ الأرض ربّا ونظرة معين تصير الكافر وليا, الجنّة لمن أطاعه ولو عبدا حبشيا والنار لمن عصاه ولو شريفا قريشيا, اللهم صلّ وسلّم على محمد صلى الله عليه وسلم لو رأيته وجها قمريا وحبيبا أزهريا, وقال تعالى فى قوله قولا بهيا (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ) .
اللغة العريبة هي من أقدم اللغات فى العالم التى تقال من السامية مع اللغات العبرية, والأرامية والسريانية والكنعانية والحبشة , واللغات السامية لها علامة متساوية خاصة بثلاثة جذور الكلمات ومتساوية فى تكوين جذور الأسماء والأفعال والضمائر , ومثال على ذلك جذور كلمة " ك- ت – ب" .
والعرب لهم أقوال بقدم لغتهم, فقد أخرج ابن عساكر فى تاريخه عن ابن عباس أن آدم كانت لغته فى الجنة العربية, وأورد أبو حام الرازى فى كتابه – الزين- أن أنبياء العرب القدماء – هود وصالح وشعيب كانوا يتكلمون العربية ونقل إلينا بعض الرواة أبيات شعر تعود إلى أيام النبي هود والنبي صالح والنبي برخيا وجاءنا كلام وأشعار من يعرب بن قحطان وغيره من رؤساء القبائل العربية البائدة عربية لا سامية .
و عرفنا أنّ اللغة كما مبنية من علماء الألسنيات هي من أهم الوسائل التى يملكها الإنسان للتفاهم والترابط مع الآخرين وأيضا لتبادل ونقل الأفكار, وللتعبير والتعريف, وهي جزء أساسى منه. كذلك الحقيقة العلمية التى تقول إن اللغة تتطور وتنمو مع الإنسان والعكس صحيح, كما أن اللغة تعرف بأنها كائن حي ديناميكى متحرك متغير مثل كل الكائنات الحية .
أولا- مفهوم العلم و التعريب
منذ بداية القرن السابع عشر ميلادي, اصطلاح "العلم" (sains) وصفاته "العلمية"(saintifik) له معان متعدّدة. العلم هو فلسفة تأمّلية الذى يشتمل على علوم الطبيعية, والرياضيات, والأدب بعكس على علوم الليبرالية أم تقنية الفنّية كالموسيقى, والشعر, والنحو, والخطابة, وفنّ الحوار والجدل .
وفى الإسلام, العلم (العلوم) هو الفنّ (الفنون) ومنبع العلوم الذى لا يقتصر بالوحي الإلهى والعلوم الدينية ققط بل يشتمل على العلوم الطبيعية والحقائق التاريخية. وقد اصطلح القرآن علوما بالآيات والكلمات لترشيد آياتها الكونية وتصوّراتها العالمية, ومناهج العلوم لايقتصر أيضا على تنوير الحواس الخمس بل على تنوير الحقائق والوقائع العلميّة الطبيعية, ولتصحيح الحقائق العلمية والإتصالات العلوم المبذولة محتاجة بلغة مناسبة وبليغة. واللغة العربية هي من إحدى اللغات التى تمكنها توضيح معان المفردات المتغيّرة غير ثابتة عن مجالات العلمية الحديثة والتكنولوجيا المعاصرة, لأن اللغة العربية هي لغة حية غنية بالمفردات والاشتقاقات مما يمكنها من استيعاب جميع الألفاظ المعربة من لغات أخرى، كما أن ترجمة الكتب والأبحاث العلمية سيؤدي إلى التواصل مع المستجدات العلمية.
يحدد د. بلاسى مفهوم التعريب الذى يعنى أن تتفوّه العرب باللفظ الأجنبى على منهاجها وطريقتها, ومن ثم يقصر التعريب على الكلمات الأجنبية التى دخلت العربية ويقسمها إلى أطوار ثلاثة, هي :
1- المُعرّب : وهو ما استعمله العرب الفصحاء من الألفاظ الموضوعة لمعان فى غير لغتها, وقد اصطلح المحدثون من الباحثين على أن العرب الفصحاء هم عرب البدو من جزيرة العرب إلى أواسط القرن الرابع الهجرى, وعرب الأمصار إلى نهاية القرن الثانى الهجرى, ويسمّون هذه العصور بعصور الاحتجاج.
2- المولّد: وهو ما استعمله المولدون (وهم الذين ولدوا بعد عصور الاحتجاج) من ألفاظ أعجمية لم يعربها فصحاء العرب.
3- المحدث أو العامى: وهو ما عربه المحدثون فى العصر الحديث وشاع فى لغة الحياة العامة.
ويضيف الدكتور البلاسى: ((إن الطريقة المثلى فى نقل مدلولات المكاشفات الأجنبية والاختراعات العلمية والاصطلاحات فى شتى المجالات, هي: ألا نلجأ إلى التعريب وهو أشدها خطرا على لغتنا الخالدة إلا بعد أن نكون قد بذلنا الجهد فى كل وسيلة قبلها, فالترجمة أولا, فإذا لم يوجد للفظ الأجنبى مقابل عربى فاشتقاق ثانيا, فإذا عجزنا نعرب اللفظ الأجنبى تعريبا مطابقا لقواعد اللغة وصقله وفق أوزان لغتنا ومنطق لساننا, حتى يشبه اللفظ العربى الفصيح, وبذلك نترك اللغة العربية للخلف من بعدنا كما تركها لنا آباؤنا الأولون)), فلذلك أصبح كلمة "البنكرياس" (pankreas) "معثكلة" و "البروستاتا" prostata)) "موثة". بينما يذهب الناس إلى استخدام الأيسر والأقرب .
يقول د. المناوى: (( إن التعريب عكس التغريب, والفارق الظاهر للعيان بينهما (نقطة). إلا أنه فى جوهره إما أن يكون اختراقا أو احتراقا. إننا إن استطعنا أن نصل إلى درجة التعريب الكامل, فسوف نخترق الثقاقات الأجنبية السريعة التطور يوما بعد يوم. وأما إذا لم نستطع أن نبلغ هذه الدرجة فإننا – لامناص-سوف نحترق الثقافات الأجنبية بتفوّق الأحانب علينا علميا وهو ما يؤدى بالضرورة إلى تفوّقهم الاقتصادى والاجانب علينا علميا, وهو ما يؤدى بالضرووة إلى تفوّقهم الاقتصادى والعسكرى والتكنولوجيا بدرجة تجعلنا فلا عداد الدول لن نستطيع اللحاق بهم بعد ذلك)). فكأنه يرى ان نـهوض العرب علميا هو مسألة لغوية! وهو يرى أن تمزّق العرب الفكرى, إلى جانب الاضطراب الروحى فى بعض أقطارهم, ومكانة الغرب فى عقول المثقفين العرب, أضاع الثقة باللغة العربية .
ثانيا- أهمية التعريب اللغوى والعلمى والقومى
إن للتعريب أهميات لغوية كثيرة فهو يساهم في إثراء اللغة العربية لدى الأستاذ حيث يتعمق بلغته أكثر مما يقتضي الابتكار والإبداع.
إن تدريس المواد العلمية باللغة العربية يحفز بصورة تلقائية المدرس والمترجم إلى ترجمة هذه المواد باللغة العربية مما يدفعه إلى الأمام ولدعم تجربته وممارسة الترجمة.
وهناك أهمية لغوية أخرى للتعريب وهي الخوض في ألفاظ لغوية ترد إلى لغات أجنبية وردها إلى جذورها العربية، وهذا يفتح ويسهم في إثراء الدراسات اللغوية المقارنة فقد تعرف الدارسون والباحثون العرب على الكثير من الألفاظ المشكوك فيها وفي معرفة ألفاظ ومصطلحات غريبة هي في الأصل عربية مثل مصطلحات المعادن وألفاظ أثبتها علماء العرب بعد أن شكك علماء الغرب بأصلها وردوها إلى أصولها العربية؛ فمكنت الدارسين من الوقوف في وجه الدخيل الذي لا يتناسب والذوق اللفظي العربي .
فإن أهمية التعريب العلمية هي ربط التراث العلمي القديم بمستجدات العلوم الحديثة للنهوض بالأمة؛ فنعيد صقل تراثنا العلمي من جديد بلغتنا القومية بقالب علمي حديث يوصلنا إلى التقدم العمي، ويخرجنا من ردهات الثبوت ويجد لنا مكاناً بارزاً وهاماً إلى جانب الحضارات المتقدمة الأخرى، "لم تقم نهضة علمية حقيقية في عالمنا العربي والإسلامي حتى الآن، ولم نتقدم صناعياً وتكنولوجياً لأننا نجتر أساليب الغرب ومعرفته اجتراراً ونقلدها تقليداً دون أن يكون ذلك جزءاً من تكويننا الفكري والاجتماعي" .
للتعريب أهمية علمية على المستوى القومي إذ يرفد الأمة بعلوم العصر ويساهم في تنمية المجتمع عامة فيكون العلم في تناول الجميع مما يساعد على ازدياد الوعي وتنامي الجماهير عامة.
ولعل التعريب يساهم في فتح آفاق علمية واسعة ويساهم في إيجاد التكنولوجيا وإبداع المشتغلين بالعلوم مما يؤهلهم إلى الابتكار العلمي حين يتعمقون في فهم التعريب بلغتهم، لأن اللغة القومية تكون هي لغة الأفكار والأحاسيس للإنسان، ومن خلال التجارب التي قيست في الجامعات، وجد أن أهمية التعريب في المستوى العلمي، تساهم في انخفاض نسبة الرسوب، إضافة إلى ازدياد نسبة الوعي والفهم، ففي أواسط الستينات في الجامعة الأمريكية في بيروت، أجريت تجربة على مجموعتين من الطلاب: الأولى تلقت المادة العلمية بالعربية والأخرى بالإنجليزية بتوزيع متكافئ للطلاب؛ فوجد أن نسبة الوعي والفهم والاستيعاب بالعربية 76% في حين ان الفهم في اللغة الإنجليزية 60% .
إن أهمية التعريب قومياً تأتي في أنه يوحد العرب في لغة الحوار الموحدة والمعروفة لديهم، أضف إلى أن اللغة قادرة على إيجاد كيان عربي موحد، يتمتع بمركزية عربية قوية " اللغة مكون أساسي من مكونات هويات الأمم" .
لذلك فإن من شأن التعريب أن يصبغ الحياة بصبغة عربية، وهو مظهر من مظاهر التوحيد الفكري لشعوب مقسمة إلى كيانات سياسية مختلفة؛ لذلك فإن عامل التوحيد قومياً مهم لأبناء الأمة العربية الواحدة ولا بد من أن تركز الأمة على حضارتها ودينها من جديد "والآن وقد تخلصنا من الاستعمار المباشر في صوره العسكرية والسياسية، والذي شل قدراتنا على الحركة ، فإن واجبنا الديني والقومي أن نتابع حركة التحرر الوطني، ونقبل بها إلى غايتها المنطقية بأن نرفد ثورتنا السياسية التي خرّجنا بها الاستعمار المباشر بثورة ضارية نعيد بها النظر في كل مجالات حياتنا، فننفي عن وجودنا كل مظاهر التخلف والجمود وموروثات الاستعمار ونظمه" .
ثالثا- التعريب والترجمة العلمية
نحن نعيش عصرا تتحدد فيه أهمية الأمم بقدر ما تنجزه فى مجال العلوم وتطبيقاتها التقنية, أهمية الترجمة العلمية نتيجة من الإنفجار المعرفى, والتقدم التكنولوجى الهائل فى جميع مجالاته الحياة, وتزداد هذه الأهمية بالنسبة لعالمنا العربى.
أن الترجمة العلمية فى عالمنا العربى يعد من الأسباب الرئيسية وراء تعثر جهود تعريب التعليم الجامعى, وهناك الإطار العام لمنظومة الترجمة العلمية :
أ- المصادر الأجنبية للترجمة العلمية يلخصها فى النقاط التالية:
1- العلوم الأساسية وتشمل الرياضيات والمنطق والإحصاء والطبيعة والكيمياء والبيولوجى.
2- علوم الكون والفضاء
3- علوم البيئة
4- العلوم الإنسانية وتشمل علوم اللغة وعلم النفس وعلم الإجتماع والأنثروبولوجى.
5- تكنولوجيا المعلومات والاتصالات.
6- تكنولوجيا الطب والدواء
7- تكنولوجيا الصناعة والتعدين
8- تكنولوجيا الزراعة
9- تكنولوجيا التعليم
ب- المترجم العلمى العربى
ج- الناشر العلمى العربى
وقد أدرجت منظمة الترجمة العربية بيروت مجموعة من الكتب العلمية الأساسية ضمن برنامجها الحالى. من وجهة نظر أخرى, يجب ألا يقتصر النشر فى مجالات الثقافة العلمية على النشر المطبوع بل يجب أن يشمل النشر الإلكترونى أيضا بعد أن انتشر استخدام تكنولوجيا الوسائط المتعددة (multi media) فى الثقافة العلمية وشبكة الإنترنت فى تقديم خدمات الثقافة العلمية للمستويات المختلفة.
د- المتلقى العربى والذى يحتل موقع القلب داخل المنظومة.
تصنيف المتلقى العربى لمنتجات العلمية إلى أربعة مسويات:
1- مستوى الأطفال: تستهوى الصغار كتب الخيال العلمى والاكتشافات والانجازات العلمية, وكثيرا ما تلجأ هذه المؤلفات إلى استخدام أسلوب التناظر (analogy) بهدف تقريب المفاهيم لذهن الطفل, كإستخدام صناديق البريد لشرح كيف تعمل ذاكرة الكمبوتر, ولا يتطلب هذا المستوى مترجما متخصصا.
2- مستوى العامة ومتوسطي التعليم: وهذا يتطلب من المترجم إلماما كافيا بالموضوع.
3- مستوى المتعلمين: والترجمة العلمية, هنا تستهدف قارئا متخصصا ذا مستوى تعليمي عال.
4- مستوى الباحثين المتخصصين: ويهدف إلى ترجمة المقالات العلمية فى مجالات المعرفة المختلفة وتوجه إلى الباحثين المتخصصين.
وترتكز هذه المنظومة على مجموعة من البنى الأساسية (التحتية) وتشمل:
- المعاجم والقواميس والمكانز
- بنوك المصطلحات
- فواعد النصوص المترجمة إلى العربية
- مؤسسات تأهيل المترجمين من كليات ومعاهد ومراكز تدريب متخصصة.
تتفاعل منظومة الترجمة العلمية خلال شبكة من العلاقات مع منظومة الخارجية
10- منظومة التربية
11- منظومة الإعلام
12- تكنولوجيا المعلومات
13- دور النشر الأجنبية
تعد علاقة منظومة الترجمة بمنظومة التربية أهم العلاقات التى تربطها بخارجها, وتتمحور هذه العلاقة حول مسألة تعريب التعليم الجامعى. ومن المعروف أن كثيرا من الأكاديميين العرب يناهضون حركة التعريب مما أدى إلى إجهاض معظم الجهود الساعية لتحقيق هذه الغاية.
أما علاقة منظومة الترجمة العلمية بمنظومة الإعلام, فتتركز حول دور الإعلام فى إشاعة الثقافة العلمية لدى فئات جماهيره المختلفة, والإعلام العربى دور أساسى فى إثراء المصطلحات العلمية وترسيخها, فأجهزة الإعلام هي أول من يستقبل الجديد فى مجالات العلم وتطبيقاته, وهذا يفرض الإعلام أن يكون سبّاقا إلى تناول المفاهيم العلمية الجديدة وعليه مسئولية استعراب واستحداث مصطلحاتها وإشاعتها بصورة سليمة.
اما علاقة منظومة الترجمة العلمية بتكنولوجيا المعلومات فأهم جوانبها, هي تلك المتعلقة بالترجمة الآلية, والتى يتوقع الكثيرون أن تلعب دورا أساسيا فى الترجمة العلمية, وقد حققت ذلك بالفعل فى الترجمة ما بين الإنجليزية ةالفرنسية. تشمل علاقة الترجمة بتكنولوجيا المعلومات أمورا أخرى مثل: نظم الفهرسة الآلية, والتلخيص التلقائى, وبناء القواميس الإلكترونية.
وأما علاقة منظومة الترجمة بدور النشر الأجنبية, فتتركز أساسا على الجوانب الخاصة بحقوق النشر والملكية الفكرية لمؤلفى النصوص الأصلية.
وفى عصر الذهبى الوسطى الإسلامى خاصة فى عصر الخلافة هارون الرشيد ببغداد, هناك كثير من المترجمين الإسلامى من الدول العربية والفارسية والهند, ومنهم أبو زكريا يوحانا ابن موسى هو طبيب من جندى شابور ومدير دار الحكمة ببغداد, و ابو سهل الخرشزمة مترجم مخطوطات علوم الرياضيات إلى اللغة العربية, وأبو حافظ عمر فاروحان الطبرى مدير المدرسة الترجمة, وإبراهيم ابن حبيب الفزرى مترجم مخطوطات علوم الرياضيات الهندى بالقرن الخامس ميلادى إلى اللغة العربية وكما قال البيرونى انتهى الترجمة فى السنة 770-771 م, واستيفان القديم مترجم مخطوطات علوم الكيمياء بأمر خليفة خالد بن يزيد بن معاوية, وأبو يحيى البتريك مترجم مخطوطات علوم الطب والفلسفة أغريق خاصة مخطوطات أرستوتيلس (Aristoteles) وهيبقراتس (Hippocrates) وكتابه المترجم هو "سرّ الأسرار" بتأليف Aristoteles بموضوع "تنظيم الحكومة", وحنين بن إسحاق (المـتوفى 264 هـ) أكبر مترجم من المترجمين المخطوطات القديمة باللغة العربية, ومن كتابه المترجم هو كتاب Timaeus بتأليف plato, ثابت بن قرّاء الهرانى (829-900 م) من هران مترجم مخطوطات اليونانية فى العلوم الطب والرياضيات لأرجيميدس (archimedes), وأبلونيوس (Apollonius) وغيرها.
رابعا – أزمة اللغة العربية
امام التفجر المعرفى الهائل فى المواقع المتقدمة من عالمنا, والتى أفرزتها ثورتا المعلومات والاتصالات, بات واضحا أن هناك أزمة تعريب, ينادى بعض المخلصين بضرورة الإسراع فى حلها, لكن هناك ضرورة لتأكيد أن هذه الأزمة, ما هي إلا فرع من الأزمة الأم للغة العربية ذاتها.
إن موت اللغة العريبة أمر مستبعد فى المستقبل المنظور, لأسباب يشير إليها الدكتور عبد السلام المسدّى بمنطق تاريخى, إذ يقول: لأول مرة فى تاريخ البشرية_ على ما نعلمه من التاريخ الموثوق به- يكتب للسان طبيعى أن يعمّر 17 قرنا محتفظا بمنظومته الصوتية والصرفية والنحوية, فيطوعها جميعا ليواكب التطور الحتمى فى الدلالات دون أن يتزعزع النظام الثلاثى من داخله, بينما يشهد العلم فى اللسانيات التاريخية و المقارنة أن القرون الأربعة كانت فيما مضى هي الحد الأقصى الذى يبدأ بعده التغيّر التدريجى لمكونات المنظومة اللغوية)) .
ويعضد رؤية الدكتور المسدى فى استبعاد موت اللغة العربية, حتى على مستوى الدولى, شهادة من الوزن الثقيل لمفكر غير عربى, فقد أعلن الكاتب الإسبانى ((كاميلو جوزى سيلا)) – الحائز على جائزة نوبل فى الآدب عام 1989- عن تنبؤاته المستقبلية وتقديراته الاستشرافية حول مصير اللغات الإنسانية بقوله (( إنه نتيجة لثورة الاتصالات سوف تنسحب أغلب اللغات من التعامل الدولى وتتقلص محليا ولن يبقى من اللغات البشرية إلا أربع قادرة على الوجود العالمى والتداول الإنسانى, وهي الإنجليزية والإسبانية والعربية والصينية)) .
واضح أن رأي (سيلا) مستندا إلى ركائز لعل أهمها ضخامة الكتلة البشرية التى تستخدم هذه اللغة أو تلك بدرجة ما من التجانس. وأيّا كان الأمر فإننا سلم بعدم موت اللغة العربية , لكننا لا نستطيع التسليم بنفي مواتها المحتمل إن استمر منحنى الهبوط على ما هو عليه من تسارع وتفاقم – والذى يخـتلف عليه مراقب موضوعى, هنا أو هناك, إلا فى تقدير حجم هذا الاعتلال وتقييم خطورة أعراضه.
لا مراء فى أن (( أزمة التعريب)) هي حقيقة واقعة وخانقة, ولكنها – بداهة – نتيجة ل ((أزمة أم)) هي أزمة اللغة العربية ذاتها, وهما معا – أزمة اللغة العربية وأزمة التعريب- نتاج أزمة عربية أشمل تتعلق بالتراجعات الاجتماعية والاقتصادية والسياسية على المستوى الكيان العربى الجامع- دون أي ادعاءات قومية- فلأسباب عديدة وجغرافيا, وثقافية, وتاريخية, واقتصادية وبيئية, وثمة تأثير وتأثر شديدا الوضوح بين الأقطار العربية,وكأنها الأوانى المستطرقة يلحق بعضها بعضا فى الهبوط أو الصعود, مهما كانت درجات الاختلاف.
خامسا- المشاكل التعريب:
واجهت قضية التعريب منذ إن بدأت في العصر الحديث مشاكل عدة، ولعل احتدام تلك المشاكل بدأ مع بداية الاستعمار الأوروبي للوطن العربي،إذ ألغي التعريب في مصر ولبنان واستمر في سوريا.
ورغم استقلال الدول العربية من الاستعمار مع أواسط القرن الحالي، ورغم إنشاء المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم ومؤسساتها ، ورغم نداءات المؤتمرات والندوات إلا أن هذا لم يحد كثيراً من مشاكل التعريب، بل بقيت مشاكله قائمة في كل الدول العربية تتفاوت من قطر إلى قطر. لكنها متقاربة في المشاكل الكبرى. وهذه المشاكل هي :
1- مشكلة الكتاب الجامعي:
هذه المشكلة تعيق التعريب، فالمراجع العلمية باللغة العربية نادرة وقليلة ، ولعل سبب ذلك يعود إلى مشكلتي التأليف والترجمة. فعلى صعيد التأليف: نجد أن الكتب العلمية المؤلفة باللغة العربية قليلة جداً إذا ما قيست بالكتب المترجمة والكتب المؤلفة باللغة الأجنبية،ولعل سبب ذلك يعود إلى عدم وجود مؤلفين أكفاء باللغة العربية، وإن وجدوا فهم قلة. وعملية التوزيع، إذ الكتاب العلمي المؤلف باللغة العربية يواجه مشكلة في التوزيع ومشكلة الطباعة والإخراج الفني غير الدقيق.
أما على صعيد الترجمة، فإن الكتب المترجمة أيضاً قليلة على الرغم من وجود مكتب للتعريب والترجمة والنشر تابع للمنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم بدمشق إلا أنه حديث العهد تأسس (1991م)، وعلى الرغم من ذلك تبقى المشكلة قائمة والسبب يعود في ذلك إلى عدم وجود الترجمة الفورية لما يستجد من أبحاث في مجالات المعارف والعلوم عدم ترجمة الكتاب بطبعاته الجديدة إذ الكتاب يصبح قديماً في معلوماته إذا لم يلاحق ويترجم كل جديد في الكتاب الأصل. و الكتب المترجمة لا تفي بالغرض لقلتها، ففي السودان مثلاً ما بين عامي 1970-1980 لم يترجم أي كتاب في حين أن كل ما ترجم في الأردن إلى حدود 1985 لم يتجاوز 50 كتاباً وفي تونس 92 كتاباً . وكذلك قلة المترجمين الأكفاء ذوي القدرة والخبرة. لذلك تبقى المكتبة العربية بشكل عام تفتقر إلى الكتب العلمية باللغة العربية مما يعيق الطالب الجامعي ويدفعه إلى الرجوع للمراجع الأجنبية لتوافرها. و لذلك لا بد من مواجهة هذا كله من خلال التأليف العلمي باللغة العربية بإعطاء الحوافز واعتماد ذلك في الترقيات العلمية. والترجمة الفورية لكل ما يستجد من معارف وعلوم الطباعة الجيدة، والتوزيع الجيد. وتدريب متخصصين أكفاء في التحرير والإخراج الفني مع التزام الدقة في المعلومات العلمية.
2- مشكلة المصطلح:
إن مشكلة توحيد المصطلح في الوطن العربي ما تزال قائمة بحد ذاتها، رغم جهود مكتب تنسيق التعريب. ورغم قرار الجامعة العربية ورغم جهود اتحاد المجامع العربية في توحيده؛ فاختلاف مصدر المصطلح يؤدي إلى اختلاف في ترجمته إضافة إلى قلة المعاجم الاصطلاحية المتخصصة.
كل هذا يشكل مشكلة في طريق البحث العلمي، ولكن مشكلة التوحيد ليست مشكلة صعبة في حالة استعمال المصطلح المترجم في حقل التأليف العلمي لأن حياة المصطلح بالكتب والاستعمال، لا في طيات المعاجم على الرفوف، وفي حال إيجاد لجنة عربية موحدة متخصصة تتولى أمر تعريب المصطلح، وفي حال التعاون بين المؤسسات العلمية العربية فإن هذا كله سيساهم في الحد من مشكلة المصطلح وتوحيده وترجمته.
3- مشكلة المدرس الجامعي:
تعتمد هيئة التدريس في مصادرها العلمية على لغات عدة وليست الإنجليزية (لغة التدريس في الجامعات) فقط؛ لذلك فالإنجليزية هي لغة أجنبية لبعض المدرسين الذين تلقوا علومهم بلغة أخرى غير الإنجليزية، ومع قلة إتقان بعضهم اللغة العربية الفصيحة، فإنهم يلجأون إلى التدريس بالعامية العربية مع التطعيم بالإنجليزية، مما يؤد ي إلى التشتت في المعلومات العلمية بتشتت مصادرها فيؤدي بدوره إلى تشتت الطالب فكرياً، ويحدث فجوة علمية بين العلم واللغة.
ومن مشاكل هيئة التدريس قلة إيمانهم بقضية التعريب والسبب في ذلك يعود إلى عدم اعتماد الأبحاث المترجمة والمؤلفة باللغة العربية في السلم الوظيفي، كما أن نشر الأبحاث في دوريات عربية مشهورة معدوم لديهم لقلة توفر هذه الدوريات التي تتمتع بالمكانة العالية؛ لذلك فإن عميلة تحسين وضعهم المادي والعلمي كإدخال الترقية على الأبحاث المترجمة والمعدة باللغة العربية يساعد المدرس على الاهتمام باللغة العربية وبالتعريب، كما أنه لا بد من مواجهة العامية في التدريس المطعمة بالإنجليزية ولا بد من الإلمام بالفصحى لكي يتمكن المدرس من التدريس بها.
4-مشكلة المعاجم:
لا شك أن المخطوطات العربية التي رهن الرفوف هي بالملايين ولعل العلمي منها يتجاوز الآلاف ، وهذا كله أدى إلى ضعف المعاجم العربية المؤلفة في الميادين المختلفة وقلتها، إذا ما قيست بالمعاجم المؤلفة باللغات الأجنبية، ولعل أهم ما تفتقر إليه المكتبة العربية هو المعجم التاريخي الذي أصبح لا بد منه ، وهذا لا يتم إلا إذا تحقق عدد كبير من المخطوطات العلمية والأدبية.
إضافة إلى أن المعاجم المتخصصة بالميادين العلمية المنشورة باللغة العربية أو المترجمة لم تتضمن كل المصطلحات، في اللغات الأجنبية، ولن تكفي الثلاث السنوات القادمة في ظل الظروف الراهنة من ترجمة كل المصطلحات العلمية وإصدارها على شكل معاجم اصطلاحية كما يخطط لذلك مكتب تنسيق التعريب بالرباط والسبب في ذلك يعود إلى تطور العلوم إضافة إلى تشتت الجهد العربي ومؤسساته وقلة إيمان معظمها كالجامعات -مثلاً- بالتعريب.
لهذا كله لا بد من البحث عن هذه المصطلحات في التراث العلمي العربي واستخدامها في حقل التأليف العلمي، وهذا يتم من خلال تحقيق المخطوطات العليمة في التراث العربي مما يساهم في إيجاد معجم تاريخي قادر على استيعاب كثير من المصطلحات والكلمات وردها إلى أصولها، على غرار معجم أُكسفورد التاريخي ومعجم وجريم الألماني كما أن الترجمة الفورية للمصطلحات تساعد على وضع اشتقاقات للمصطلح بصبغة عربية وهو المطلوب من المصطلح في الوقت الراهن.
5- مشكلة اللغة العربية:
عاشت اللغة العربية عصوراً زاهرة، وكانت لها مكانة مرموقة بين لغات العالم، فقد كانت لغة العلوم في كافة الميادين المعرفية، وهذا يعود إلى العناية والاهتمام الكبير بها من قبل أُولي الأمر في العصور الإسلامية المزدهرة كالأمويين والعباسيين.
على أن اللغة اليوم تشهد قلة العناية والاهتمام منذ المراحل الأساسية من التعليم إلى المراحل التعليمية العليا، كما أن إدخال لغة أجنبية تدرس بنفس الزمن منذ المراحل الأساسية إلى جانب اللغة العربية يؤثر على مدركات الطالب ، مما يدفعه إلى التشتت في التفكير ما بين لغتين فيؤثر على إبداعه ونمط تفكيره، فينتج عن ذلك ضعف في لغته الأولى (الأم) فيبدأ بالتفكير بنمطين مختلفين ليعبر بلغتين مختلفتين.
وفي المراحل التعليمية العليا،أصبح التدريس باللغة الأجنبية في معظم الجامعات العربية إذا ما استثنينا سوريا والسودان وبعض المواد للسنوات الأولى في بعض الجامعات المصرية، لأن لغة الحوار أصبحت بالمحافل العلمية العربية باللغة الأجنبية، فمؤتمر طب الأسنان العربي التاسع عشر الذي عقد بالخرطوم 12/1994 كان فيه الحوار بالإنجليزية، بل الذي أثار الاستغراب أن إحدى الندوات كانت عن "المسواك وفوائده" ولكنه قدم باللغة الإنجليزية وتلاه النقاش بالإنجليزية.
إن كل هذا يؤدي إلى قلة الاهتمام باللغة العربية ويدعم رأي القائلين بأن اللغة العربية لغة دين وليست لغة علم وحضارة، لأجل ذلك فإن الاهتمام باللغة العربية من الأساس بعدم إدخال لغة أجنبية في المراحل الأولى تدفع بالطالب إلى التفكير بلغة واحدة يتكلمها ويفكر بها دون أن يتشتت فكره مع لغة أخرى ملازمة له في التفكير والنطق، كما أن الطالب الجامعي بحاجة إلى التشجيع على البحث في اللغة العربية والترجمة كاعتماد ذلك في المقرر الجامعي. هذا كله يدفعه إلى الاهتمام باللغة العربية والتركيز على الفصيحة منها.
ومن مشاكل اللغة إدخال العامية في الحوار وفي قاعة الدرس بحجة ان إيصال المعلومة هو الهدف. ولكن كيف يفكر ويبدع بلغة بعيدة عن العلم؟ فالعامية ليست لغة مصطلحات ولا لغة علمية، فمن أسباب قلة الاهتمام بالعربية إدخال العامية بدل الفصيحة في محافل عدة حتى في قاعة الدرس منذ المراحل الأساسية إلى المراحل العليا من التعليم لذلك لا بد من احترام الفصيحة وجعلها لغة تدريس والتركيز عليها خصوصاً في المراحل الأساسية.
6-مشكلة الطالب الجامعي:
إن قلة المراجع العربية وقلة المصطلحات والمعاجم وضعف هيئة التدريس وقلة إيمانهم بالتدريس باللغة العربية الفصيحة يؤثر سلبياً على الطالب فتصبح قضية التعريب بالنسبة إليه مشكلة بحاجة إلى حل؛ فالطالب الجامعي في المجالات العلمية يتلقى تعليمه بالأجنبية فتصبح هي لغة الحوار والتفكير والبحث بالنسبة إليه، وهذا يؤثر على المجتمع بصفة عامة إذ يجد صعوبة في الموازنة بين لغة الحياة اليومية (المجتمع) ولغة العلم (الأجنبية).
لذلك فإن إدخال التعريب خطوة بعد خطوة مع جعل لغة الحوار بالعربية الفصيحة ودفعه إلى الترجمة وكتابة الأبحاث بالعربية كل هذا يؤدي إلى حل هذه المشكلة ومن شأنه أن يرفع مكانة اللغة العربية التي أصبحت اليوم إحدى لغات العمل في الأمم المتحدة.
7-مشكلة المؤسسات العلمية العربية الحكومية وغير الحكومية:
إن المؤسسات العلمية المحلية والعربية الحكومية وغير الحكومية، ضعيفة الإيمان باعتبار اللغة العربية لغة علمية وهذا معوق أساسي للتعريب، إذ انقسمت الدول العربية في هذا الشأن ما بين مؤيد ومعارض خلال مؤتمر التعريب السابع في الخرطوم وأدى ذلك إلى تشتت الجهد العربي في هذا المجال. وحتى الدول المؤيدة للتعريب والتي حضرت المؤتمرات فإن جامعاتها العلمية ما زالت تدرس باللغة الأجنبية –لغة المستعمر- على الرغم من وجود قرار عربي صادر عن جامعة الدول العربية ينص على ضرورة التعريب،وجعل اللغة العربية لغة التدريس في الجامعات .
لذلك لا بد من إيمان هذه المؤسسات العلمية بضرورة التعريب، وتوحيد الصفوف العربية في هذه القضية والتي تتجاوز إمكانيات البلد الواحد، مع وجود قانون يلزم هذه المؤسسات بضرورة تنفيذ القرار، مع التنسيق بين المؤسسات العلمية في هذا المجال. كل ذلك يدفع بعملية التعريب إلى الأمام ويحد من المشكلة.
8-المشكلة الاجتماعية:
وهي من المشاكل التي تواجه المتعلم عند تخرجه، وولوجه الحياة العملية وخصوصاً المتخرج من الكليات العلمية المهنية، فالطبيب يجد هوة ما بين اللغة التي تعلم بها ولغة الحوار العلمي مع المجتمع، وكذلك المهندس الزراعي عند الحديث عن الآفات الزراعية التي تواجه المزارعين.
لهذا فإن حل هذه المشكلة مرتبط بحل كل المشكلات السابقة الذكر، إن هذه المشكلة مرتبطة بالمخرجات العلمية، أي بعد تخرّج الجيل الجديد القادر على حمل زمام المبادرة، فإعداده لفترة وجيزة بلغة أجنبية ووضعه في مقدمة الركب لمواجهة المشاكل بلغة الأم يؤثر على عطائه ويؤدي إلى عزلته عن العلم الذي تلقاه باللغة الأجنبية في فترة وجيزة، فالطبيب لا يتعامل مع مريضه بلغة العلم الأجنبية وكذلك المهندس مع الفلاح مثلاً . فهذا يؤدي كله إلى عزلته عن المجتمع لغوياً ويتعامل معه بلغته العامية، لذلك لا بد من رابط بينه وبين العلم وبين المجتمع، وهذا لا يكون إلا بلغة مشتركة وهي اللغة الأم.
9-المشكلة المادية:
إن قلة الدعم المادي وعدم وفرته يؤثر على كل ما ذكر، فالمادة هي أكبر المشاكل التي تواجه التعريب، إذ التعريب الشامل من تأليف وترجمة وإعداد الكادر المؤهل، كل ذلك بحاجة إلى دعم مادي كبير يتجاوز إمكانيات البلد الواحد، لذلك لا بد من تكاثف الجهود بين المؤسسات العلمية الوطنية في البلد الواحد وبين المؤسسات العربية في الوطن العربي.
كذلك لا بد أن تتبنى مشروع التعريب عربياً جهة مركزية قوية على صعيد الوطن العربي لها إمكانيات ضخمة متوفرة.
ولعل الحل الأمثل لمواجهة هذه التحديات كلها هو البدء بالتدريس باللغة العربية خطوة بعد خطوة ، لأنه الطريق الأمثل للتعرف على الصعوبات وحلها في نفس الوقت.
الخاتمة:
إن قضية التعريب ليست تأليفاً وترجمة. أو بحثاً عن أصل كلمة ، إنما هي قضية تفكير، كيف نفكر؟ وبأي لغة؟ ولماذا؟ إذ الفكر غالباً لا بد أن يعبر عنه بلغة تتماشى مع تقدم الأمة الحضاري والفكري، وهذا يتم فعلاً إذا استطعنا أن نحدد لأنفسنا منهجاً فكرياً بعيداً عن التدخلات الخارجية، فالثقافة والفكر العربي والإسلامي منذ أكثر من أربعة عشر قرناً من الزمن، حافظ بأن يخلق منهجاً فكرياً يخلص الأمة من بقايا الاستعمار، فها نحن خرجنا من دائرة الاستعمار ، فعلينا إذا أن نجد لغة علمية قادرة أن تربط الماضي بالحاضر، وتدفع الأمة إلى الأمام والازدهار وهذا يعني أن ترتبط اللغة بالتفكير الذي يفكر به المجتمع لكي يحصل التقدم.
فالأمة العربية إذا فكرت بعقلها العربي وعبرت عن هذا الفكر باللغة الأجنبية فإنها ستبقى ثابتة، لأن اللغة وعاء للأفكار والأحاسيس فلا التفكير وحده يكفي ولا اللغة وحدها تكفي. فلابد من تفكير تعبر عنه لغة تنتمي إلى الإطار الفكري للأمة.
والوطن العربي اليوم والماضى كان صراعه في أن يجد لغة تعبر عن تفكيره وحارب الاستعمار هذه الفكرة ليبقى المجتمع العربي بعيداً من روحه الفكرية المعبر عنها بلغته، بل هناك أدوات استعمارية حاولت محاربة اللغة بتغيير حروفها وأشكال رسمها بالأحرف اللاتينية وتغير لغة الفصحى بلغة العامية، وكانت محاولاتها ناجحا، و استطاع المستعمرون أن يحولوا لغة العلم والتفكير والتكونولوجيا من العربية إلى لغتهم في مجال تدريس العلوم ونجحوا في إثبات دعوتهم القائلة بأن اللغة العربية لغة دين لا لغة علم والتفكير والتكنولوجيا.
إن قضية التعريب قضية ترتبط بعقولنا وانتمائنا. فإذا أحست المؤسسات العلمية العربية وأحس المجتمع بأنه من الضروري أن يحصل التعريب لتكون لغتنا تعبيراً عن فكرنا ووعاءً له فإن القضية ستنجح وستكون كل المعوقات يسهل التغلب عليها وأمر غير مستحيل فى حلها ، ولذلك أرى إلى :
- إنشاء مؤسسات العلمية للتعريب والترجمة فى الجامعات والمدارس الدول العربية والإسلامية والغربية.
- التعاون والتنسيق بين المؤسسات العلمية في الوطن العربي والعالم الإسلامى والدول الغربى.
- الاهتمام باللغة العربية من مراحلها الدراسى الأولى .
- توفير الدعم المادي المطلوب للتعريب.
- الاهتمام بالتراث العلمي كتحقيق المخطوطات.
- تطوير الدراسات والبحوث العلمية باللغة العربية .
المراجع
أ- العربية:
إبراهيم, محمود. 1994. تعريب التعليم العالي. دار آفاق للنشر. عمان.
بن عبد الله، عبد العزيز. 1975. التعريب ومستقبل اللغة العربية. المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم، معهد البحوث والدراسات العربية. القاهرة.
تعلم العلوم الصحية والفنية باللغة العربية. منظمة الصحة العالمية. القاهرة.1991.
حموتو, آزاد. 1425 هـ/2004م. النهوض باللغة أم بمتكلمها. فى مجلّة العربى العدد 546 ربيع الأول/مايو. الشروق. القاهرة.
خـريوش, عبد الرؤوف.د.ت. تعريب التعليم الجامعي وأهم المشاكل التي تواجهه. جامعة القـدس المفتوحـة, فلسطيـــن.
دراسات من واقع الترجمة في الوطن العربي. المنظمة العربية للتربية والثقافة والعلوم. تونس. 1985.
الشهاوى, صلاح عبد الستار. 1425هـ / 2004م. بل (العربية) هي من أقدم اللغات. فى مجلّة العربى العدد 544 المحرم/ مارس. الشروق . القاهرة.
العسكرى, سليمان إبراهيم. 1425هـ/ 2004م. أزمة العربية أم أزمة التعريب. فى مجلّة العربى العدد 545 صفر/ أبريل. الشروق. القاهرة.
--------------. 1425هـ / 2004م. أيّ تعريب نريد؟. فى مجلّة العربى العدد 546 ربيع الأول/ مايو, الشروق. القاهرة.
على, نبيل. 1424هـ/ 2003م. الترجمة العلمية وعالمنا العربى. فى مجلّة العربى العدد 535 ربيع الأول/ يونيو. الشروق. القاهرة.
قاسم، عوني الشريف.1980. الإسلام والثورة الحضارية. دار القلم. بيروت.
------------.د.ت. الإسلام والبعث القومي. دار القلم. بيروت.
ب- الإندونيسة:
Daud, Wan Mohd Nor Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al Attas. Mizan. Bandung.
Nakosteen, Mehdi. 1996. "Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam" (diterjemahkan dari buku History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350; with an Introduction to Medieval Muslim Education oleh Joko S. Kahhar dkk), Risalah Gusti. Surabaya.
الحاشية
pendidikan
Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah
Melalui Manajemen Berbasis Madrasah
Muhandis Azzuhri
Abstrak: Madrasah merupakan sekolah umum berciri khas agama Islam yang keberadaannya diperhitungkan masyarakat, karena memberikan pengetahuan umum dengan perspektif keislaman. Agar madrasah sesuai dengan harapan masyarakat maka mutu pendidikan harus ditingkatkan dengan menerapkan kebijakan pendidikan nasional yang mencanangkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah dengan pendekatan input, process, dan out put. Melalui konsep Manajemen Berbasis Madrasah ini diharapkan terwujud madrasah yang efektif, memiliki profil yang kuat, mandiri, inovatif, dan menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan sikap kritis, kreatif dan bermotivasi tinggi.
Pendahuluan
Sebagai suatu institusi pendidikan, madrasah merupakan bagian tak terpisahkan dari proses penentuan nasib bangsa di masa depan. Karena pendidikan adalah aset untuk mencapai cita-cita di masa mendatang, maka madrasah harus memperoleh posisi strategis dalam kehidupan anak bangsa. Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama dari tingkat MI/SD sampai MA/SMU.
Menurut data dari Dirjen Bimbaga Islam, pada akhir tahun 2006 kemarin madrasah menampung sekitar 6 juta siswa atau sekitar 15% dari jumlah anak madrasah tingkat SD/MI sampai SMU/MA. Namun realitas menunjukkan bahwa secara umum, madrasah menanggung berbagai persoalan terkait dengan masih rendahnya mutu pendidikan madrasah dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum lainnya di bawah Departemen Pendidikan Nasional, walaupun sudah banyak beberapa terobosan dari pengelola pendidikan madrasah untuk membuat madrasah model dari MI sampai MA tetapi realitas yang terjadi sekarang ini banyak madrasah model tersebut ternyata kualitasnya masih di bawah madrasah bukan model (As’ad, 2006 : 25).
Rendahnya mutu pendidikan madrasah tersebut, membuat stakeholder madrasah melakukan upaya pengembangan pendidikan yang tadinya menggunakan pendekatan sentralistik dan top down, dirubah ke pendekatan desentralisasi dan button up. Seiring dengan itu muncullah konsep Madrasah Based Management (Manajemen Berbasis Madrasah) dalam penyelenggaraan pendidikan.
Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi yang signifikan terhadap perilaku penyelenggara pendidikan (Pemerintah, Yayasan) dan komunitas madrasah (pimpinan, ustadz/guru, karyawan dan siswa) untuk mencari pendekatan, strategi dan metode baru dalam pengembangan madrasah, karena untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen berbasis madrasah yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan.
A. Manajemen Berbasis Madrasah (Madrasah Based Management)
Konsep Manajemen Berbasis Madrasah ini berdasarkan undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat (1) yang berbunyi “pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah” (Rohiat, 2008:51).
Manajemen Berbasis Madrasah diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada madrasah), memberikan fleksibilitas/keluwesan kepada madrasah, mendorong partisipasi secara langsung dari warga madrasah (ustadz/guru, siswa, kepala madrasah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan/ulama, pengusaha), untuk meningkatkan mutu madrasah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, madrasah diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan madrasah serta masyarakat atau stakeholder yang ada (Rohiat, 2008:47).
Manajemen Berbasis Madrasah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efesiensi, antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain melalui partisipasi orang tua terhadap madrasah, fleksibilitas pengelolaan madrasah dan kelas, peningkatan profesionalisme ustadz/guru dan kepala madrasah, berlakunya sistem insentif serta disinsetif. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap madrasah (Mulyasa, 2003: 25).
Lebih spesifik lagi, Manajemen Berbasis Madrasah bertujuan untuk: (1) menjamin mutu pembelajaran anak didik yang berpijak pada asas pelayanan dan prestasi hasil belajar; (2) meningkatkan kualitas transfer ilmu pengetahuan dan membangun karakter bangsa yang berbudaya; (3) meningkatkan mutu madrasah dengan memantapkan pemberdayaan melalui kemandirian, kreativitas, inisiatif, dan inovatif dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya madrasah; (4) meningkatkan kepedulian warga madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan dengan mengakomodir aspirasi bersama; (5) meningkatkan tanggung jawab madrasah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu madrasah; dan (6) meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai (Sagala, 2004:133-134).
Pada prinsipnya, Manajemen Berbasis Madrasah adalah reformasi manajemen terhadap kewajiban (responsibility), wewenang (authority), profesionalisme dan tanggung jawab (accountability) juga transpransi untuk meningkatkan kinerja madrasah dan yang berkepentingan, antara lain siswa, orang tua siswa, ustadz/guru, masyarakat, dan pihak yang terkait (stakeholder), lapangan kerja dan sebagainya yang dapat mengenal perubahan dan memiliki kekuasaan dalam mengoptimalisasi sumber daya. Manajemen Berbasis Madrasah memiliki potensi menciptakan pengelolaan secara profesional dan lebih unggul yang didukung oleh faktor informasi, efektivitas, efisiensi, dan kemandirian (Sagala, 2004:134).
Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Madrasah adalah sebagai berikut:
a. Komitmen, kepala madrasah dan warga madrasah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menggerakkan semua warga madrasah untuk ber-Manajemen Berbasis Madrasah.
b. Kesiapan, semua warga madrasah harus siap fisik dan mental untuk ber-Manajemen Berbasis Madrasah.
c. Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
d. Kelembagaan, madrasah sebagai lembaga adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif.
e. Keputusan, segala keputusan madrasah dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
f. Kesadaran, guru-guru harus memiliki kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum.
g. Kemandirian, madrasah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.
h. Ketahanan, perubahan akan bertahan lama apabila melibatkan stakeholder madrasah (Usman, 2006: 498).
B. Karakteristik Manajemen Berbasis Madrasah
Manajemen Berbasis Madrasah memiliki karakteristik yang perlu difahami oleh madrasah yang akan menerapkannya. Dengan kata lain, jika madrasah ingin sukses dalam menerapkan MBM, sejumlah karakteristik MBM harus dimiliki diantaranya input pendidikan, proses pendidikan, dan output pendidikan.
Input pendidikan adalah segala hal yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Segala hal yang dimaksud meliputi sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala madrasah, guru/ustadz, termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dan sebagainya). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi madrasah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, dan sebagainya. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh madrasah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut.
Proses pendidikan merupakan kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan berskala mikro (tingkat madrasah), proses yang dimaksud meliputi proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar mengajar serta proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input madrasah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dan sebagainya) dilakukan secara harmonis dan terpadu sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Kata “memberdayakan” mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya, akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih penting lagi, peserta didik tersebut mampu belajar secara mandiri.
Output pendidikan merupakan kinerja madrasah. Kinerja madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan dari proses/perilaku madrasah. Kinerja madrasah dapat diukur dari kualitas, efektivitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan kualitas/mutu output madrasah, dapat dijelaskan bahwa output madrasah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi madrasah, khususnya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam (1) prestasi akademik, berupa nilai ulangan harian, nilai dari portofolio, nilai ulangan umum atau nilai pancapaian ketuntasan kompetensi, UAN/UAS, karya ilmiah, lomba akademik, karya-karya lain peserta didik; dan (2) prestasi non akademik seperti IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, ketrampilan kejujuran dan sebagainya (Rohiat, 2008:52-53).
C. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah
Implementasi MBM akan berlangsung secara efektif dan efesien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan madrasah, dana yang cukup agar madrasah mampu menggaji pegawai sesuai dengan fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat dan orang tua yang tinggi. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBM akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini.
Pertama; madrasah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian dan memberikan penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.
Kedua; adanya peran serta masyarakat yang aktif dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non-instruksional. Madrasah harus mengajak lebih banyak lingkungan dalam mengelola madrasah karena bagaimanapun madrasah adalah bagian dari masyarakat secara luas. Apalagi dengan makin terbatasnya sumber pembiayaan dari pemerintah, makin mendorong masyarakat dalam pengelolaan pendidikan.
Ketiga; adanya kepemimpinan madrasah yang kuat sehingga mampu menggerakan dan mendayagunakan setiap sumber daya madrasah secara efektif terutama kepala madrasah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan madrasah secara umum. Kepala madrasah dalam MBM berperan sebagai designer, motivator, fasilitator, dan liaison. Pengangkatan kepala madrasah didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan (Nurkolis, 2003: 132).
Di sisi lain, yang perlu diperhatikan oleh kepala madrasah dan wakil kepala madrasah adalah terkait dengan kerja guru dan karyawan dari sisi prestasi atau penampilan kerja (performance), yang diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Dengan demikian, hakikat orang bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, yang selanjutnya adanya dorongan/motivasi tertentu. Jadi proses motivasi sebagian besar diarahkan untuk memenuhi dan mencapai kebutuhan, dan kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Sebagai implikasi dari motivasi tersebut, maka pihak kepala madrasah harus memberikan sesuatu yang bersifat memuaskan kepada para guru dan karyawan, seperti prestasi, penghargaan, pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih (Romlah, 2006: 46-47).
Keempat, adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan komite madrasah yang aktif. Dalam pengambilan keputusan kepala madrasah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah.
Kelima, semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap MBM itu sendiri.
Keenam, adanya guideline dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di madrasah secara efesien dan efektif. Guidelines ini bukan peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu madrasah melainkan hanya rambu-rambu yang membimbing dalam pelaksanaan MBM.
Ketujuh, madrasah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban madrasah terhadap semua stakeholder. Untuk itu, madrasah harus dijalankan secara transparan, demokratis, dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait (Nurkolis, 2003: 133-134).
Stakeholder adalah pihak-pihak, baik di dalam sistem (internal stakeholder) seperti unit-unit formal (lembaga atau pimpinan) dalam lingkup organisasi, kelompok masyarakat seperti komite madrasah, organisasi intramadrasah, dan alumni) maupun di luar organisasi (external stakeholder) seperti organisasi profesi (PGRI, Korpri), LSM, Lembaga Keagamaan, Pemerintah Daerah, lembaga-lembaga kursus dan sebagainya yang berkepentingan dan berpengaruh terhadap organisasi atau sistem pendidikan (Sagala, 2004: 148).
Pengertian stakeholder ini dipertegas oleh Jones (1995) yang mengemukakan, “stakeholder are people who have an interest, claim or stake in the organization, in what it does, and in how well it performs”. Pendapat Jones ini memberi arti bahwa stakeholder adalah orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan dan termotivasi atau berkeinginan kuat berpartisipasi dalam suatu organisasi jika mereka diberikan ruang yang memadai untuk memberikan pokok-pokok pemikiran atau nasihatnya dalam hal meningkatkan mutu pendidikan yang kompetitif.
Kedelapan, penerapan MBM harus diarahkan untuk pencapaian kinerja madrasah dan lebih khusus adalah meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa.
Kesembilan, implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBM, identifikasi peran masing-masing, pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan (Nurkolis, 2003:134).
Mulyasa (2003:59-61) menyatakan bahwa agar MBM dapat diimplementasikan secara optimal, baik di era krisis maupun pada pascakrisis maka perlu adanya beberapa strategi, yaitu (1) pengelompokan madrasah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing; (2) pentahapan implementasi MBM dengan membaginya menjadi tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama - tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat - sampai tahun keenam), dan jangka panjang (sampai tahun keenam); (3) perangkat implementasi MBM berupa pedoman-pedoman umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat implementasi ini diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejak pelaksanaan jangka pendek.
Adapun menurut As’ad (2006: 28-29) agar implementasi MBM sesuai dengan yang diharapkan, maka dirumuskan dua strategi utama, yaitu strategi manajerial dan strategi substansial. Dalam strategi manajerial internal, pertama, madrasah membina komunikasi dan koordinasi antar unsur personalia yang ada dalam mini society madrasah sebaik-baiknya, dengan demikian terjadi good rapport (hubungan yang baik), sehingga sumber daya yang tersedia dapat dikelola secara proporsional. Kedua, posisi human resource yang tepat; the right man in the right place. Termasuk dalam strategi manajerial intern adalah membentuk sinergi kerja yang harmonis antara pimpinan, staf, guru dan siswa dalam mengemban misi, visi dan tujuan yang telah ditetapkan bersama, demikian pula pemberian kesempatan yang adil bagi warga madrasah untuk mengembangkan profesionalitas, potensi dan kompetensi masing-masing, serta adanya sistem reward dan insentif bagi warga madrasah yang berprestasi.
Dalam strategi manajerial eksternal akan memfokuskan pada hubungan madrasah dengan faktor pendukung di luar madrasah (yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi sebuah madrasah), yaitu melalui koordinasi dan sinkronisasi program madrasah dengan orang tua, majelis madrasah, masyarakat dan pemerintah.
Melalui strategi substansial, maka pengembangan madrasah akan berbasis pada kesatuan visi, misi dan tujuan madrasah yang dijabarkan dalam program pendidikan dan diaplikasikan dalam bentuk muatan kurikulum, serta kegiatan intra dan ekstra kurikuler bagi siswa. Strategi substansial ini penting artinya, karena melalui strategi ini madrasah diharapkan dapat menunjukkan spesifikasi dan keunggulan yang secara khusus dimiliki dengan mengembangkan model penyelenggaraan pendidikan berwawasan khusus di madrasah dalam konteks life skill dan berwawasan bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris).
D. Reformasi Madrasah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan
Reformasi berarti perubahan dengan melihat keperluan masa depan, menekankan kembali pada bentuk asal, berbuat lebih baik dengan menghentikan penyimpangan-penyimpangan dan praktik yang salah atau memperkenalkan prosedur yang lebih baik, suatu perombakan menyeluruh dari suatu sistem kehidupan dalam politik, ekonomi, hukum, sosial termasuk pendidikan.
Dengan demikian, dapat dikemukakan beberapa karakteristik reformasi dalam suatu bidang tertentu, yaitu adanya keadaan yang tidak memuaskan pada masa yang lalu, keinginan untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang, adanya perubahan besar-besaran, adanya orang yang melakukan (aktor) reformasi, adanya pemikiran atau ide-ide baru, adanya sistem dalam suatu institusi tertentu baik dalam skala kecil seperti madrasah maupun skala besar seperti negara. Di dalam upaya reformasi pendidikan, terdapat beberapa model yang ditawarkan diantaranya adalah Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah (Nurkolis, 2003: 32-33).
Reformasi pendidikan memiliki dua karakteristik dasar, yaitu terprogram dan sistemik. Reformasi pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan. Yang termasuk ke dalam reformasi terprogram ini adalah inovasi. Inovasi adalah tindakan memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan secara mencolok dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu yang diterapkan (Rich, 1988: 2).
Reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering kali terjadi di luar madrasah dan berada pada kekuatan sosial dan politik (Nurkolis, 2003: 35).
Menurut Bacharach (1990: 1-5) reformasi pendidikan diibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian, yaitu akar, batang, cabang, dan daunnya. Akar reformasi merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk suksesnya reformasi pendidikan harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Tanpa mempedulikan cara dan kebiasaan warganya maka reformasi pendidikan tidak akan mendapatkan sambutan apalagi dukungan dari segenap lapisan masyarakat. Yang paling penting penerapan Manajemen Berbasis Madrasah selalu memperhatikan latar belakang dan sejarah pendidikan di negara yang bersangkutan dan kondisi spesifik masyarakatnya.
Batang reformasinya adalah berupa mandat dari pemerintah, baik berupa standar, struktur, dan tujuannya. Dalam hal ini yang muncul adalah masalah akuntabilitas dan kinerja sebagai prioritas utama. Standar dan tujuan diadakannya reformasi harus jelas, karena tanpa reformasi hanyalah sekedar upaya untuk berubah tanpa makna. Dalam konteks ini hal terpenting lain adalah adanya akuntabilitas dan transparansi untuk mengukur kemajuan reformasi yang dijalankan.
Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah manajemen lokal (on-site management), pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Cabang reformasi ini menyangkut peningkatan kemampuan dan profesionalisme para pelaksana pendidikan, para pengelola pendidikan di daerah dan di madrasah itu sendiri.
Daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi madrasah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Bagian daun ini juga dekat dengan bagian akar, yaitu budaya dan kebiasaan hidup masyarakat setempat. Keempat bagian ini saling terkait dan tergantung, artinya apabila salah satu bagian tidak maksimal dalam perannya maka dapat mengganggu jalannya upaya reformasi pendidikan di madrasah.
Madrasah merupakan mini society yang terdiri dari 3 level, yaitu: level kelas (regulator), level mediator (profesi), dan level madrasah (manajemen). Dalam rangka meningkatkan pendidikan yang bermutu maka reformasi pendidikan di madrasah merupakan sudah keharusan. Adapun poin-poin reformasi pendidikan di madrasah adalah sebagai berikut:
a. pada level kelas (regulator): (1) mewujudkan proses pembelajaran efektitif dengan menekankan hakekat belajar yang sebenarnya (learning to know, learning to be, learning to do dan learning to life together); (2) menerapkan sistem evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
b. Pada level mediator (profesi): (1) melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan madrasah yang kuat; (2) melaksanakan pengembangan karyawan yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
c. Pada level madrasah (manajemen): (1) menumbuhkan komitmen untuk mandiri; (2) mengutamakan customer satisfation; (3) menumbuhkan sikap yang responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan; (4) menciptakan lingkungan madrasah yang safe and orderly; (5) menumbuhkan budaya mutu di lingkungan madrasah; (6) menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi; (7) menumbuhkan kemauan untuk berubah; (8) mengembangkan komunikasi yang baik; (9) mewujudkan team work yang kompak, cerdas dan dinamis; (10) melaksanakan keterbukaan (transparansi manajemen); (11) menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi madrasah (clarity of purpose); (12) melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif; (13) meningkatkan partisipasi warga madrasah dan masyarakat; dan (14) menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat (As’ad, 2006: 27-28).
E. Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah melalui Manajemen Berbasis Madrasah
Mutu atau kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat karena mutu pendidikan yang diinginkan tidak akan terjadi begitu saja. Mutu yang diinginkan tersebut harus direncanakan. Mutu perlu menjadi bagian penting dalam strategi sebuah institusi dan untuk meraihnya wajib menggunakan pendekatan yang sistematis dengan menggunakan proses perencanaan yang matang. Perencanaan strategi merupakan salah satu bagian dalam upaya peningkatan mutu (Rohiat, 2008: 52).
Menurut Sallis dalam (Nurkolis, 2003: 67) kualitas memiliki dua konsep yang berbeda antara konsep absolut dan relatif. Dalam konsep absolut sesuatu barang disebut berkualitas bila memenuhi standar tertinggi dan sempurna. Artinya, barang tersebut sudah tidak ada yang melebihi. Dalam konsep ini kualitas mirip dengan suatu kebaikan, kecantikan, kepercayaan yang ideal tanpa ada kompromi. Kualitas dalam makna absolut adalah yang terbaik, tercantik, terpercaya. Bila dipraktikan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang akan mampu menawarkan kualitas tinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit siswa yang akan mampu membayarnya
Sallis (1993: 107) menegaskan, “Quality does not just happen, it must be planned for. Quality need to be approach systematically using a rigorous strategic planning process. Strategic planning is one of the major planks to Total Quality Management. Without clear long-term direction the institution cannot plan fo quality improve”.
Mutu atau kualitas memiliki 13 karakteristik sebagai berikut:
1. Kinerja (performa): berkaitan dengan aspek fungsional madrasah. Misalnya: kinerja guru dalam mengajar baik, memberikan penjelasan meyakinkan, menyiapkan bahan pelajaran lengkap, pelayanan administratif tinggi dan edukatif madrasah baik yang ditandai hasil belajar tinggi.
2. Waktu wajar (timeliness), selesai dengan waktu yang wajar. Misalnya memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.
3. Handal (reliability): usia pelayanan prima bertahan lama. Misalnya, pelayanan prima yang diberikan madrasah bertahun dari tahun ke tahun, mutu madrasah tetap bertahan dari tahun ke tahun.
4. Daya tahan (durability): tahan banting. Misalnya: meskipun krisis moneter, madrasah masih tetap bertahan, tidak tutup.
5. Indah (estetics). Misalnya: eksterior dan interior madrasah ditata menarik. Taman ditanami bunga dan terpelihara dengan baik.
6. Hubungan manusiawi (personal interface): menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme. Misalnya, warga madrasah saling menghormati, baik warga intern maupun ekstern madrasah, demokratis dan menghargai profesionalisme.
7. Mudah penggunaannya (easy of use). Sarana dan prasarana dipakai. Misalnya, aturan-aturan madrasah mudah diterapkan. Buku-buku perpustakaan mudah dipinjam dan dikembalikan tepat waktu.
8. Bentuk khusus (feature): keunggulan tertentu. Misalnya: madrasah ada yang unggul dengan hampir semua lulusannya diterima di universitas bermutu. Unggul dengan bahasa inggrisnya. Unggul dengan penguasaan teknologi informasinya (komputerisasi). Ada yang unggul dengan karya ilmiah kesenian atau olah raga.
9. Standar tertentu (conformance to specification): memenuhi standar tertentu. Misalnya: madrasah sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), madrasah sudah memenuhi standar minimal ujian nasional atau madrasah sudah memenuhi ISO 9001:2000 atau madrasah sudah memenuhi TOEFL dengan skor 650.
10. Konsistensi (consistency): keajegan, konstan, atau stabil. Misalnya: mutu madrasah dari dahulu sampai sekarang tidak menurun seperti harus mengatrol nilai siswa-siswanya. Warga madrasah konsisten antara perkataan dengan perbuatan. Apabila berkata tidak berbohong, apabila berjanji ditepati, dan apabila dipercaya tidak menghianati.
11. Seragam (uniformity): tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya: madrasah menyeragamkan pakaian sekolah dan pakaian dinas. Madrasah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu atau pilih kasih.
12. Mampu melayani (serviceability): mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya: madrasah menyediakan kotak saran dan saran-saran yang masuk mampu dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Madrasah mampu mamberikan pelayanan primanya kepada pelanggan madrasah sehingga semua pelanggan merasa puas
13. Ketepatan (acuracy): ketepatan dalam pelayanan. Misalnya: madrasah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan madrasah, guru-guru tidak salah dalam menilai siswa-siswanya. Semua warga madrasah bekerja dengan teliti. Jam belajar di madrasah berlangsung tepat waktu.
Mutu meliputi: (1) mutu produk, (2) mutu biaya, (3) mutu penyerahan, (4) mutu keselamatan, dan (5) mutu semangat/moril. Mutu memiliki tingkatan, mulai tingkatan yang paling rendah, yaitu 1) inspeksi menjaga mutu dengan ketelitian pengawas, 2) Quality Control menjaga mutu dengan pendeteksian, 3) Quality Approach menjaga mutu dengan cara pencegahan, 4) Total Qualiaty Management menjaga mutu dengan cara terus menerus (Usman, 2006: 411 - 413).
Dalam rangka mengimplementasikan konsep Peningkatan Mutu Pendidikan di Madrasah melalui Manajemen Berbasis Madrasah, maka perlu ada partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan madrasah dengan melakukan beberapa tahapan sebagai berikut :
• Penyusunan basis data dan profil madrasah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.
• Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya madrasah, personil madrasah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
• Berdasarkan analisis tersebut pengelola madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan madrasah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengelolaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
• Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannya). Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan nilai UAN rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dan sebagainya). Program madrasah yang disusun bersama-sama antara pihak madrasah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu madrasah dan madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.
Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksanakan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program madrasah, oleh karena itu pihak madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program madrasah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan telah juga disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus manajemen berbasis madrasah ini adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program madrasah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan (Umaedi, 2009: th).
Kesimpulan/Penutup
Model Manajemen Berbasis Madrasah prinsip dasarnya merupakan kebebasan untuk memilih (freedom of choice) dan membutuhkan kecerdasan, yaitu memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas dan mampu melihat fenomena, bukan seberapa besar kemampuan menghimpun dana atau kekayaan madrasah. Format Manajemen Berbasis Madrasah adalah “back to basic educatioan”, yaitu kembali ke jati diri pendidikan sebagai proses penanaman nilai (value) kemanusiaan yang baik serta memanusiakan manusia oleh manusia. Program Manajemen Berbasis Madrasah bukanlah pemindahan tanggung jawab anggaran dari pemerintah ke masyarakat, tetapi sebagai upaya peningkatan mutu secara terus menerus dengan kewenangan madrasah yang tetap penuh dan profesional.
Strategi pengembangan madrasah agar bermutu melalui manajemen berbasis madrasah dapat dilakukan dengan metode top down (dari atas ke bawah) yang dalam hal ini membutuhkan adanya political will dari pemerintah, disamping juga perlu strategi bottom up (dari bawah ke atas) yang datangnya dari masyarakat dan madrasah sebagai kebutuhan akan mutu pendidikan. Madrasah yang mampu harus membiayai dirinya sendiri, sedangkan yang tidak mampu harus menjadi tanggung jawab pemerintah. Meskipun demikian, manajemen berbasis madrasah mengukuhkan standar pelayanan dengan memperhatikan di mana madrasah berada dan menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat serta pemerintahannya.
Daftar Pustaka
As’ad, Asmawatie Rosyidah. 2006, School of Reform: Menuju Madrasah Efektif, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Bacharach, Samuel B., 1990, Education Reform: Making Sense of It All, Massachusetts: Allyn dan Bacon,
Jones, G.R., 1995. Organizational Theory: Texts and Cases, Massachusets: Addision Wesley Company.
Mulyasa, E. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Rich, John Martin. 1988. Innovation in Education: Reformer and Their Critics. Massachusetts: Allyn dan Bacon, Incc.
Rohiat. 2008. Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik. Bandung: Refika Aditama.
Romlah. 2006. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui Pemberdayaan Manajemen dan Kepemimpinan di MAN Malang I, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Sagala, Syaiful. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: Nimas Multima.
Sallis, Edward. 1993. Total Quality Management in Education. Philadelphia: Diddles Ltd, Guilford, and King’s Lynn.
Umaedi, 1999, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah: Sebuah Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Madrasah untuk Peningkatan Mutu, (Online) (http://www.ssep.net/director.html, diakses 7 Mei 2009).
Usman, Husaini. 2006. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Melalui Manajemen Berbasis Madrasah
Muhandis Azzuhri
Abstrak: Madrasah merupakan sekolah umum berciri khas agama Islam yang keberadaannya diperhitungkan masyarakat, karena memberikan pengetahuan umum dengan perspektif keislaman. Agar madrasah sesuai dengan harapan masyarakat maka mutu pendidikan harus ditingkatkan dengan menerapkan kebijakan pendidikan nasional yang mencanangkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah dengan pendekatan input, process, dan out put. Melalui konsep Manajemen Berbasis Madrasah ini diharapkan terwujud madrasah yang efektif, memiliki profil yang kuat, mandiri, inovatif, dan menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan sikap kritis, kreatif dan bermotivasi tinggi.
Pendahuluan
Sebagai suatu institusi pendidikan, madrasah merupakan bagian tak terpisahkan dari proses penentuan nasib bangsa di masa depan. Karena pendidikan adalah aset untuk mencapai cita-cita di masa mendatang, maka madrasah harus memperoleh posisi strategis dalam kehidupan anak bangsa. Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama dari tingkat MI/SD sampai MA/SMU.
Menurut data dari Dirjen Bimbaga Islam, pada akhir tahun 2006 kemarin madrasah menampung sekitar 6 juta siswa atau sekitar 15% dari jumlah anak madrasah tingkat SD/MI sampai SMU/MA. Namun realitas menunjukkan bahwa secara umum, madrasah menanggung berbagai persoalan terkait dengan masih rendahnya mutu pendidikan madrasah dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum lainnya di bawah Departemen Pendidikan Nasional, walaupun sudah banyak beberapa terobosan dari pengelola pendidikan madrasah untuk membuat madrasah model dari MI sampai MA tetapi realitas yang terjadi sekarang ini banyak madrasah model tersebut ternyata kualitasnya masih di bawah madrasah bukan model (As’ad, 2006 : 25).
Rendahnya mutu pendidikan madrasah tersebut, membuat stakeholder madrasah melakukan upaya pengembangan pendidikan yang tadinya menggunakan pendekatan sentralistik dan top down, dirubah ke pendekatan desentralisasi dan button up. Seiring dengan itu muncullah konsep Madrasah Based Management (Manajemen Berbasis Madrasah) dalam penyelenggaraan pendidikan.
Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi yang signifikan terhadap perilaku penyelenggara pendidikan (Pemerintah, Yayasan) dan komunitas madrasah (pimpinan, ustadz/guru, karyawan dan siswa) untuk mencari pendekatan, strategi dan metode baru dalam pengembangan madrasah, karena untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen berbasis madrasah yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan.
A. Manajemen Berbasis Madrasah (Madrasah Based Management)
Konsep Manajemen Berbasis Madrasah ini berdasarkan undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat (1) yang berbunyi “pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah” (Rohiat, 2008:51).
Manajemen Berbasis Madrasah diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada madrasah), memberikan fleksibilitas/keluwesan kepada madrasah, mendorong partisipasi secara langsung dari warga madrasah (ustadz/guru, siswa, kepala madrasah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan/ulama, pengusaha), untuk meningkatkan mutu madrasah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang berlaku. Dengan otonomi tersebut, madrasah diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan madrasah serta masyarakat atau stakeholder yang ada (Rohiat, 2008:47).
Manajemen Berbasis Madrasah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efesiensi, antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain melalui partisipasi orang tua terhadap madrasah, fleksibilitas pengelolaan madrasah dan kelas, peningkatan profesionalisme ustadz/guru dan kepala madrasah, berlakunya sistem insentif serta disinsetif. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap madrasah (Mulyasa, 2003: 25).
Lebih spesifik lagi, Manajemen Berbasis Madrasah bertujuan untuk: (1) menjamin mutu pembelajaran anak didik yang berpijak pada asas pelayanan dan prestasi hasil belajar; (2) meningkatkan kualitas transfer ilmu pengetahuan dan membangun karakter bangsa yang berbudaya; (3) meningkatkan mutu madrasah dengan memantapkan pemberdayaan melalui kemandirian, kreativitas, inisiatif, dan inovatif dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya madrasah; (4) meningkatkan kepedulian warga madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan dengan mengakomodir aspirasi bersama; (5) meningkatkan tanggung jawab madrasah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu madrasah; dan (6) meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai (Sagala, 2004:133-134).
Pada prinsipnya, Manajemen Berbasis Madrasah adalah reformasi manajemen terhadap kewajiban (responsibility), wewenang (authority), profesionalisme dan tanggung jawab (accountability) juga transpransi untuk meningkatkan kinerja madrasah dan yang berkepentingan, antara lain siswa, orang tua siswa, ustadz/guru, masyarakat, dan pihak yang terkait (stakeholder), lapangan kerja dan sebagainya yang dapat mengenal perubahan dan memiliki kekuasaan dalam mengoptimalisasi sumber daya. Manajemen Berbasis Madrasah memiliki potensi menciptakan pengelolaan secara profesional dan lebih unggul yang didukung oleh faktor informasi, efektivitas, efisiensi, dan kemandirian (Sagala, 2004:134).
Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Madrasah adalah sebagai berikut:
a. Komitmen, kepala madrasah dan warga madrasah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya menggerakkan semua warga madrasah untuk ber-Manajemen Berbasis Madrasah.
b. Kesiapan, semua warga madrasah harus siap fisik dan mental untuk ber-Manajemen Berbasis Madrasah.
c. Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak.
d. Kelembagaan, madrasah sebagai lembaga adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif.
e. Keputusan, segala keputusan madrasah dibuat oleh pihak yang benar-benar mengerti tentang pendidikan.
f. Kesadaran, guru-guru harus memiliki kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum.
g. Kemandirian, madrasah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana.
h. Ketahanan, perubahan akan bertahan lama apabila melibatkan stakeholder madrasah (Usman, 2006: 498).
B. Karakteristik Manajemen Berbasis Madrasah
Manajemen Berbasis Madrasah memiliki karakteristik yang perlu difahami oleh madrasah yang akan menerapkannya. Dengan kata lain, jika madrasah ingin sukses dalam menerapkan MBM, sejumlah karakteristik MBM harus dimiliki diantaranya input pendidikan, proses pendidikan, dan output pendidikan.
Input pendidikan adalah segala hal yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Segala hal yang dimaksud meliputi sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala madrasah, guru/ustadz, termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dan sebagainya). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi madrasah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, dan sebagainya. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh madrasah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut.
Proses pendidikan merupakan kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan berskala mikro (tingkat madrasah), proses yang dimaksud meliputi proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar mengajar serta proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input madrasah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dan sebagainya) dilakukan secara harmonis dan terpadu sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Kata “memberdayakan” mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya, akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih penting lagi, peserta didik tersebut mampu belajar secara mandiri.
Output pendidikan merupakan kinerja madrasah. Kinerja madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan dari proses/perilaku madrasah. Kinerja madrasah dapat diukur dari kualitas, efektivitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan kualitas/mutu output madrasah, dapat dijelaskan bahwa output madrasah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi madrasah, khususnya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam (1) prestasi akademik, berupa nilai ulangan harian, nilai dari portofolio, nilai ulangan umum atau nilai pancapaian ketuntasan kompetensi, UAN/UAS, karya ilmiah, lomba akademik, karya-karya lain peserta didik; dan (2) prestasi non akademik seperti IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, ketrampilan kejujuran dan sebagainya (Rohiat, 2008:52-53).
C. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah
Implementasi MBM akan berlangsung secara efektif dan efesien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan madrasah, dana yang cukup agar madrasah mampu menggaji pegawai sesuai dengan fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat dan orang tua yang tinggi. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBM akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini.
Pertama; madrasah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian dan memberikan penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.
Kedua; adanya peran serta masyarakat yang aktif dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non-instruksional. Madrasah harus mengajak lebih banyak lingkungan dalam mengelola madrasah karena bagaimanapun madrasah adalah bagian dari masyarakat secara luas. Apalagi dengan makin terbatasnya sumber pembiayaan dari pemerintah, makin mendorong masyarakat dalam pengelolaan pendidikan.
Ketiga; adanya kepemimpinan madrasah yang kuat sehingga mampu menggerakan dan mendayagunakan setiap sumber daya madrasah secara efektif terutama kepala madrasah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan madrasah secara umum. Kepala madrasah dalam MBM berperan sebagai designer, motivator, fasilitator, dan liaison. Pengangkatan kepala madrasah didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan (Nurkolis, 2003: 132).
Di sisi lain, yang perlu diperhatikan oleh kepala madrasah dan wakil kepala madrasah adalah terkait dengan kerja guru dan karyawan dari sisi prestasi atau penampilan kerja (performance), yang diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Dengan demikian, hakikat orang bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, yang selanjutnya adanya dorongan/motivasi tertentu. Jadi proses motivasi sebagian besar diarahkan untuk memenuhi dan mencapai kebutuhan, dan kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Sebagai implikasi dari motivasi tersebut, maka pihak kepala madrasah harus memberikan sesuatu yang bersifat memuaskan kepada para guru dan karyawan, seperti prestasi, penghargaan, pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih (Romlah, 2006: 46-47).
Keempat, adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan komite madrasah yang aktif. Dalam pengambilan keputusan kepala madrasah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah.
Kelima, semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap MBM itu sendiri.
Keenam, adanya guideline dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di madrasah secara efesien dan efektif. Guidelines ini bukan peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu madrasah melainkan hanya rambu-rambu yang membimbing dalam pelaksanaan MBM.
Ketujuh, madrasah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban madrasah terhadap semua stakeholder. Untuk itu, madrasah harus dijalankan secara transparan, demokratis, dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait (Nurkolis, 2003: 133-134).
Stakeholder adalah pihak-pihak, baik di dalam sistem (internal stakeholder) seperti unit-unit formal (lembaga atau pimpinan) dalam lingkup organisasi, kelompok masyarakat seperti komite madrasah, organisasi intramadrasah, dan alumni) maupun di luar organisasi (external stakeholder) seperti organisasi profesi (PGRI, Korpri), LSM, Lembaga Keagamaan, Pemerintah Daerah, lembaga-lembaga kursus dan sebagainya yang berkepentingan dan berpengaruh terhadap organisasi atau sistem pendidikan (Sagala, 2004: 148).
Pengertian stakeholder ini dipertegas oleh Jones (1995) yang mengemukakan, “stakeholder are people who have an interest, claim or stake in the organization, in what it does, and in how well it performs”. Pendapat Jones ini memberi arti bahwa stakeholder adalah orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan dan termotivasi atau berkeinginan kuat berpartisipasi dalam suatu organisasi jika mereka diberikan ruang yang memadai untuk memberikan pokok-pokok pemikiran atau nasihatnya dalam hal meningkatkan mutu pendidikan yang kompetitif.
Kedelapan, penerapan MBM harus diarahkan untuk pencapaian kinerja madrasah dan lebih khusus adalah meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa.
Kesembilan, implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBM, identifikasi peran masing-masing, pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan (Nurkolis, 2003:134).
Mulyasa (2003:59-61) menyatakan bahwa agar MBM dapat diimplementasikan secara optimal, baik di era krisis maupun pada pascakrisis maka perlu adanya beberapa strategi, yaitu (1) pengelompokan madrasah berdasarkan tingkat kemampuan manajemen masing-masing; (2) pentahapan implementasi MBM dengan membaginya menjadi tiga tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama - tahun ketiga), jangka menengah (tahun keempat - sampai tahun keenam), dan jangka panjang (sampai tahun keenam); (3) perangkat implementasi MBM berupa pedoman-pedoman umum yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta laporan pelaksanaan. Perangkat implementasi ini diperkenalkan sejak awal, melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejak pelaksanaan jangka pendek.
Adapun menurut As’ad (2006: 28-29) agar implementasi MBM sesuai dengan yang diharapkan, maka dirumuskan dua strategi utama, yaitu strategi manajerial dan strategi substansial. Dalam strategi manajerial internal, pertama, madrasah membina komunikasi dan koordinasi antar unsur personalia yang ada dalam mini society madrasah sebaik-baiknya, dengan demikian terjadi good rapport (hubungan yang baik), sehingga sumber daya yang tersedia dapat dikelola secara proporsional. Kedua, posisi human resource yang tepat; the right man in the right place. Termasuk dalam strategi manajerial intern adalah membentuk sinergi kerja yang harmonis antara pimpinan, staf, guru dan siswa dalam mengemban misi, visi dan tujuan yang telah ditetapkan bersama, demikian pula pemberian kesempatan yang adil bagi warga madrasah untuk mengembangkan profesionalitas, potensi dan kompetensi masing-masing, serta adanya sistem reward dan insentif bagi warga madrasah yang berprestasi.
Dalam strategi manajerial eksternal akan memfokuskan pada hubungan madrasah dengan faktor pendukung di luar madrasah (yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi sebuah madrasah), yaitu melalui koordinasi dan sinkronisasi program madrasah dengan orang tua, majelis madrasah, masyarakat dan pemerintah.
Melalui strategi substansial, maka pengembangan madrasah akan berbasis pada kesatuan visi, misi dan tujuan madrasah yang dijabarkan dalam program pendidikan dan diaplikasikan dalam bentuk muatan kurikulum, serta kegiatan intra dan ekstra kurikuler bagi siswa. Strategi substansial ini penting artinya, karena melalui strategi ini madrasah diharapkan dapat menunjukkan spesifikasi dan keunggulan yang secara khusus dimiliki dengan mengembangkan model penyelenggaraan pendidikan berwawasan khusus di madrasah dalam konteks life skill dan berwawasan bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris).
D. Reformasi Madrasah Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan
Reformasi berarti perubahan dengan melihat keperluan masa depan, menekankan kembali pada bentuk asal, berbuat lebih baik dengan menghentikan penyimpangan-penyimpangan dan praktik yang salah atau memperkenalkan prosedur yang lebih baik, suatu perombakan menyeluruh dari suatu sistem kehidupan dalam politik, ekonomi, hukum, sosial termasuk pendidikan.
Dengan demikian, dapat dikemukakan beberapa karakteristik reformasi dalam suatu bidang tertentu, yaitu adanya keadaan yang tidak memuaskan pada masa yang lalu, keinginan untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang, adanya perubahan besar-besaran, adanya orang yang melakukan (aktor) reformasi, adanya pemikiran atau ide-ide baru, adanya sistem dalam suatu institusi tertentu baik dalam skala kecil seperti madrasah maupun skala besar seperti negara. Di dalam upaya reformasi pendidikan, terdapat beberapa model yang ditawarkan diantaranya adalah Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah (Nurkolis, 2003: 32-33).
Reformasi pendidikan memiliki dua karakteristik dasar, yaitu terprogram dan sistemik. Reformasi pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan. Yang termasuk ke dalam reformasi terprogram ini adalah inovasi. Inovasi adalah tindakan memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan secara mencolok dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu yang diterapkan (Rich, 1988: 2).
Reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering kali terjadi di luar madrasah dan berada pada kekuatan sosial dan politik (Nurkolis, 2003: 35).
Menurut Bacharach (1990: 1-5) reformasi pendidikan diibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian, yaitu akar, batang, cabang, dan daunnya. Akar reformasi merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk suksesnya reformasi pendidikan harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Tanpa mempedulikan cara dan kebiasaan warganya maka reformasi pendidikan tidak akan mendapatkan sambutan apalagi dukungan dari segenap lapisan masyarakat. Yang paling penting penerapan Manajemen Berbasis Madrasah selalu memperhatikan latar belakang dan sejarah pendidikan di negara yang bersangkutan dan kondisi spesifik masyarakatnya.
Batang reformasinya adalah berupa mandat dari pemerintah, baik berupa standar, struktur, dan tujuannya. Dalam hal ini yang muncul adalah masalah akuntabilitas dan kinerja sebagai prioritas utama. Standar dan tujuan diadakannya reformasi harus jelas, karena tanpa reformasi hanyalah sekedar upaya untuk berubah tanpa makna. Dalam konteks ini hal terpenting lain adalah adanya akuntabilitas dan transparansi untuk mengukur kemajuan reformasi yang dijalankan.
Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah manajemen lokal (on-site management), pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Cabang reformasi ini menyangkut peningkatan kemampuan dan profesionalisme para pelaksana pendidikan, para pengelola pendidikan di daerah dan di madrasah itu sendiri.
Daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi madrasah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Bagian daun ini juga dekat dengan bagian akar, yaitu budaya dan kebiasaan hidup masyarakat setempat. Keempat bagian ini saling terkait dan tergantung, artinya apabila salah satu bagian tidak maksimal dalam perannya maka dapat mengganggu jalannya upaya reformasi pendidikan di madrasah.
Madrasah merupakan mini society yang terdiri dari 3 level, yaitu: level kelas (regulator), level mediator (profesi), dan level madrasah (manajemen). Dalam rangka meningkatkan pendidikan yang bermutu maka reformasi pendidikan di madrasah merupakan sudah keharusan. Adapun poin-poin reformasi pendidikan di madrasah adalah sebagai berikut:
a. pada level kelas (regulator): (1) mewujudkan proses pembelajaran efektitif dengan menekankan hakekat belajar yang sebenarnya (learning to know, learning to be, learning to do dan learning to life together); (2) menerapkan sistem evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
b. Pada level mediator (profesi): (1) melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan madrasah yang kuat; (2) melaksanakan pengembangan karyawan yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
c. Pada level madrasah (manajemen): (1) menumbuhkan komitmen untuk mandiri; (2) mengutamakan customer satisfation; (3) menumbuhkan sikap yang responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan; (4) menciptakan lingkungan madrasah yang safe and orderly; (5) menumbuhkan budaya mutu di lingkungan madrasah; (6) menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi; (7) menumbuhkan kemauan untuk berubah; (8) mengembangkan komunikasi yang baik; (9) mewujudkan team work yang kompak, cerdas dan dinamis; (10) melaksanakan keterbukaan (transparansi manajemen); (11) menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi madrasah (clarity of purpose); (12) melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif; (13) meningkatkan partisipasi warga madrasah dan masyarakat; dan (14) menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat (As’ad, 2006: 27-28).
E. Peningkatan Mutu Pendidikan Madrasah melalui Manajemen Berbasis Madrasah
Mutu atau kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat karena mutu pendidikan yang diinginkan tidak akan terjadi begitu saja. Mutu yang diinginkan tersebut harus direncanakan. Mutu perlu menjadi bagian penting dalam strategi sebuah institusi dan untuk meraihnya wajib menggunakan pendekatan yang sistematis dengan menggunakan proses perencanaan yang matang. Perencanaan strategi merupakan salah satu bagian dalam upaya peningkatan mutu (Rohiat, 2008: 52).
Menurut Sallis dalam (Nurkolis, 2003: 67) kualitas memiliki dua konsep yang berbeda antara konsep absolut dan relatif. Dalam konsep absolut sesuatu barang disebut berkualitas bila memenuhi standar tertinggi dan sempurna. Artinya, barang tersebut sudah tidak ada yang melebihi. Dalam konsep ini kualitas mirip dengan suatu kebaikan, kecantikan, kepercayaan yang ideal tanpa ada kompromi. Kualitas dalam makna absolut adalah yang terbaik, tercantik, terpercaya. Bila dipraktikan dalam dunia pendidikan konsep kualitas absolut ini bersifat elitis karena hanya sedikit lembaga pendidikan yang akan mampu menawarkan kualitas tinggi kepada peserta didik dan hanya sedikit siswa yang akan mampu membayarnya
Sallis (1993: 107) menegaskan, “Quality does not just happen, it must be planned for. Quality need to be approach systematically using a rigorous strategic planning process. Strategic planning is one of the major planks to Total Quality Management. Without clear long-term direction the institution cannot plan fo quality improve”.
Mutu atau kualitas memiliki 13 karakteristik sebagai berikut:
1. Kinerja (performa): berkaitan dengan aspek fungsional madrasah. Misalnya: kinerja guru dalam mengajar baik, memberikan penjelasan meyakinkan, menyiapkan bahan pelajaran lengkap, pelayanan administratif tinggi dan edukatif madrasah baik yang ditandai hasil belajar tinggi.
2. Waktu wajar (timeliness), selesai dengan waktu yang wajar. Misalnya memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.
3. Handal (reliability): usia pelayanan prima bertahan lama. Misalnya, pelayanan prima yang diberikan madrasah bertahun dari tahun ke tahun, mutu madrasah tetap bertahan dari tahun ke tahun.
4. Daya tahan (durability): tahan banting. Misalnya: meskipun krisis moneter, madrasah masih tetap bertahan, tidak tutup.
5. Indah (estetics). Misalnya: eksterior dan interior madrasah ditata menarik. Taman ditanami bunga dan terpelihara dengan baik.
6. Hubungan manusiawi (personal interface): menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme. Misalnya, warga madrasah saling menghormati, baik warga intern maupun ekstern madrasah, demokratis dan menghargai profesionalisme.
7. Mudah penggunaannya (easy of use). Sarana dan prasarana dipakai. Misalnya, aturan-aturan madrasah mudah diterapkan. Buku-buku perpustakaan mudah dipinjam dan dikembalikan tepat waktu.
8. Bentuk khusus (feature): keunggulan tertentu. Misalnya: madrasah ada yang unggul dengan hampir semua lulusannya diterima di universitas bermutu. Unggul dengan bahasa inggrisnya. Unggul dengan penguasaan teknologi informasinya (komputerisasi). Ada yang unggul dengan karya ilmiah kesenian atau olah raga.
9. Standar tertentu (conformance to specification): memenuhi standar tertentu. Misalnya: madrasah sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), madrasah sudah memenuhi standar minimal ujian nasional atau madrasah sudah memenuhi ISO 9001:2000 atau madrasah sudah memenuhi TOEFL dengan skor 650.
10. Konsistensi (consistency): keajegan, konstan, atau stabil. Misalnya: mutu madrasah dari dahulu sampai sekarang tidak menurun seperti harus mengatrol nilai siswa-siswanya. Warga madrasah konsisten antara perkataan dengan perbuatan. Apabila berkata tidak berbohong, apabila berjanji ditepati, dan apabila dipercaya tidak menghianati.
11. Seragam (uniformity): tanpa variasi, tidak tercampur. Misalnya: madrasah menyeragamkan pakaian sekolah dan pakaian dinas. Madrasah melaksanakan aturan, tidak pandang bulu atau pilih kasih.
12. Mampu melayani (serviceability): mampu memberikan pelayanan prima. Misalnya: madrasah menyediakan kotak saran dan saran-saran yang masuk mampu dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Madrasah mampu mamberikan pelayanan primanya kepada pelanggan madrasah sehingga semua pelanggan merasa puas
13. Ketepatan (acuracy): ketepatan dalam pelayanan. Misalnya: madrasah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan madrasah, guru-guru tidak salah dalam menilai siswa-siswanya. Semua warga madrasah bekerja dengan teliti. Jam belajar di madrasah berlangsung tepat waktu.
Mutu meliputi: (1) mutu produk, (2) mutu biaya, (3) mutu penyerahan, (4) mutu keselamatan, dan (5) mutu semangat/moril. Mutu memiliki tingkatan, mulai tingkatan yang paling rendah, yaitu 1) inspeksi menjaga mutu dengan ketelitian pengawas, 2) Quality Control menjaga mutu dengan pendeteksian, 3) Quality Approach menjaga mutu dengan cara pencegahan, 4) Total Qualiaty Management menjaga mutu dengan cara terus menerus (Usman, 2006: 411 - 413).
Dalam rangka mengimplementasikan konsep Peningkatan Mutu Pendidikan di Madrasah melalui Manajemen Berbasis Madrasah, maka perlu ada partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan madrasah dengan melakukan beberapa tahapan sebagai berikut :
• Penyusunan basis data dan profil madrasah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.
• Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya madrasah, personil madrasah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
• Berdasarkan analisis tersebut pengelola madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan madrasah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengelolaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
• Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannya). Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan nilai UAN rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dan sebagainya). Program madrasah yang disusun bersama-sama antara pihak madrasah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu madrasah dan madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.
Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksanakan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program madrasah, oleh karena itu pihak madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program madrasah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan telah juga disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus manajemen berbasis madrasah ini adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program madrasah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan (Umaedi, 2009: th).
Kesimpulan/Penutup
Model Manajemen Berbasis Madrasah prinsip dasarnya merupakan kebebasan untuk memilih (freedom of choice) dan membutuhkan kecerdasan, yaitu memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas dan mampu melihat fenomena, bukan seberapa besar kemampuan menghimpun dana atau kekayaan madrasah. Format Manajemen Berbasis Madrasah adalah “back to basic educatioan”, yaitu kembali ke jati diri pendidikan sebagai proses penanaman nilai (value) kemanusiaan yang baik serta memanusiakan manusia oleh manusia. Program Manajemen Berbasis Madrasah bukanlah pemindahan tanggung jawab anggaran dari pemerintah ke masyarakat, tetapi sebagai upaya peningkatan mutu secara terus menerus dengan kewenangan madrasah yang tetap penuh dan profesional.
Strategi pengembangan madrasah agar bermutu melalui manajemen berbasis madrasah dapat dilakukan dengan metode top down (dari atas ke bawah) yang dalam hal ini membutuhkan adanya political will dari pemerintah, disamping juga perlu strategi bottom up (dari bawah ke atas) yang datangnya dari masyarakat dan madrasah sebagai kebutuhan akan mutu pendidikan. Madrasah yang mampu harus membiayai dirinya sendiri, sedangkan yang tidak mampu harus menjadi tanggung jawab pemerintah. Meskipun demikian, manajemen berbasis madrasah mengukuhkan standar pelayanan dengan memperhatikan di mana madrasah berada dan menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat serta pemerintahannya.
Daftar Pustaka
As’ad, Asmawatie Rosyidah. 2006, School of Reform: Menuju Madrasah Efektif, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Bacharach, Samuel B., 1990, Education Reform: Making Sense of It All, Massachusetts: Allyn dan Bacon,
Jones, G.R., 1995. Organizational Theory: Texts and Cases, Massachusets: Addision Wesley Company.
Mulyasa, E. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Rich, John Martin. 1988. Innovation in Education: Reformer and Their Critics. Massachusetts: Allyn dan Bacon, Incc.
Rohiat. 2008. Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik. Bandung: Refika Aditama.
Romlah. 2006. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui Pemberdayaan Manajemen dan Kepemimpinan di MAN Malang I, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Sagala, Syaiful. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: Nimas Multima.
Sallis, Edward. 1993. Total Quality Management in Education. Philadelphia: Diddles Ltd, Guilford, and King’s Lynn.
Umaedi, 1999, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah: Sebuah Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Madrasah untuk Peningkatan Mutu, (Online) (http://www.ssep.net/director.html, diakses 7 Mei 2009).
Usman, Husaini. 2006. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Langganan:
Komentar (Atom)